"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...
Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna
Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca.
SEKEPING HATI YANG TERSERAK
Orientasi mahasiswa baru memang
mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin. Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka
berasal dari daerah yang berbeda. Dan aku
termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia
kawan. Waktu itu, aku harus mengurus
administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas
terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus
administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia
orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja
tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku
sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita
diberi tugas seabrek. Aku dan
teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga
selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas
tambahan. Bayangkan saja. Tugas yang
utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang
orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku
dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya
orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya
tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta
memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan
masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan
yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami
selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat
pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju
Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik
yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu
memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko.
Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal. Seuntai gelang dan gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu
rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat
berbelanja sekaligus refreshing bagi
warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita
bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi
wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya
begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku
di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta
kursi untuk duduk. Tempat itu menjadi favorit
sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh
dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan
ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu
orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan
terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus.
Hanya ada satu meja yang belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi
soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan
sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan
menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.
***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia
mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan
satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat
pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik
masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku
lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut
pelatihan Organisasi itu. Disana
mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus
itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya,
aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.
Namun selang beberapa waktu, aku malah
terjung mengikuti ajakan Gita. Aku tak tahu apa otakku sudah kusut. Padahal
dari awal aku sudah tak merasa nyaman. Aku serasa memasuki dunia asing. Dunia
yang sebenarnya bertolak belakang dengan keinginan hatiku. Aku benar-benar tak
mengerti dengan diriku. Gita yang lebih dulu bergabung menyakinkanku bahwa ini
akan mengasyikkan. Baiklah. Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin aku jilat
ludahku sendiri. Aku berharap. Apa yang dikatakan Gita itu benar. Ku ajak Dian
bersamaku. Tapi sepertinya, dia lebih berpendirian daripada aku.
Hari pertama aku bergabung dengan mereka, aku dihadapkan
pada sesuatu yang benar-benar baru. Anggota baru harus mengikuti serangkaian
kegiatan dasar sebagai syarat masuk ke organisasi itu. Yang paling membuatku
nggak nyaman adalah ada beberapa agenda kegiatan yang mengajak untuk berdiskusi
di depan banyak orang. Aku paling anti dengan yang namanya “bicara di depan
umum”. Aku tak bisa melakukannya. Aku lebih suka bicara dari hati ke hati
dengan satu atau dua orang. Tapi, aku sudah terlanjur berada di sana. Aku
mendengarkan ketika Pembicara mulai menjelaskan tentang organisasi mereka, arti organisasi secara
umum, bagaimana berorganisasi dan lain sebagainya. Ah, kenapa aku hanya bisa
diam. Aku tak seberani anggota baru yang lain. Mereka pintar sekali
mengutarakan pendapat dan berani bersuara. Aku ingin sekali menjadi seperti
mereka. Tapi , sungguh! Lidahku kelu. Keberanianku hanya sampai seujung kuku.
Bahkan aku tak tahu harus berpendapat seperti apa.
“Ini baru permulaan. Siapa tahu nanti aku
bisa seperti mereka.”gumamku menyemangati diri sendiri.
Hari demi hari ku lalui. Tak ada perubahan
yang berarti. Aku masih sama seperti sebelumnya. Meski Gita dan teman-teman di
organisasi itu menyemangatiku. Tapi,
sungguh! aku belum bisa seperti mereka. Aku bisa gila. Aku sekarang menjadi tak
nyaman jika bersama mereka. Aku menjadi tak percaya diri berada di
tengah-tengah mereka.
Aku bahkan berfikir: ”Apa aku keluar saja.
Aku tak pantas berada bersama kalian.”
Tapi, entah kenapa aku tak jua beranjak
pergi. Aku terus mengikuti kemana mereka melangkah. Aku tak tahu apa yang harus
ku lakukan.
Hubunganku dengan Dian juga jadi renggang.
Kami jadi jarang bertemu. Bahkan, aku menolak setiap kali ia mengajakku
jalan-jalan atau sekedar mampir ke kosnya. Ada perasaan menyesal dalam diriku
karena lebih mementingkan Organisasi daripada Dian. Aku terlanjur pindah ke
rumah kos tempat base camp para
anggota wanita mereka. Jadinya aku merasa tak enak jika harus ijin untuk tak mengikuti kegiatan organisasi
itu. Maafkan aku, Dian. Aku harap kamu bisa memahamiku.
***
Sekarang aku dan Dian sudah seperti orang asing.
Kami tak pernah jalan bersama lagi. Satu-satunya yang membuat kami bersama
adalah ketika berada dalam satu kelas. Dia sudah berteman akrab dengan teman
satu angkatanku yang lain. Sementara aku menjadi lebih terbiasa dengan Gita. Dalam
hati kecilku, aku masih berharap Dian ada bersama denganku sekarang. Tapi
situasinya saat ini sudah berbeda. Kami seperti berada di dunia yang berbeda. Apa
harus seperti ini akhirnya.
“Boleh aku duduk disini?”seru seorang mahasiswi
berkerudung biru muda.
Aku mengangguk.
“Siapa namamu? Boleh kenalan, ngga?”tanyanya.
Aku memandangnya.
“Boleh.”jawabku singkat.
“Namaku, Lina.”katanya sambil mengulurkan
tangannya.
Aku lalu menjabat tangannya.
“Dewi.”jawabku.
Itu adalah pertama kalinya aku bertemu
dengannya. Dia satu angkatan denganku. Dia kuliah di fakultas Biologi. Wajahnya
cantik dan pembawaannya ramah.
Selang dua hari, aku kembali bertemu
dengannya. Sejak saat itu kami jadi sering bertemu baik di Perpustakaan pusat
maupun di tempat yang lain di lingkungan kampus UGM. Padahal, kalau
dipikir-pikir UGM ini luas dibanding Universitas lain. Setiap kali bertemu, dia
selalu memegang minimal satu buku super tebal. Ketika aku tanyakan padanya, dia
hanya menjawab,”Biar terlihat kalau aku ini pintar.”
Aku mengernyitkan kening. “Apa kalau
memegang buku super itu berarti pintar?”
kataku. Dia hanya tertawa mendengar ucapanku.
Seiring waktu kami menjadi akrab satu sama
lain. Dalam beberapa kesempatan kami saling bertukar pikiran. Aku merasa nyaman
menyampaikan pemikiranku padanya. Bahkan, aku tak ragu curhat masalah pribadi dengannya.
Mungkin karena dia pribadi yang hangat. Dia banyak mendengarkan aku. Seperti
yang terjadi saat ini. Kami sekarang berada di Balairung UGM. Aku menceritakan
apa yang aku alami. Suasana yang teduh membuatku nyaman berbagi dengannya. Segala
keluh kesalku ia dengar. Tak sekalipun ia memotong ucapanku ketika aku bicara.
Dia baru bicara setelah aku puas mengutarakan semuanya. Entah kenapa setelahnya,
pikiranku menjadi lebih tenang. Ah, andai saja aku memiliki pribadi seperti
dia. Di usiaku yang sama dengan dirinya, kenapa aku belum bisa menjadi dewasa.
“Aku pulang dulu, Lin,”kataku.
“Baiklah. Aku juga ada janji dengan teman
kostku. Kami mau ke toko buku. Kalau kamu mau ikut, Ayo!”jawabnya.
“Tidak. Lain kali saja. Makasih, ya. Kamu
sudah mau mendengarkan aku,”
“Sama-sama..,biasanya juga seperti itu kan,”
“Hehehe...”
“O,ya.
Besok ke Perpus lagi ngga?”tanyanya
“InsyaAllah.”jawabku.
Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan
tempat itu. Aku menyusuri gang menuju rumah kosku. Aku menghentikan langkahku
begitu melihat penjual rujak es krim. Hemm..siang-siang begini enaknya memang
makan yang segar-segar. Aku memutuskan membeli dua porsi. Siapa tahu ada teman
kosku yang mau. Sesampai di dekat rumah kost-ku, aku mendengar banyak sekali
suara. Aku sedikit mengintip. Ada Pengurus Organisasi sedang berbincang dengan
teman-teman kost-ku di teras. Sepertinya mereka sedang berdiskusi tentang suatu
hal. Aku jadi ragu untuk masuk. Apa yang harus ku lakukan. Ah! Sudah kepalang
tanggung. Badanku juga sudah lelah. Dan rujak es krim di tasku sudah menanti
untuk di makan. Tak mungkin aku putar balik. Aku memberanikan diri masuk.
Mereka gembira melihat kedatanganku. Beberapa dari mereka menyapaku. Aku minta
permisi untuk masuk. Namun, mereka menahanku dan memintaku untuk bergabung
dengan mereka. Ada rasa canggung dalam diriku. Untuk apa aku berada di sana.
Aku kan bukan pengurus. Namun akhirnya, aku ikuti permintaan mereka. Beberapa
saat berada disana, rasanya aku ingin menghilang.
“Untuk apa aku disini kalau aku hanya bisa
sebagai pendengar.”gumamku dalam hati.
Ku putuskan untuk masuk dengan alasan mau
istirahat. Setelah sampai di dalam, ada perasaan lega di hatiku. Di hadapkan
pada persoalan yang sama seperti ini membuat hatiku kembali kacau. Kenapa aku
masih saja sama seperti sebelumnya. Aku tak bisa seperti mereka.
Ku banting tubuhku di kasur. Ku pejamkan
mataku. Keadaanku sekarang begitu menyedihkan. Aku berada dalam kebingungan. Aku
benar-benar kesal. Mau sampai kapan aku seperti ini. Aku lalu teringat rujak es
krim yang ku beli. Aku lalu melangkah ke dapur dan mengambil dua buah mangkok.
Se porsi rujak es krim aku buka dari pembungkusnya. Sedangkan satunya lagi ku
letakkan di atas mangkok yang satunya. Dingin
dan lezatnya rujak es krim itu sedikit mengurangi kegalauan hatiku.
***
Bus Jalur 7 yang aku tumpangi dari depan Toko buku
Toga Mas tadi melaju pelan dan berbelok ke arah Kampus UGM. Ketika bus sampai
di dekat perpustakaan, aku meminta turun. Aku sedikit berjalan untuk sampai ke
Gedung Perpustakaan Pusat. Beberapa buku tebal di tas ranselku sudah sejak tadi
membuat pundakku kebas. Aku mendesah. Aku teringat laporan praktikumku yang
antri untuk di kerjakan. Sungguh! Dua bulan ini rasanya kepalaku seperti
diaduk. Pandangan mataku menjelajah ke segala arah. Aku mencari sosok yang
aku kenal. Dia adalah Lina. Sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengannya. Kesibukan
kuliah dan praktikumku yang padat. Ditambah lagi aku harus mengikuti kegiatan
keorganisasian, membuatku tak sempat menjenguk ke kost-annya.
"Rin! Buru-buru amat sampai
tidak lihat orang disekitarmu,"sapa seorang perempuan yang membuat langkahku
terhenti. Lina memang lebih suka memanggilku dengan nama Rini. Sebelum bertemu
denganku, dia lebih dulu berteman dengan seseorang yang bernama Dewi juga.
"Lina!"jawabku
sedikit kaget.
“Maaf. Perasaan aku tadi tak melihatmu
disekitar sini,”kataku lagi
"Tak apa. Mau ke lantai dua,
kan?"tanyanya sambil melihat dua buku tebal yang baru aku keluarkan.
Aku mengangguk.
“Lama tak kelihatan,”kataku sambil
berjalan di tangga gedung.
“Iya. Ada banyak tugas yang harus aku kerjakan.”katanya.
“O...,”kataku manggut-manggut.
"Masih ngekos di Gria
Ayu?"tanyanya
Aku mengangguk.
"Masih betah, ya?"
Aku hanya tersenyum.
"Rin!"serunya
"Apa,"jawabku pelan
"Kamu ngekos di tempatku saja.
Kebetulan kamar di sebelahku sudah kosong,"
"E..,nanti ku pikirkan."
"Jangan bilang kalau kamu tak enak
dengan mereka,"katanya.
Aku tersenyum.
"Sudahlah! Kamu pindah saja. Memang
kamu mau tertekan terus. Sudah saatnya kamu pergi. Kalau kamu tinggal lebih
lama, kamu akan tetap seperti ini. Berteman dengan orang-orang yang pandai
berwacana itu bagus. Tapi kamu jangan membohongi dirimu terus. Seorang sepertimu
akan sulit bila harus menjadi seperti mereka. Aku tahu siapa kamu. Daripada
memaksakan diri, lebih baik kamu fokus pada sesuatu hal yang membuat kamu suka.
Kamu tak akan sukses jika terus menerus memaksakan diri,"
Aku mendesah.
"Aku tahu. Aku tak bisa seperti
mereka. Sekuat apapun aku mencoba, aku tetap tak bisa. Tapi setidaknya, banyak yang
bisa aku pelajari dari kebersamaanku bersama mereka,"jawabku.
"Memangnya apa yang kamu pelajari?”
“Ya, banyak. Dulu aku tidak suka baca
buku, sekarang aku jadi suka banyak buku.”jawabku.
“Hanya itu?”tanyanya ingin tahu.
“Ya...,pokoknya banyak. Ah! Sudahlah.
Jangan ngomongin itu lagi.”jawabku putus asa. Lina tersenyum sinis. Aku hanya
tersenyum kecut melihatnya.
“Bukannya apa-apa. Kamu masih sibuk
menjadi seperti mereka. Padahal untuk orang seperti kamu itu susah. Jangan
memaksakan diri, Rin. Yah, aku tahu. Sekarang
kamu memang ada perkembangan. Kamu menjadi
sedikit berani bicara di depan umum. Tapi tetap saja kamu tertekan, kan?"
Dalam hati aku meng”iya”kan perkataan Lina.
Di Forum yang kecil mungkin aku bisa bersuara tapi kalau sudah di Forum yang
besar. Aku menjadi mati kutu lagi.
"Ah! Sudahlah, Lin! Aku pusing."kataku
menyerah.
"Baiklah. Terserah kau saja lah! Jangan
salahkan aku jika kamu semakin terpuruk."katanya kesal.
Aku tak mampu lagi bersuara. Aku terpukul
mendengar ucapannya. Apa dia sudah lelah dengan sikapku yang keras kepala. Aku
jadi bad mood. Kalau ditanya “kenapa
aku masih bertahan bersama mereka ?”
Mungkin, ada kenyamanan lain yang mungkin
tak ku dapatkan di tempat lain. Aku selalu merindukan kebersamaanku bersama
mereka diluar kegiatan keorganisasian. Melepaskan semuanya. Kembali menjadi
biasa lagi tanpa harus berfikir tentang apa yang namanya wacana dan lainnya. Tak
ada ketegangan di setiap forum yang ku
ikuti. Aku tak perlu memaksakan diri untuk bersuara di depan umum. Saat-saat
seperti itu yang paling membuatku nyaman bersama mereka. Bercanda tawa bersama.
Meski ada banyak hal pribadi yang membuatku tak bisa ku bagi dengan mereka. Dan
hal itu hanya bisa ku ceritakan pada seorang seperti Lina. Aku harap, ketika
aku pergi suatu hari nanti. Akan ada kenangan manis yang akan membekas dihatiku.
Bukan hanya kenangan buruk saja.
***
“Nanti
ikut kan, Wi? Ada pertemuan jam delapan malam!”seru Gita.
“Rapat organisasi lagi.”gumamku dalam
hati.
“InsyaAllah.”jawabku singkat.
“Oke. Nanti aku tunggu di sana, ya,”
Aku hanya tersenyum mengangguk. Aku
mendesah. Sesungguhnya aku tak mau datang kesana. Bukan karena aku tak ingin
bertemu dengan mereka. Itu lebih karena ada forum diskusi. Itu berarti aku
harus memaksa diriku untuk ikut berbicara. Kan malu, kalau setiap diskusi tentang
suatu hal aku selalu diam saja. Ini benar-benar menyiksaku.
Dengan perasaan berat aku melangkahkan
kakiku menuju tempat itu. Sudah ada beberapa orang disana. Sungguh! Berada di
sana membuat kepercayaan diriku runtuh. Bahkan aku sampai berkali-kali berkata
pada diriku kalau aku tak pantas berada ditengah-tengah mereka. Aku merasa
orang paling menyedihkan di dunia. Mengasihani diriku sendiri bahwa aku tak
cukup mampu berjuang, agar aku bisa keluar dari sikap diamku.
Rapat di mulai. Mereka begitu leluasa
mengemukakan pendapat tentang persoalan yang dihadapi dalam organisasi itu. Lagi-lagi
aku hanya sebagai pendengar. Terhitung hanya sekali aku melontarkan pendapat.
Itupun harus berjuang keras untuk menata suara dan hati agar bisa berbicara.
Meski di benakku rasanya sudah tertata rapi.
Namun yang keluar dari mulutku justru tak sesuai harapan. Aku hanya bisa
menyalahkan diri sendiri. Aku benci diriku yang seperti ini.
***
Haruskah aku sesali apa yang terjadi. Selama
hidupku aku tak akan pernah melupakan kejadian yang aku alami. Kejadian yang begitu menyakitkan. Mungkin
selama hidupku, kenangan itu akan selalu membekas dihatiku.
“Dari awal aku tidak suka ketika kamu
melihat laporanku. Makanya aku ubah laporanku. Tapi ketika aku sudah merubah
laporanku, kenapa sekarang kamu juga
mengikuti laporan yang aku buat! Apa kamu tidak punya pendirian! Apa kamu tidak
punya inisiatif sendiri!”kata Sila menahan marah.
Aku bingung bercampur kesal. Aku akui. Di awal laporan, aku memang mencontoh
laporannya. Itu karena aku tak tahu
bagaimana membuat proposal tugas akhir. Tapi justru itu yang membuat Dosen
pembimbingku marah besar. Dosen pembimbingku lah yang menyarankanku, agar aku
menjadi diri sendiri. Beliau juga memberiku beberapa alternatif pilihan tema
Proposal. Dan aku memilih tema yang sekarang aku buat. Sungguh! Aku tidak tahu
kalau Sila juga membuat tema yang sama. Ya, Rabb...kenapa tak ada kata-kata
yang keluar dari mulutku. Seharusnya aku membela diri dan berkata kalau aku tak
salah. Aku tak mampu berdebat dengannya. Aku tak tahu caranya membela diri.
Teman-teman kostku tak ada satu pun yang
membelaku. Mereka semua seolah kompak bersikap kalau aku yang salah. Bahkan
Gita, teman akrabku di kost itu juga berpendapat sama. Aku benar-benar sedih
dan terpojok. Sila memang pintar. Dia melobi sendiri ke Perusahaan itu dan
menentukan tema proposal yang akan dia buat tentang perusahaan itu. Berbeda
dengan aku dan Gita yang akan datang pada saat hari H. Kalau seperti ini
akhirnya, aku menyesal mengijinkannya untuk ikut melakukan studi tugas akhir di
tempat yang aku dan Gita telah setujui. Bukankah aku dan Gita duluan yang mendapat
persetujuan dari Perusahaan itu. Hanya karena dia di tolak oleh perusahaan yang
ia pilih, dia meminta ijin padaku dan Gita untuk ikut melakukan studi ke
perusahaan yang sama. Sungguh! ini berat bagiku. Aku harus ubah tema tugas
akhirku. Biarpun nanti aku harus siap di marahi lagi oleh Dosen pembimbingku. Aku
benar-benar frustasi. Aku benar-benar bingung mau membuat tema seperti apa
lagi. Tapi lagi-lagi, semua ini hanya bisa aku simpan sendiri.
Aku semakin tertekan begitu mengetahui kalau dia mengasingkan diri
ke kos temannya, agar fokus pada tugas akhirnya. Ya, Allah...apa dia
melakukannya karena takut aku meniru hasil karyanya. Aku benar-benar sakit
hati. Sungguh! Tak ada niatku untuk menirunya. Apa dia meremehkanku. Saat ini
segalanya berjalan tak mengenakkan. Sila baru kembali ke rumah kos kami begitu tugas
akhirnya selesai. Ada rasa canggung diantara kami. Saat tugas akhirku selesai,
salah seorang dari anggota organisasiku justru berkata kalau laporan yang aku
buat itu terlalu biasa dan tak ada manfaatnya. Aku rasanya ingin menangis. Tapi
tak apa. Toh, Dosen pembimbingku sudah menyetujuinya. Aku hanya ingin lulus dan
keluar dari ini semua.
Dalam keadaan kembali “normal” lagi, aku
harus dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya sepele. Namun itu sungguh mempengaruhiku. Berawal
dari tulisan seorang anggota organisasi yang lain. Namanya Hilman. Dia menulis di buku tamu yang seolah di
tujukan padaku. Entah kenapa itu menjadi gosip yang hangat di kosku. Dan
bodohnya aku, kenapa aku mengomentari tulisannya. Hal itulah yang semakin
memunculkan kesalahpahaman. Aku jadi
menyesal kenapa waktu itu aku mengomentari tulisan Hilman. Gosip itu semakin
menyebar. Suasana tak mengenakkan pun terjadi. Aku menjadi lebih tak nyaman
lagi berada disana. Dalam banyak kesempatan kumpul bersama teman-teman kosku, mereka
bergantian menggodaku. Aku bingung harus
bagaimana. Ini sungguh kisah percintaan
yang salah sasaran.
Suatu ketika Hilman kecelakaan. Pada suatu
malam aku menelphon Lina karena ada hal penting yang harus ku sampaikan. Aku tak bisa menunda sampai besok. Setelah
selesai aku berjalan keluar dari wartel. Tapi ketika mencapai pintu, aku
teringat Hilman yang kecelakaan. Aku pikir, kenapa ngga sekalian saja aku
menelphon untuk menanyakan kabarnya. Aku lalu menelphonnya tapi Hpnya tidak
aktif. Aku lalu bergegas keluar karena memang sudah terlalu malam. Setelah
keluar dan kembali ke kos, teman kosku tiba-tiba mengagetkanku dan menduga aku
meneiphon Hilman. Aku takut dia menduga yang bukan-bukan. Ya, aku bilang saja
kalau aku tidak menelphonnya. Ya, ampun...dalam keadaan seperti ini aku ingin
sekali melempar mereka semua jauh-jauh. Aku benar-benar kesal.
Pada suatu hari aku ikut menjenguk Hilman
kerumahnya. Aku hanya ingin tahu kondisinya. Apa ini ya, yang membuat mereka semakin
percaya kalau aku menyukai Hilman.
“Sudah
lega kan, mba,”kata Mia
“Rupanya ia masih salah paham padaku.
Mungkin di kiranya aku benar-benar menyukainya,”gumamku dalam hati.
“Dia itu begitu idealis. Kan kamu dengar
sendiri apa yang ia ucapkan. Mana mungkin aku dengannya.”jawabku agar ia tak
membahasnya lagi. Bukannya berhenti dia malah menawarkan aku opsi pria lain. Benar-benar
ni anak. Aku bilang aja kalau itu juga tak mungkin. Sejujurnya aku memang mengagumi
Hilman. Karena dia memiliki kharisma
sebagai seorang pemimpin. Tapi untuk ke arah lebih dari itu, rasanya tidak.
Buktinya, ketika Mia dan Hilman membicarakan wanita lain di depanku aku
anteng-anteng aja, tuh. Tak ada rasa cemburu sedikitpun. Saat kami mau pulang,
sikap Hilman jadi aneh. Apa karena sejak tadi dia melihatku cemberut saja. Ah!
Masa bodoh.
Pada kesempatan berbeda. Hilman menjadi
pembicara pada acara bedah buku di depan Balairung UGM. Kami satu kos yang
memang berada di organisasi yang sama, datang ke tempat itu. Suasana teduh dan
hamparan rumput menyambut kami.
“Assalamu’alaikum,”seru kami ketika
sampai.
“Wa’alaikum salam. Selamat datang,
Dewi,”seru Hilman menyambut kami. Teman-teman kos ku protes kenapa hanya aku
yang disambut. Aku melengos. Mulai lagi. Apa mereka tak sadar kalau aku jalan
di depan. Tak salah dong kalau Hilman menyambutku duluan.
Salah satu teman kosku menggoda kami.
Hilman yang menyanggah kemudian melihat ekspresiku. Kenapa Sikap Hilman menjadi
aneh. Apa ia mengira aku benar-benar menyukainya. Aku tahu dia tidak
menyukaiku. Ekspresinya itu seperti dia menaruh curiga padaku. Seandainya saja
ia tahu kalau di hatiku sudah terisi pria lain. Pria itu begitu aku kagumi. Namanya
Rudi. Aku pertama bertemu dengannya ketika berada di perpustakaan pusat. Lina
yang mengenalkannya padaku. Aku benar-benar tak berani mengungkapkannya pada
mereka.
Ketika pulang dari acara bedah buku, aku
masih bad mood. Aku cemberut sepanjang
jalan. Aku hampir tak menghiraukan mereka yang ngobrol meskipun aku berjalan
bersama mereka. Hanya sesekali aku menanggapi obrolan mereka. Itu pun kalau di
tanya saja.
***
“Aku
ingin tanya padamu. Kamu sebenarnya suka ngga sama Hilman?”tanya mba Rita
mengintrogasiku.
“Tidak.”jawabku.
“Benarkah?”katanya tak percaya. Dia terus
memaksaku. Aku bingung. Aku seperti dipaksa untuk bilang “ya”. Percuma saja aku
bilang "tidak" toh dia tak akan percaya. Karena jawaban yang ia inginkan adalah
“ya”. Aku seolah tak di beri pilihan. Oh! Tuhan. Tunjukkan padaku bagaimana aku
menjelaskannya.
“Iya.”
Itu jawaban konyol yang spontan keluar
dari mulutku.
Aku hanya ingin dia mengakhiri
interogasinya. Kalau aku terus berkata “tidak”, dia pasti tak akan berhenti
menanyaiku. Dia janji untuk tidak membocorkannya pada yang lain. Aku
mempercayainya. Aku mentertawai diriku sendiri. Ada sedikit rasa sesal dalam
diriku kenapa aku harus berbohong. Aku hanya berharap, hal ini selesai dan
tidak menjadi panjang lagi. Tapi aku salah, semuanya justru menjadi kacau.
Semua orang tahu. Aku jadi kesal pada mba Rita. Dia tak bisa pegang janji. Tapi
lagi-lagi aku hanya bisa simpan kedongkolanku dalam hati. Apa aku harus membuat
pengakuan bahwa aku menyukai pria lain. Tapi tak bisa. Sejujurnya aku juga belum tahu apakah Rudi juga
menyukaiku atau tidak. Aku takut kalau aku bicara, segalanya malah menjadi
kacau seperti sekarang.
Suasana tak mengenakkan menular di base camp organisasi putra. Sungguh! aku
seperti kotoran di hadapan mereka. Mereka kompak menunjukkan sikap tak sukanya
padaku. Mereka seolah merendahkanku. Mengangap remeh aku. Haruskah aku mengalami perlakuan seperti ini.
Meski mereka tidak secara terang-terangkan menunjukkannya. Tapi aku juga
memiliki perasaan. Sikap yang ditunjukkan
mereka padaku sangat jelas. Aku benar-benar bisa gila. Aku di buat
seperti di titik terendah.
“Aku
menyesal telah mengenal kalian semua.”
Itu kalimat frustasi yang aku tulis di
buku tamu mereka. Aku benar-benar ingin menumpahkan kekesalanku. Hanya karena
hal sekecil ini kalian menjauhiku. Dimana ucapan berwacana yang kalian
tunjukkan setiap kali berdiskusi. Apa itu hanya ucapan di mulut saja. Aku butuh
dukungan, bukan “pengusiran”.
Aku tak menyalahkan Hilman karena dia tak
tahu apa-apa. Walau setiap kali bertemu, aku harus mengelus dada dengan sikap yang
ia tunjukkan padaku.
***
“Ini Dewi, kan.”seru Hilman di ujung telphon.
Dia lalu memutus sambungan telphonnya
sebelum aku menjawabnya. Apa karena kemarin aku miscall dia makanya dia
menelphonku. Lagian yang aku miscall ngga hanya nomor dia. Kenapa dia harus
kesal.
“Apa aku membuat kesalahan lagi?”gumamku.
“Kamu pikir hanya kamu aja yang aku
miscall!”gumamku kesal.
Aku teringat akan Lina yang memukulku
habis-habisan saking gemasnya karena ku kerjain. Aku miscall Hpnya beberapa kali. Setelah di angkat, Hpku langsung aku
matikan. Karena diantara kami memang tak
memiliki perasaan apa-apa. Makanya aku iseng miscal dia dan semua temanku yang
tak mengetahui nomor telphonku. Aku tak tahu jika kejahilanku justru makin membuat
Hilman semakin menjauh. Semuanya ku ketahui ketika malam sebelum wisuda. Waktu
itu ada acara perhargaan bagi para calon wisudawan. Para undangan yang hadir
diantaranya adalah para mahasiswa yang akan di wisuda, para wali mahasiswa,
dosen, dekan dan perwakilan dari badan eksekutif mahasiswa. Hilman yang
merupakan bagian dari BEM datang. Ketika tiba saat jabat tangan dengan
mahasiswa yang di wisuda, sikap antipati yang ia tunjukkan padaku begitu
membuatku sedih. Rupanya ia masih mengira aku benar-benar menyukainya. Haruskah
hubungan silaturahmi yang terjalin dengan baik ini harus terkotori oleh masalah
seperti ini. Besok adalah hari dimana aku di Wisuda. Haruskah aku mengalami hal
tak mengenakkan ini. Ini benar-benar wisuda kelabu.
Itu semua tidaklah cukup. Semuanya masih berlanjut
ketika aku bekerja di rental komputer. Suatu hari ia datang bersama Mas Ali
yang merupakan senior di Organisasi itu. Kebetulan waktu itu aku bekerja
bersama Gita.
“Sedang nulis apa?”tanya Mas Ali padaku.
Aku tak ingin ia melihat tulisanku. Makanya
aku cepat-cepat menutupinya dengan tanganku.
Mereka lalu bicara dengan Gita. Sementara
aku asyik menulis sendiri. Percuma aku nimbrung. Toh! Aku tak bisa bicara lepas
dengan mereka. Makanya aku memilih untuk meneruskan tulisanku. Karena saking
asyiknya menulis, aku tak mendengar kalau mereka pamit pergi. Aku baru sadar
ketika mereka sudah sampai depan Rental. Aku jadi menyesal. Aku lihat Mas Ali
tersenyum aneh padaku.
“Maksudnya apa, sih?”gumamku dalam hati.
Aku tersadar.
“Oh! Apa dia berfikir saat ini aku sedang
cemburu?”
Apa
karena aku tadi diam saja. Makanya dia
jadi salah paham padaku. Aku diam karena ngga tahu harus bicara apa. Aku jadi
serba salah.
“Kamu manyun saja sih, Wi,”tanya Gita
menggodaku
“Apa! Bukannya setiap kali ngetik aku
seperti ini,ya.”jawabku.
Apa dia juga berpikir kalau aku cemburu
karena dia berbincang dengan Hilman. Agr! sampai kapan masalah ini akan
selesai. Apa aku harus menikah secepatnya biar semuanya kembali normal.
Benar-benar, deh. Aku jadi ingat Rudi. Sampai saat ini aku belum tahu
perasaannya padaku. Aku juga malu bicara tentang hal ini kepada Lina. Sikap
Rudi itu samar-samar. Antara suka atau tidak. Apa aku yang mungkin terlalu
ke”ge-er”an? Kalau benar, kenapa dia selalu menitipkan salam padaku melalui
Lina. Kata Lina, dia sering menanyakan aku. Lina bahkan meminta pendapatku soal
Rudi. Apa dia ingin tahu isi hatiku. Ah! Kenapa hatiku sekarang jadi berbunga-bunga.
***
Langit seolah mendukungku. Awan kelabu di
atas sana sama persis dengan suasana hatiku saat ini. Entah kenapa, masalah
yang ku hadapi seakan berjalan beriringan. Siang itu aku seperti ingin terjun
dari gedung tertinggi. Aku bagai di sambar petir di siang bolong. Aku mendengar
kabar dari Lina, kalau dia akan menikah dengan Rudi. Pria yang selama ini ada
di hatiku. Lina bahkan tak sekalipun menceritakan soal hubungannya dengan Rudi.
Aku benar-benar tak tahu apa-apa. Dunia serasa runtuh di depanku. Hatiku hancur.
Luka ini hanya bisa ku simpan sendirian tanpa bisa aku bagi lagi dengan siapa
pun. Aku merasa benar-benar sendirian. Kemana aku harus lari. Haruskah aku
membenci Lina. Tapi Lina tak salah apa-apa. Aku yang salah kenapa menyimpan
perasaan ini sendirian tanpa bercerita kepadanya. Jika aku menceritakannya,
mungkinkah ceritanya akan lain. Saat ini
aku hanya bisa menertawai diriku. Ternyata, kehidupan ini kurasakan begitu
getir. Aku hanya bisa pasrah. Aku tak punya keberanian bahkan untuk berteriak
sekalipun. Aku benar-benar tak bisa bersuara. Semua yang ingin ku lakukan hanya
bisa ku wujudkan dalam angan-angan. Haruskah aku mati saja.
***
Dua tahun lamanya, aku menjalani hariku
yang biasa. Segalanya berjalan dengan apa adanya. Hingga dalam masa pencarian
diriku, aku menemukannya. Hidup itu tak selamanya getir. Ada kalanya kita bisa
bahagia. Setidaknya itu yang kupelajari dari perjalanan hidupku. Aku menemukan
kebahagiaan itu pada seseorang dengan kesabaran luar biasa. Langkah kakinya begitu khas hingga tak sedikit yang
meledeknya. Tapi, sifat tulus dan penyabarnya itu yang membuatku jatuh cinta
padanya. Si penyabar itu sanggup menggantikan tempat Rudi di hatiku. Namanya
Rusli. Kami dipertemukan dalam satu perusahaan yang sama. Satu tahun yang lalu,
kami mengikat janji pernikahan. Dia adalah pribadi yang apa adanya. Dia lah penyemangat
hidupku. Saat ini, kami sedang membangun istana mimpi . Aku tahu, bayang-bayang
masa lalu itu tak akan terhapus begitu saja dari ingatanku. Tapi aku tak ingin
selamanya terpuruk. Suamiku yang
mendorongku untuk selalu bangkit. Kini, sudah saatnya aku melangkah. Aku tahu, percuma
menyesali apa yang telah terjadi. Aku harus fokus pada hal yang ingin ku raih.
Meski itu sulit, tapi aku harus bisa melakukannya. Aku sekarang tak lagi
sendiri. Ada dia yang akan berbagi suka dan duka denganku. Hari-hariku akan diisi
oleh warna pelangi yang akan membuat hidup kami lebih kuat dan berwarna.
Aku harus bisa melawan musuh terbesarku
yaitu diriku sendiri. Aku tak akan pernah menyesal berada bersama mereka.
Bersama mereka aku bisa belajar banyak hal. Meski itu hanya berupa celah kecil.
Itu cukup sebagai bekalku untuk berlari menjauhi dunia gelap yang selama
ini mengungkungku. Aku akan terus berlari mengejar mimpiku. Sesuatu yang
sebenarnya sudah ku temukan, hanya saja aku tak menyadarinya.
“Aku ingin menjadi seorang penulis dan
menerbitkan buku”
Itulah mimpi yang ingin kuraih. Aku
menemukan sesuatu yang berharga pada diriku yang layak untuk ku perjuangkan. Sila
yang pernah berselisih paham denganku lah yang sebenarnya melihat bakatku dalam
menulis. Di organisasi ekstra kampus itu memang ada wadah untuk mengembangkan tulisan. Waktu
itu aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk melihat orang lain. Hingga tak
bisa melihat diriku. Sekarang, aku tak akan memaksakan diri lagi menjadi
seperti yang lain. Aku memang tak bisa seperti mereka yang bisa bicara lepas di
depan umum. Aku ingin berbicara di depan umum dengan caraku. Melalui tulisan-tulisanku
aku menyuarakan isi hatiku. Bukan hanya untuk satu orang tapi kepada dunia. Bukankah
setiap manusia punya cara tersendiri untuk membuat dirinya berharga.
Aku
menemukannya
Terserak
diantara keping-keping hatiku
Mentari
itu masih menungguku.
Dalam
gelap dalam terang...
Aku
ingin terus berlari
Senyum
itu, aku ingin memilikinya
Tiada
hari yang panjang
Semuanya
berjalan di dalam-Nya
Hingga
senja itu tiba...
Segalanya
akan menjadi indah
Aku
menyelesaikannya...
Bandung, 06 januari 2014
SEKEPING HATI YANG TERSERAK
Orientasi mahasiswa baru memang
mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin. Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka
berasal dari daerah yang berbeda. Dan aku
termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia
kawan. Waktu itu, aku harus mengurus
administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas
terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus
administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia
orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja
tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku
sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita
diberi tugas seabrek. Aku dan
teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga
selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas
tambahan. Bayangkan saja. Tugas yang
utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang
orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku
dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya
orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya
tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta
memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan
masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan
yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami
selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat
pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju
Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik
yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu
memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko.
Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal. Seuntai gelang dan gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu
rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat
berbelanja sekaligus refreshing bagi
warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita
bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi
wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya
begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku
di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta
kursi untuk duduk. Tempat itu menjadi favorit
sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh
dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan
ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu
orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan
terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus.
Hanya ada satu meja yang belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi
soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan
sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan
menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.
***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia
mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan
satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat
pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik
masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku
lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut
pelatihan Organisasi itu. Disana
mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus
itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya,
aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.
Namun selang beberapa waktu, aku malah
terjung mengikuti ajakan Gita. Aku tak tahu apa otakku sudah kusut. Padahal
dari awal aku sudah tak merasa nyaman. Aku serasa memasuki dunia asing. Dunia
yang sebenarnya bertolak belakang dengan keinginan hatiku. Aku benar-benar tak
mengerti dengan diriku. Gita yang lebih dulu bergabung menyakinkanku bahwa ini
akan mengasyikkan. Baiklah. Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin aku jilat
ludahku sendiri. Aku berharap. Apa yang dikatakan Gita itu benar. Ku ajak Dian
bersamaku. Tapi sepertinya, dia lebih berpendirian daripada aku.
Hari pertama aku bergabung dengan mereka, aku dihadapkan
pada sesuatu yang benar-benar baru. Anggota baru harus mengikuti serangkaian
kegiatan dasar sebagai syarat masuk ke organisasi itu. Yang paling membuatku
nggak nyaman adalah ada beberapa agenda kegiatan yang mengajak untuk berdiskusi
di depan banyak orang. Aku paling anti dengan yang namanya “bicara di depan
umum”. Aku tak bisa melakukannya. Aku lebih suka bicara dari hati ke hati
dengan satu atau dua orang. Tapi, aku sudah terlanjur berada di sana. Aku
mendengarkan ketika Pembicara mulai menjelaskan tentang organisasi mereka, arti organisasi secara
umum, bagaimana berorganisasi dan lain sebagainya. Ah, kenapa aku hanya bisa
diam. Aku tak seberani anggota baru yang lain. Mereka pintar sekali
mengutarakan pendapat dan berani bersuara. Aku ingin sekali menjadi seperti
mereka. Tapi , sungguh! Lidahku kelu. Keberanianku hanya sampai seujung kuku.
Bahkan aku tak tahu harus berpendapat seperti apa.
“Ini baru permulaan. Siapa tahu nanti aku
bisa seperti mereka.”gumamku menyemangati diri sendiri.
Hari demi hari ku lalui. Tak ada perubahan
yang berarti. Aku masih sama seperti sebelumnya. Meski Gita dan teman-teman di
organisasi itu menyemangatiku. Tapi,
sungguh! aku belum bisa seperti mereka. Aku bisa gila. Aku sekarang menjadi tak
nyaman jika bersama mereka. Aku menjadi tak percaya diri berada di
tengah-tengah mereka.
Aku bahkan berfikir: ”Apa aku keluar saja.
Aku tak pantas berada bersama kalian.”
Tapi, entah kenapa aku tak jua beranjak
pergi. Aku terus mengikuti kemana mereka melangkah. Aku tak tahu apa yang harus
ku lakukan.
Hubunganku dengan Dian juga jadi renggang.
Kami jadi jarang bertemu. Bahkan, aku menolak setiap kali ia mengajakku
jalan-jalan atau sekedar mampir ke kosnya. Ada perasaan menyesal dalam diriku
karena lebih mementingkan Organisasi daripada Dian. Aku terlanjur pindah ke
rumah kos tempat base camp para
anggota wanita mereka. Jadinya aku merasa tak enak jika harus ijin untuk tak mengikuti kegiatan organisasi
itu. Maafkan aku, Dian. Aku harap kamu bisa memahamiku.
***
Sekarang aku dan Dian sudah seperti orang asing.
Kami tak pernah jalan bersama lagi. Satu-satunya yang membuat kami bersama
adalah ketika berada dalam satu kelas. Dia sudah berteman akrab dengan teman
satu angkatanku yang lain. Sementara aku menjadi lebih terbiasa dengan Gita. Dalam
hati kecilku, aku masih berharap Dian ada bersama denganku sekarang. Tapi
situasinya saat ini sudah berbeda. Kami seperti berada di dunia yang berbeda. Apa
harus seperti ini akhirnya.
“Boleh aku duduk disini?”seru seorang mahasiswi
berkerudung biru muda.
Aku mengangguk.
“Siapa namamu? Boleh kenalan, ngga?”tanyanya.
Aku memandangnya.
“Boleh.”jawabku singkat.
“Namaku, Lina.”katanya sambil mengulurkan
tangannya.
Aku lalu menjabat tangannya.
“Dewi.”jawabku.
Itu adalah pertama kalinya aku bertemu
dengannya. Dia satu angkatan denganku. Dia kuliah di fakultas Biologi. Wajahnya
cantik dan pembawaannya ramah.
Selang dua hari, aku kembali bertemu
dengannya. Sejak saat itu kami jadi sering bertemu baik di Perpustakaan pusat
maupun di tempat yang lain di lingkungan kampus UGM. Padahal, kalau
dipikir-pikir UGM ini luas dibanding Universitas lain. Setiap kali bertemu, dia
selalu memegang minimal satu buku super tebal. Ketika aku tanyakan padanya, dia
hanya menjawab,”Biar terlihat kalau aku ini pintar.”
Aku mengernyitkan kening. “Apa kalau
memegang buku super itu berarti pintar?”
kataku. Dia hanya tertawa mendengar ucapanku.
Seiring waktu kami menjadi akrab satu sama
lain. Dalam beberapa kesempatan kami saling bertukar pikiran. Aku merasa nyaman
menyampaikan pemikiranku padanya. Bahkan, aku tak ragu curhat masalah pribadi dengannya.
Mungkin karena dia pribadi yang hangat. Dia banyak mendengarkan aku. Seperti
yang terjadi saat ini. Kami sekarang berada di Balairung UGM. Aku menceritakan
apa yang aku alami. Suasana yang teduh membuatku nyaman berbagi dengannya. Segala
keluh kesalku ia dengar. Tak sekalipun ia memotong ucapanku ketika aku bicara.
Dia baru bicara setelah aku puas mengutarakan semuanya. Entah kenapa setelahnya,
pikiranku menjadi lebih tenang. Ah, andai saja aku memiliki pribadi seperti
dia. Di usiaku yang sama dengan dirinya, kenapa aku belum bisa menjadi dewasa.
“Aku pulang dulu, Lin,”kataku.
“Baiklah. Aku juga ada janji dengan teman
kostku. Kami mau ke toko buku. Kalau kamu mau ikut, Ayo!”jawabnya.
“Tidak. Lain kali saja. Makasih, ya. Kamu
sudah mau mendengarkan aku,”
“Sama-sama..,biasanya juga seperti itu kan,”
“Hehehe...”
“O,ya.
Besok ke Perpus lagi ngga?”tanyanya
“InsyaAllah.”jawabku.
Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan
tempat itu. Aku menyusuri gang menuju rumah kosku. Aku menghentikan langkahku
begitu melihat penjual rujak es krim. Hemm..siang-siang begini enaknya memang
makan yang segar-segar. Aku memutuskan membeli dua porsi. Siapa tahu ada teman
kosku yang mau. Sesampai di dekat rumah kost-ku, aku mendengar banyak sekali
suara. Aku sedikit mengintip. Ada Pengurus Organisasi sedang berbincang dengan
teman-teman kost-ku di teras. Sepertinya mereka sedang berdiskusi tentang suatu
hal. Aku jadi ragu untuk masuk. Apa yang harus ku lakukan. Ah! Sudah kepalang
tanggung. Badanku juga sudah lelah. Dan rujak es krim di tasku sudah menanti
untuk di makan. Tak mungkin aku putar balik. Aku memberanikan diri masuk.
Mereka gembira melihat kedatanganku. Beberapa dari mereka menyapaku. Aku minta
permisi untuk masuk. Namun, mereka menahanku dan memintaku untuk bergabung
dengan mereka. Ada rasa canggung dalam diriku. Untuk apa aku berada di sana.
Aku kan bukan pengurus. Namun akhirnya, aku ikuti permintaan mereka. Beberapa
saat berada disana, rasanya aku ingin menghilang.
“Untuk apa aku disini kalau aku hanya bisa
sebagai pendengar.”gumamku dalam hati.
Ku putuskan untuk masuk dengan alasan mau
istirahat. Setelah sampai di dalam, ada perasaan lega di hatiku. Di hadapkan
pada persoalan yang sama seperti ini membuat hatiku kembali kacau. Kenapa aku
masih saja sama seperti sebelumnya. Aku tak bisa seperti mereka.
Ku banting tubuhku di kasur. Ku pejamkan
mataku. Keadaanku sekarang begitu menyedihkan. Aku berada dalam kebingungan. Aku
benar-benar kesal. Mau sampai kapan aku seperti ini. Aku lalu teringat rujak es
krim yang ku beli. Aku lalu melangkah ke dapur dan mengambil dua buah mangkok.
Se porsi rujak es krim aku buka dari pembungkusnya. Sedangkan satunya lagi ku
letakkan di atas mangkok yang satunya. Dingin
dan lezatnya rujak es krim itu sedikit mengurangi kegalauan hatiku.
***
Bus Jalur 7 yang aku tumpangi dari depan Toko buku
Toga Mas tadi melaju pelan dan berbelok ke arah Kampus UGM. Ketika bus sampai
di dekat perpustakaan, aku meminta turun. Aku sedikit berjalan untuk sampai ke
Gedung Perpustakaan Pusat. Beberapa buku tebal di tas ranselku sudah sejak tadi
membuat pundakku kebas. Aku mendesah. Aku teringat laporan praktikumku yang
antri untuk di kerjakan. Sungguh! Dua bulan ini rasanya kepalaku seperti
diaduk. Pandangan mataku menjelajah ke segala arah. Aku mencari sosok yang
aku kenal. Dia adalah Lina. Sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengannya. Kesibukan
kuliah dan praktikumku yang padat. Ditambah lagi aku harus mengikuti kegiatan
keorganisasian, membuatku tak sempat menjenguk ke kost-annya.
"Rin! Buru-buru amat sampai
tidak lihat orang disekitarmu,"sapa seorang perempuan yang membuat langkahku
terhenti. Lina memang lebih suka memanggilku dengan nama Rini. Sebelum bertemu
denganku, dia lebih dulu berteman dengan seseorang yang bernama Dewi juga.
"Lina!"jawabku
sedikit kaget.
“Maaf. Perasaan aku tadi tak melihatmu
disekitar sini,”kataku lagi
"Tak apa. Mau ke lantai dua,
kan?"tanyanya sambil melihat dua buku tebal yang baru aku keluarkan.
Aku mengangguk.
“Lama tak kelihatan,”kataku sambil
berjalan di tangga gedung.
“Iya. Ada banyak tugas yang harus aku kerjakan.”katanya.
“O...,”kataku manggut-manggut.
"Masih ngekos di Gria
Ayu?"tanyanya
Aku mengangguk.
"Masih betah, ya?"
Aku hanya tersenyum.
"Rin!"serunya
"Apa,"jawabku pelan
"Kamu ngekos di tempatku saja.
Kebetulan kamar di sebelahku sudah kosong,"
"E..,nanti ku pikirkan."
"Jangan bilang kalau kamu tak enak
dengan mereka,"katanya.
Aku tersenyum.
"Sudahlah! Kamu pindah saja. Memang
kamu mau tertekan terus. Sudah saatnya kamu pergi. Kalau kamu tinggal lebih
lama, kamu akan tetap seperti ini. Berteman dengan orang-orang yang pandai
berwacana itu bagus. Tapi kamu jangan membohongi dirimu terus. Seorang sepertimu
akan sulit bila harus menjadi seperti mereka. Aku tahu siapa kamu. Daripada
memaksakan diri, lebih baik kamu fokus pada sesuatu hal yang membuat kamu suka.
Kamu tak akan sukses jika terus menerus memaksakan diri,"
Aku mendesah.
"Aku tahu. Aku tak bisa seperti
mereka. Sekuat apapun aku mencoba, aku tetap tak bisa. Tapi setidaknya, banyak yang
bisa aku pelajari dari kebersamaanku bersama mereka,"jawabku.
"Memangnya apa yang kamu pelajari?”
“Ya, banyak. Dulu aku tidak suka baca
buku, sekarang aku jadi suka banyak buku.”jawabku.
“Hanya itu?”tanyanya ingin tahu.
“Ya...,pokoknya banyak. Ah! Sudahlah.
Jangan ngomongin itu lagi.”jawabku putus asa. Lina tersenyum sinis. Aku hanya
tersenyum kecut melihatnya.
“Bukannya apa-apa. Kamu masih sibuk
menjadi seperti mereka. Padahal untuk orang seperti kamu itu susah. Jangan
memaksakan diri, Rin. Yah, aku tahu. Sekarang
kamu memang ada perkembangan. Kamu menjadi
sedikit berani bicara di depan umum. Tapi tetap saja kamu tertekan, kan?"
Dalam hati aku meng”iya”kan perkataan Lina.
Di Forum yang kecil mungkin aku bisa bersuara tapi kalau sudah di Forum yang
besar. Aku menjadi mati kutu lagi.
"Ah! Sudahlah, Lin! Aku pusing."kataku
menyerah.
"Baiklah. Terserah kau saja lah! Jangan
salahkan aku jika kamu semakin terpuruk."katanya kesal.
Aku tak mampu lagi bersuara. Aku terpukul
mendengar ucapannya. Apa dia sudah lelah dengan sikapku yang keras kepala. Aku
jadi bad mood. Kalau ditanya “kenapa
aku masih bertahan bersama mereka ?”
Mungkin, ada kenyamanan lain yang mungkin
tak ku dapatkan di tempat lain. Aku selalu merindukan kebersamaanku bersama
mereka diluar kegiatan keorganisasian. Melepaskan semuanya. Kembali menjadi
biasa lagi tanpa harus berfikir tentang apa yang namanya wacana dan lainnya. Tak
ada ketegangan di setiap forum yang ku
ikuti. Aku tak perlu memaksakan diri untuk bersuara di depan umum. Saat-saat
seperti itu yang paling membuatku nyaman bersama mereka. Bercanda tawa bersama.
Meski ada banyak hal pribadi yang membuatku tak bisa ku bagi dengan mereka. Dan
hal itu hanya bisa ku ceritakan pada seorang seperti Lina. Aku harap, ketika
aku pergi suatu hari nanti. Akan ada kenangan manis yang akan membekas dihatiku.
Bukan hanya kenangan buruk saja.
***
“Nanti
ikut kan, Wi? Ada pertemuan jam delapan malam!”seru Gita.
“Rapat organisasi lagi.”gumamku dalam
hati.
“InsyaAllah.”jawabku singkat.
“Oke. Nanti aku tunggu di sana, ya,”
Aku hanya tersenyum mengangguk. Aku
mendesah. Sesungguhnya aku tak mau datang kesana. Bukan karena aku tak ingin
bertemu dengan mereka. Itu lebih karena ada forum diskusi. Itu berarti aku
harus memaksa diriku untuk ikut berbicara. Kan malu, kalau setiap diskusi tentang
suatu hal aku selalu diam saja. Ini benar-benar menyiksaku.
Dengan perasaan berat aku melangkahkan
kakiku menuju tempat itu. Sudah ada beberapa orang disana. Sungguh! Berada di
sana membuat kepercayaan diriku runtuh. Bahkan aku sampai berkali-kali berkata
pada diriku kalau aku tak pantas berada ditengah-tengah mereka. Aku merasa
orang paling menyedihkan di dunia. Mengasihani diriku sendiri bahwa aku tak
cukup mampu berjuang, agar aku bisa keluar dari sikap diamku.
Rapat di mulai. Mereka begitu leluasa
mengemukakan pendapat tentang persoalan yang dihadapi dalam organisasi itu. Lagi-lagi
aku hanya sebagai pendengar. Terhitung hanya sekali aku melontarkan pendapat.
Itupun harus berjuang keras untuk menata suara dan hati agar bisa berbicara.
Meski di benakku rasanya sudah tertata rapi.
Namun yang keluar dari mulutku justru tak sesuai harapan. Aku hanya bisa
menyalahkan diri sendiri. Aku benci diriku yang seperti ini.
***
Haruskah aku sesali apa yang terjadi. Selama
hidupku aku tak akan pernah melupakan kejadian yang aku alami. Kejadian yang begitu menyakitkan. Mungkin
selama hidupku, kenangan itu akan selalu membekas dihatiku.
“Dari awal aku tidak suka ketika kamu
melihat laporanku. Makanya aku ubah laporanku. Tapi ketika aku sudah merubah
laporanku, kenapa sekarang kamu juga
mengikuti laporan yang aku buat! Apa kamu tidak punya pendirian! Apa kamu tidak
punya inisiatif sendiri!”kata Sila menahan marah.
Aku bingung bercampur kesal. Aku akui. Di awal laporan, aku memang mencontoh
laporannya. Itu karena aku tak tahu
bagaimana membuat proposal tugas akhir. Tapi justru itu yang membuat Dosen
pembimbingku marah besar. Dosen pembimbingku lah yang menyarankanku, agar aku
menjadi diri sendiri. Beliau juga memberiku beberapa alternatif pilihan tema
Proposal. Dan aku memilih tema yang sekarang aku buat. Sungguh! Aku tidak tahu
kalau Sila juga membuat tema yang sama. Ya, Rabb...kenapa tak ada kata-kata
yang keluar dari mulutku. Seharusnya aku membela diri dan berkata kalau aku tak
salah. Aku tak mampu berdebat dengannya. Aku tak tahu caranya membela diri.
Teman-teman kostku tak ada satu pun yang
membelaku. Mereka semua seolah kompak bersikap kalau aku yang salah. Bahkan
Gita, teman akrabku di kost itu juga berpendapat sama. Aku benar-benar sedih
dan terpojok. Sila memang pintar. Dia melobi sendiri ke Perusahaan itu dan
menentukan tema proposal yang akan dia buat tentang perusahaan itu. Berbeda
dengan aku dan Gita yang akan datang pada saat hari H. Kalau seperti ini
akhirnya, aku menyesal mengijinkannya untuk ikut melakukan studi tugas akhir di
tempat yang aku dan Gita telah setujui. Bukankah aku dan Gita duluan yang mendapat
persetujuan dari Perusahaan itu. Hanya karena dia di tolak oleh perusahaan yang
ia pilih, dia meminta ijin padaku dan Gita untuk ikut melakukan studi ke
perusahaan yang sama. Sungguh! ini berat bagiku. Aku harus ubah tema tugas
akhirku. Biarpun nanti aku harus siap di marahi lagi oleh Dosen pembimbingku. Aku
benar-benar frustasi. Aku benar-benar bingung mau membuat tema seperti apa
lagi. Tapi lagi-lagi, semua ini hanya bisa aku simpan sendiri.
Aku semakin tertekan begitu mengetahui kalau dia mengasingkan diri
ke kos temannya, agar fokus pada tugas akhirnya. Ya, Allah...apa dia
melakukannya karena takut aku meniru hasil karyanya. Aku benar-benar sakit
hati. Sungguh! Tak ada niatku untuk menirunya. Apa dia meremehkanku. Saat ini
segalanya berjalan tak mengenakkan. Sila baru kembali ke rumah kos kami begitu tugas
akhirnya selesai. Ada rasa canggung diantara kami. Saat tugas akhirku selesai,
salah seorang dari anggota organisasiku justru berkata kalau laporan yang aku
buat itu terlalu biasa dan tak ada manfaatnya. Aku rasanya ingin menangis. Tapi
tak apa. Toh, Dosen pembimbingku sudah menyetujuinya. Aku hanya ingin lulus dan
keluar dari ini semua.
Dalam keadaan kembali “normal” lagi, aku
harus dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya sepele. Namun itu sungguh mempengaruhiku. Berawal
dari tulisan seorang anggota organisasi yang lain. Namanya Hilman. Dia menulis di buku tamu yang seolah di
tujukan padaku. Entah kenapa itu menjadi gosip yang hangat di kosku. Dan
bodohnya aku, kenapa aku mengomentari tulisannya. Hal itulah yang semakin
memunculkan kesalahpahaman. Aku jadi
menyesal kenapa waktu itu aku mengomentari tulisan Hilman. Gosip itu semakin
menyebar. Suasana tak mengenakkan pun terjadi. Aku menjadi lebih tak nyaman
lagi berada disana. Dalam banyak kesempatan kumpul bersama teman-teman kosku, mereka
bergantian menggodaku. Aku bingung harus
bagaimana. Ini sungguh kisah percintaan
yang salah sasaran.
Suatu ketika Hilman kecelakaan. Pada suatu
malam aku menelphon Lina karena ada hal penting yang harus ku sampaikan. Aku tak bisa menunda sampai besok. Setelah
selesai aku berjalan keluar dari wartel. Tapi ketika mencapai pintu, aku
teringat Hilman yang kecelakaan. Aku pikir, kenapa ngga sekalian saja aku
menelphon untuk menanyakan kabarnya. Aku lalu menelphonnya tapi Hpnya tidak
aktif. Aku lalu bergegas keluar karena memang sudah terlalu malam. Setelah
keluar dan kembali ke kos, teman kosku tiba-tiba mengagetkanku dan menduga aku
meneiphon Hilman. Aku takut dia menduga yang bukan-bukan. Ya, aku bilang saja
kalau aku tidak menelphonnya. Ya, ampun...dalam keadaan seperti ini aku ingin
sekali melempar mereka semua jauh-jauh. Aku benar-benar kesal.
Pada suatu hari aku ikut menjenguk Hilman
kerumahnya. Aku hanya ingin tahu kondisinya. Apa ini ya, yang membuat mereka semakin
percaya kalau aku menyukai Hilman.
“Sudah
lega kan, mba,”kata Mia
“Rupanya ia masih salah paham padaku.
Mungkin di kiranya aku benar-benar menyukainya,”gumamku dalam hati.
“Dia itu begitu idealis. Kan kamu dengar
sendiri apa yang ia ucapkan. Mana mungkin aku dengannya.”jawabku agar ia tak
membahasnya lagi. Bukannya berhenti dia malah menawarkan aku opsi pria lain. Benar-benar
ni anak. Aku bilang aja kalau itu juga tak mungkin. Sejujurnya aku memang mengagumi
Hilman. Karena dia memiliki kharisma
sebagai seorang pemimpin. Tapi untuk ke arah lebih dari itu, rasanya tidak.
Buktinya, ketika Mia dan Hilman membicarakan wanita lain di depanku aku
anteng-anteng aja, tuh. Tak ada rasa cemburu sedikitpun. Saat kami mau pulang,
sikap Hilman jadi aneh. Apa karena sejak tadi dia melihatku cemberut saja. Ah!
Masa bodoh.
Pada kesempatan berbeda. Hilman menjadi
pembicara pada acara bedah buku di depan Balairung UGM. Kami satu kos yang
memang berada di organisasi yang sama, datang ke tempat itu. Suasana teduh dan
hamparan rumput menyambut kami.
“Assalamu’alaikum,”seru kami ketika
sampai.
“Wa’alaikum salam. Selamat datang,
Dewi,”seru Hilman menyambut kami. Teman-teman kos ku protes kenapa hanya aku
yang disambut. Aku melengos. Mulai lagi. Apa mereka tak sadar kalau aku jalan
di depan. Tak salah dong kalau Hilman menyambutku duluan.
Salah satu teman kosku menggoda kami.
Hilman yang menyanggah kemudian melihat ekspresiku. Kenapa Sikap Hilman menjadi
aneh. Apa ia mengira aku benar-benar menyukainya. Aku tahu dia tidak
menyukaiku. Ekspresinya itu seperti dia menaruh curiga padaku. Seandainya saja
ia tahu kalau di hatiku sudah terisi pria lain. Pria itu begitu aku kagumi. Namanya
Rudi. Aku pertama bertemu dengannya ketika berada di perpustakaan pusat. Lina
yang mengenalkannya padaku. Aku benar-benar tak berani mengungkapkannya pada
mereka.
Ketika pulang dari acara bedah buku, aku
masih bad mood. Aku cemberut sepanjang
jalan. Aku hampir tak menghiraukan mereka yang ngobrol meskipun aku berjalan
bersama mereka. Hanya sesekali aku menanggapi obrolan mereka. Itu pun kalau di
tanya saja.
***
“Aku
ingin tanya padamu. Kamu sebenarnya suka ngga sama Hilman?”tanya mba Rita
mengintrogasiku.
“Tidak.”jawabku.
“Benarkah?”katanya tak percaya. Dia terus
memaksaku. Aku bingung. Aku seperti dipaksa untuk bilang “ya”. Percuma saja aku
bilang "tidak" toh dia tak akan percaya. Karena jawaban yang ia inginkan adalah
“ya”. Aku seolah tak di beri pilihan. Oh! Tuhan. Tunjukkan padaku bagaimana aku
menjelaskannya.
“Iya.”
Itu jawaban konyol yang spontan keluar
dari mulutku.
Aku hanya ingin dia mengakhiri
interogasinya. Kalau aku terus berkata “tidak”, dia pasti tak akan berhenti
menanyaiku. Dia janji untuk tidak membocorkannya pada yang lain. Aku
mempercayainya. Aku mentertawai diriku sendiri. Ada sedikit rasa sesal dalam
diriku kenapa aku harus berbohong. Aku hanya berharap, hal ini selesai dan
tidak menjadi panjang lagi. Tapi aku salah, semuanya justru menjadi kacau.
Semua orang tahu. Aku jadi kesal pada mba Rita. Dia tak bisa pegang janji. Tapi
lagi-lagi aku hanya bisa simpan kedongkolanku dalam hati. Apa aku harus membuat
pengakuan bahwa aku menyukai pria lain. Tapi tak bisa. Sejujurnya aku juga belum tahu apakah Rudi juga
menyukaiku atau tidak. Aku takut kalau aku bicara, segalanya malah menjadi
kacau seperti sekarang.
Suasana tak mengenakkan menular di base camp organisasi putra. Sungguh! aku
seperti kotoran di hadapan mereka. Mereka kompak menunjukkan sikap tak sukanya
padaku. Mereka seolah merendahkanku. Mengangap remeh aku. Haruskah aku mengalami perlakuan seperti ini.
Meski mereka tidak secara terang-terangkan menunjukkannya. Tapi aku juga
memiliki perasaan. Sikap yang ditunjukkan
mereka padaku sangat jelas. Aku benar-benar bisa gila. Aku di buat
seperti di titik terendah.
“Aku
menyesal telah mengenal kalian semua.”
Itu kalimat frustasi yang aku tulis di
buku tamu mereka. Aku benar-benar ingin menumpahkan kekesalanku. Hanya karena
hal sekecil ini kalian menjauhiku. Dimana ucapan berwacana yang kalian
tunjukkan setiap kali berdiskusi. Apa itu hanya ucapan di mulut saja. Aku butuh
dukungan, bukan “pengusiran”.
Aku tak menyalahkan Hilman karena dia tak
tahu apa-apa. Walau setiap kali bertemu, aku harus mengelus dada dengan sikap yang
ia tunjukkan padaku.
***
“Ini Dewi, kan.”seru Hilman di ujung telphon.
“Ini Dewi, kan.”seru Hilman di ujung telphon.
Dia lalu memutus sambungan telphonnya
sebelum aku menjawabnya. Apa karena kemarin aku miscall dia makanya dia
menelphonku. Lagian yang aku miscall ngga hanya nomor dia. Kenapa dia harus
kesal.
“Apa aku membuat kesalahan lagi?”gumamku.
“Kamu pikir hanya kamu aja yang aku
miscall!”gumamku kesal.
Aku teringat akan Lina yang memukulku
habis-habisan saking gemasnya karena ku kerjain. Aku miscall Hpnya beberapa kali. Setelah di angkat, Hpku langsung aku
matikan. Karena diantara kami memang tak
memiliki perasaan apa-apa. Makanya aku iseng miscal dia dan semua temanku yang
tak mengetahui nomor telphonku. Aku tak tahu jika kejahilanku justru makin membuat
Hilman semakin menjauh. Semuanya ku ketahui ketika malam sebelum wisuda. Waktu
itu ada acara perhargaan bagi para calon wisudawan. Para undangan yang hadir
diantaranya adalah para mahasiswa yang akan di wisuda, para wali mahasiswa,
dosen, dekan dan perwakilan dari badan eksekutif mahasiswa. Hilman yang
merupakan bagian dari BEM datang. Ketika tiba saat jabat tangan dengan
mahasiswa yang di wisuda, sikap antipati yang ia tunjukkan padaku begitu
membuatku sedih. Rupanya ia masih mengira aku benar-benar menyukainya. Haruskah
hubungan silaturahmi yang terjalin dengan baik ini harus terkotori oleh masalah
seperti ini. Besok adalah hari dimana aku di Wisuda. Haruskah aku mengalami hal
tak mengenakkan ini. Ini benar-benar wisuda kelabu.
Itu semua tidaklah cukup. Semuanya masih berlanjut
ketika aku bekerja di rental komputer. Suatu hari ia datang bersama Mas Ali
yang merupakan senior di Organisasi itu. Kebetulan waktu itu aku bekerja
bersama Gita.
“Sedang nulis apa?”tanya Mas Ali padaku.
Aku tak ingin ia melihat tulisanku. Makanya
aku cepat-cepat menutupinya dengan tanganku.
Mereka lalu bicara dengan Gita. Sementara
aku asyik menulis sendiri. Percuma aku nimbrung. Toh! Aku tak bisa bicara lepas
dengan mereka. Makanya aku memilih untuk meneruskan tulisanku. Karena saking
asyiknya menulis, aku tak mendengar kalau mereka pamit pergi. Aku baru sadar
ketika mereka sudah sampai depan Rental. Aku jadi menyesal. Aku lihat Mas Ali
tersenyum aneh padaku.
“Maksudnya apa, sih?”gumamku dalam hati.
Aku tersadar.
“Oh! Apa dia berfikir saat ini aku sedang
cemburu?”
Apa
karena aku tadi diam saja. Makanya dia
jadi salah paham padaku. Aku diam karena ngga tahu harus bicara apa. Aku jadi
serba salah.
“Kamu manyun saja sih, Wi,”tanya Gita
menggodaku
“Apa! Bukannya setiap kali ngetik aku
seperti ini,ya.”jawabku.
Apa dia juga berpikir kalau aku cemburu
karena dia berbincang dengan Hilman. Agr! sampai kapan masalah ini akan
selesai. Apa aku harus menikah secepatnya biar semuanya kembali normal.
Benar-benar, deh. Aku jadi ingat Rudi. Sampai saat ini aku belum tahu
perasaannya padaku. Aku juga malu bicara tentang hal ini kepada Lina. Sikap
Rudi itu samar-samar. Antara suka atau tidak. Apa aku yang mungkin terlalu
ke”ge-er”an? Kalau benar, kenapa dia selalu menitipkan salam padaku melalui
Lina. Kata Lina, dia sering menanyakan aku. Lina bahkan meminta pendapatku soal
Rudi. Apa dia ingin tahu isi hatiku. Ah! Kenapa hatiku sekarang jadi berbunga-bunga.
***
Langit seolah mendukungku. Awan kelabu di
atas sana sama persis dengan suasana hatiku saat ini. Entah kenapa, masalah
yang ku hadapi seakan berjalan beriringan. Siang itu aku seperti ingin terjun
dari gedung tertinggi. Aku bagai di sambar petir di siang bolong. Aku mendengar
kabar dari Lina, kalau dia akan menikah dengan Rudi. Pria yang selama ini ada
di hatiku. Lina bahkan tak sekalipun menceritakan soal hubungannya dengan Rudi.
Aku benar-benar tak tahu apa-apa. Dunia serasa runtuh di depanku. Hatiku hancur.
Luka ini hanya bisa ku simpan sendirian tanpa bisa aku bagi lagi dengan siapa
pun. Aku merasa benar-benar sendirian. Kemana aku harus lari. Haruskah aku
membenci Lina. Tapi Lina tak salah apa-apa. Aku yang salah kenapa menyimpan
perasaan ini sendirian tanpa bercerita kepadanya. Jika aku menceritakannya,
mungkinkah ceritanya akan lain. Saat ini
aku hanya bisa menertawai diriku. Ternyata, kehidupan ini kurasakan begitu
getir. Aku hanya bisa pasrah. Aku tak punya keberanian bahkan untuk berteriak
sekalipun. Aku benar-benar tak bisa bersuara. Semua yang ingin ku lakukan hanya
bisa ku wujudkan dalam angan-angan. Haruskah aku mati saja.
***
Dua tahun lamanya, aku menjalani hariku
yang biasa. Segalanya berjalan dengan apa adanya. Hingga dalam masa pencarian
diriku, aku menemukannya. Hidup itu tak selamanya getir. Ada kalanya kita bisa
bahagia. Setidaknya itu yang kupelajari dari perjalanan hidupku. Aku menemukan
kebahagiaan itu pada seseorang dengan kesabaran luar biasa. Langkah kakinya begitu khas hingga tak sedikit yang
meledeknya. Tapi, sifat tulus dan penyabarnya itu yang membuatku jatuh cinta
padanya. Si penyabar itu sanggup menggantikan tempat Rudi di hatiku. Namanya
Rusli. Kami dipertemukan dalam satu perusahaan yang sama. Satu tahun yang lalu,
kami mengikat janji pernikahan. Dia adalah pribadi yang apa adanya. Dia lah penyemangat
hidupku. Saat ini, kami sedang membangun istana mimpi . Aku tahu, bayang-bayang
masa lalu itu tak akan terhapus begitu saja dari ingatanku. Tapi aku tak ingin
selamanya terpuruk. Suamiku yang
mendorongku untuk selalu bangkit. Kini, sudah saatnya aku melangkah. Aku tahu, percuma
menyesali apa yang telah terjadi. Aku harus fokus pada hal yang ingin ku raih.
Meski itu sulit, tapi aku harus bisa melakukannya. Aku sekarang tak lagi
sendiri. Ada dia yang akan berbagi suka dan duka denganku. Hari-hariku akan diisi
oleh warna pelangi yang akan membuat hidup kami lebih kuat dan berwarna.
Aku harus bisa melawan musuh terbesarku
yaitu diriku sendiri. Aku tak akan pernah menyesal berada bersama mereka.
Bersama mereka aku bisa belajar banyak hal. Meski itu hanya berupa celah kecil.
Itu cukup sebagai bekalku untuk berlari menjauhi dunia gelap yang selama
ini mengungkungku. Aku akan terus berlari mengejar mimpiku. Sesuatu yang
sebenarnya sudah ku temukan, hanya saja aku tak menyadarinya.
“Aku ingin menjadi seorang penulis dan
menerbitkan buku”
Itulah mimpi yang ingin kuraih. Aku
menemukan sesuatu yang berharga pada diriku yang layak untuk ku perjuangkan. Sila
yang pernah berselisih paham denganku lah yang sebenarnya melihat bakatku dalam
menulis. Di organisasi ekstra kampus itu memang ada wadah untuk mengembangkan tulisan. Waktu
itu aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk melihat orang lain. Hingga tak
bisa melihat diriku. Sekarang, aku tak akan memaksakan diri lagi menjadi
seperti yang lain. Aku memang tak bisa seperti mereka yang bisa bicara lepas di
depan umum. Aku ingin berbicara di depan umum dengan caraku. Melalui tulisan-tulisanku
aku menyuarakan isi hatiku. Bukan hanya untuk satu orang tapi kepada dunia. Bukankah
setiap manusia punya cara tersendiri untuk membuat dirinya berharga.
Aku
menemukannya
Terserak
diantara keping-keping hatiku
Mentari
itu masih menungguku.
Dalam
gelap dalam terang...
Aku
ingin terus berlari
Senyum
itu, aku ingin memilikinya
Tiada
hari yang panjang
Semuanya
berjalan di dalam-Nya
Hingga
senja itu tiba...
Segalanya
akan menjadi indah
Aku
menyelesaikannya...
Bandung, 06 januari 2014
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.