Wednesday, January 01, 2014

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...

Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna

Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca. 

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

Orientasi mahasiswa baru memang mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin.  Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka berasal  dari daerah yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia kawan. Waktu itu, aku harus mengurus administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita diberi tugas  seabrek. Aku dan teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas tambahan.  Bayangkan saja. Tugas yang utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko. Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal.  Seuntai gelang dan  gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat berbelanja sekaligus refreshing bagi warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta kursi untuk duduk. Tempat itu  menjadi favorit sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus. Hanya ada satu meja  yang  belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.

 ***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut pelatihan  Organisasi itu. Disana mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya, aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.
Namun selang beberapa waktu, aku malah terjung mengikuti ajakan Gita. Aku tak tahu apa otakku sudah kusut. Padahal dari awal aku sudah tak merasa nyaman. Aku serasa memasuki dunia asing. Dunia yang sebenarnya bertolak belakang dengan keinginan hatiku. Aku benar-benar tak mengerti dengan diriku. Gita yang lebih dulu bergabung menyakinkanku bahwa ini akan mengasyikkan. Baiklah. Nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin aku jilat ludahku sendiri. Aku berharap. Apa yang dikatakan Gita itu benar. Ku ajak Dian bersamaku. Tapi sepertinya, dia lebih berpendirian daripada aku.
Hari pertama  aku bergabung dengan mereka, aku dihadapkan pada sesuatu yang benar-benar baru. Anggota baru harus mengikuti serangkaian kegiatan dasar sebagai syarat masuk ke organisasi itu. Yang paling membuatku nggak nyaman adalah ada beberapa agenda kegiatan yang mengajak untuk berdiskusi di depan banyak orang. Aku paling anti dengan yang namanya “bicara di depan umum”. Aku tak bisa melakukannya. Aku lebih suka bicara dari hati ke hati dengan satu atau dua orang. Tapi, aku sudah terlanjur berada di sana. Aku mendengarkan ketika Pembicara mulai menjelaskan tentang   organisasi mereka, arti organisasi secara umum, bagaimana berorganisasi dan lain sebagainya. Ah, kenapa aku hanya bisa diam. Aku tak seberani anggota baru yang lain. Mereka pintar sekali mengutarakan pendapat dan berani bersuara. Aku ingin sekali menjadi seperti mereka. Tapi , sungguh! Lidahku kelu. Keberanianku hanya sampai seujung kuku. Bahkan aku tak tahu harus berpendapat seperti apa.
“Ini baru permulaan. Siapa tahu nanti aku bisa seperti mereka.”gumamku menyemangati diri sendiri.
Hari demi hari ku lalui. Tak ada perubahan yang berarti. Aku masih sama seperti sebelumnya. Meski Gita dan teman-teman di organisasi itu menyemangatiku.  Tapi, sungguh! aku belum bisa seperti mereka. Aku bisa gila. Aku sekarang menjadi tak nyaman jika bersama mereka. Aku menjadi tak percaya diri berada di tengah-tengah mereka.
Aku bahkan berfikir: ”Apa aku keluar saja. Aku tak pantas berada bersama kalian.”
Tapi, entah kenapa aku tak jua beranjak pergi. Aku terus mengikuti kemana mereka melangkah. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan.
Hubunganku dengan Dian juga jadi renggang. Kami jadi jarang bertemu. Bahkan, aku menolak setiap kali ia mengajakku jalan-jalan atau sekedar mampir ke kosnya. Ada perasaan menyesal dalam diriku karena lebih mementingkan Organisasi daripada Dian. Aku terlanjur pindah ke rumah kos tempat base camp para anggota wanita mereka. Jadinya aku merasa tak enak jika harus  ijin untuk tak mengikuti kegiatan organisasi itu. Maafkan aku, Dian. Aku harap kamu bisa memahamiku.

***
Sekarang aku dan Dian sudah seperti orang asing. Kami tak pernah jalan bersama lagi. Satu-satunya yang membuat kami bersama adalah ketika berada dalam satu kelas. Dia sudah berteman akrab dengan teman satu angkatanku yang lain. Sementara aku menjadi lebih terbiasa dengan Gita. Dalam hati kecilku, aku masih berharap Dian ada bersama denganku sekarang. Tapi situasinya saat ini sudah berbeda. Kami seperti berada di dunia yang berbeda. Apa harus seperti ini akhirnya.
“Boleh aku duduk disini?”seru seorang mahasiswi berkerudung biru muda.
Aku mengangguk.
“Siapa namamu? Boleh kenalan, ngga?”tanyanya. Aku memandangnya.
“Boleh.”jawabku singkat.
“Namaku, Lina.”katanya sambil mengulurkan tangannya.
Aku lalu menjabat tangannya. “Dewi.”jawabku.
Itu adalah pertama kalinya aku bertemu dengannya. Dia satu angkatan denganku. Dia kuliah di fakultas Biologi. Wajahnya cantik dan pembawaannya ramah.
Selang dua hari, aku kembali bertemu dengannya. Sejak saat itu kami jadi sering bertemu baik di Perpustakaan pusat maupun di tempat yang lain di lingkungan kampus UGM. Padahal, kalau dipikir-pikir UGM ini luas dibanding Universitas lain. Setiap kali bertemu, dia selalu memegang minimal satu buku super tebal. Ketika aku tanyakan padanya, dia hanya menjawab,”Biar terlihat kalau aku ini pintar.”
Aku mengernyitkan kening. “Apa kalau memegang buku super  itu berarti pintar?” kataku. Dia hanya tertawa mendengar ucapanku.
Seiring waktu kami menjadi akrab satu sama lain. Dalam beberapa kesempatan kami saling bertukar pikiran. Aku merasa nyaman menyampaikan pemikiranku padanya. Bahkan, aku tak ragu curhat masalah pribadi dengannya. Mungkin karena dia pribadi yang hangat. Dia banyak mendengarkan aku. Seperti yang terjadi saat ini. Kami sekarang berada di Balairung UGM. Aku menceritakan apa yang aku alami. Suasana yang teduh membuatku nyaman berbagi dengannya. Segala keluh kesalku ia dengar. Tak sekalipun ia memotong ucapanku ketika aku bicara. Dia baru bicara setelah aku puas mengutarakan semuanya. Entah kenapa setelahnya, pikiranku menjadi lebih tenang. Ah, andai saja aku memiliki pribadi seperti dia. Di usiaku yang sama dengan dirinya, kenapa aku belum bisa menjadi dewasa.  
“Aku pulang dulu, Lin,”kataku.
“Baiklah. Aku juga ada janji dengan teman kostku. Kami mau ke toko buku. Kalau kamu mau ikut, Ayo!”jawabnya.
“Tidak. Lain kali saja. Makasih, ya. Kamu sudah mau mendengarkan aku,”
“Sama-sama..,biasanya juga seperti itu kan,”
“Hehehe...”
 “O,ya. Besok ke Perpus lagi ngga?”tanyanya
“InsyaAllah.”jawabku.
Setelah mengucapkan salam aku meninggalkan tempat itu. Aku menyusuri gang menuju rumah kosku. Aku menghentikan langkahku begitu melihat penjual rujak es krim. Hemm..siang-siang begini enaknya memang makan yang segar-segar. Aku memutuskan membeli dua porsi. Siapa tahu ada teman kosku yang mau. Sesampai di dekat rumah kost-ku, aku mendengar banyak sekali suara. Aku sedikit mengintip. Ada Pengurus Organisasi sedang berbincang dengan teman-teman kost-ku di teras. Sepertinya mereka sedang berdiskusi tentang suatu hal. Aku jadi ragu untuk masuk. Apa yang harus ku lakukan. Ah! Sudah kepalang tanggung. Badanku juga sudah lelah. Dan rujak es krim di tasku sudah menanti untuk di makan. Tak mungkin aku putar balik. Aku memberanikan diri masuk. Mereka gembira melihat kedatanganku. Beberapa dari mereka menyapaku. Aku minta permisi untuk masuk. Namun, mereka menahanku dan memintaku untuk bergabung dengan mereka. Ada rasa canggung dalam diriku. Untuk apa aku berada di sana. Aku kan bukan pengurus. Namun akhirnya, aku ikuti permintaan mereka. Beberapa saat berada disana, rasanya aku ingin menghilang.
“Untuk apa aku disini kalau aku hanya bisa sebagai pendengar.”gumamku dalam hati.
Ku putuskan untuk masuk dengan alasan mau istirahat. Setelah sampai di dalam, ada perasaan lega di hatiku. Di hadapkan pada persoalan yang sama seperti ini membuat hatiku kembali kacau. Kenapa aku masih saja sama seperti sebelumnya. Aku tak bisa seperti mereka.  
Ku banting tubuhku di kasur. Ku pejamkan mataku. Keadaanku sekarang begitu menyedihkan. Aku berada dalam kebingungan. Aku benar-benar kesal. Mau sampai kapan aku seperti ini. Aku lalu teringat rujak es krim yang ku beli. Aku lalu melangkah ke dapur dan mengambil dua buah mangkok. Se porsi rujak es krim aku buka dari pembungkusnya. Sedangkan satunya lagi ku letakkan di atas mangkok yang satunya.  Dingin dan lezatnya rujak es krim itu sedikit mengurangi kegalauan hatiku. 

***
Bus  Jalur 7 yang aku tumpangi dari depan Toko buku Toga Mas tadi melaju pelan dan berbelok ke arah Kampus UGM. Ketika bus sampai di dekat perpustakaan, aku meminta turun. Aku sedikit berjalan untuk sampai ke Gedung Perpustakaan Pusat. Beberapa buku tebal di tas ranselku sudah sejak tadi membuat pundakku kebas. Aku mendesah. Aku teringat laporan praktikumku yang antri untuk di kerjakan. Sungguh! Dua bulan ini rasanya kepalaku seperti diaduk. Pandangan mataku menjelajah ke segala arah. Aku mencari sosok yang aku kenal. Dia adalah Lina. Sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengannya. Kesibukan kuliah dan praktikumku yang padat. Ditambah lagi aku harus mengikuti kegiatan keorganisasian, membuatku tak sempat menjenguk ke kost-annya.
"Rin! Buru-buru  amat sampai tidak lihat orang disekitarmu,"sapa seorang perempuan yang membuat langkahku terhenti. Lina memang lebih suka memanggilku dengan nama Rini. Sebelum bertemu denganku, dia lebih dulu berteman dengan seseorang yang bernama Dewi juga.
 "Lina!"jawabku sedikit kaget.
“Maaf. Perasaan aku tadi tak melihatmu disekitar sini,”kataku lagi
"Tak apa. Mau ke lantai dua, kan?"tanyanya sambil melihat dua buku tebal yang baru aku keluarkan.
Aku mengangguk.
“Lama tak kelihatan,”kataku sambil berjalan di tangga gedung.
“Iya. Ada banyak tugas  yang harus aku kerjakan.”katanya.
“O...,”kataku manggut-manggut.
"Masih ngekos di Gria Ayu?"tanyanya
Aku mengangguk.
"Masih betah, ya?"
 Aku hanya tersenyum.
"Rin!"serunya
"Apa,"jawabku pelan
"Kamu ngekos di tempatku saja. Kebetulan kamar di sebelahku sudah kosong,"
"E..,nanti ku pikirkan."
"Jangan bilang kalau kamu tak enak dengan mereka,"katanya.
Aku tersenyum. 
"Sudahlah! Kamu pindah saja. Memang kamu mau tertekan terus. Sudah saatnya kamu pergi. Kalau kamu tinggal lebih lama, kamu akan tetap seperti ini.  Berteman dengan orang-orang yang pandai berwacana itu bagus. Tapi kamu jangan membohongi dirimu terus. Seorang sepertimu akan sulit bila harus menjadi seperti mereka. Aku tahu siapa kamu. Daripada memaksakan diri, lebih baik kamu fokus pada sesuatu hal yang membuat kamu suka. Kamu tak akan sukses jika terus menerus memaksakan diri,"
Aku mendesah.
"Aku tahu. Aku tak bisa seperti mereka. Sekuat apapun aku mencoba, aku tetap tak bisa. Tapi setidaknya, banyak yang bisa aku pelajari dari kebersamaanku bersama mereka,"jawabku.
"Memangnya apa yang kamu pelajari?”
“Ya, banyak. Dulu aku tidak suka baca buku, sekarang aku jadi suka banyak buku.”jawabku.
“Hanya itu?”tanyanya ingin tahu.
“Ya...,pokoknya banyak. Ah! Sudahlah. Jangan ngomongin itu lagi.”jawabku putus asa. Lina tersenyum sinis. Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.
“Bukannya apa-apa. Kamu masih sibuk menjadi seperti mereka. Padahal untuk orang seperti kamu itu susah. Jangan memaksakan diri, Rin. Yah, aku tahu.  Sekarang kamu memang ada  perkembangan. Kamu menjadi sedikit berani bicara di depan umum. Tapi tetap saja kamu tertekan, kan?"
Dalam hati aku meng”iya”kan perkataan Lina. Di Forum yang kecil mungkin aku bisa bersuara tapi kalau sudah di Forum yang besar. Aku menjadi mati kutu lagi.
"Ah! Sudahlah, Lin! Aku pusing."kataku menyerah.
"Baiklah. Terserah kau saja lah! Jangan salahkan aku jika kamu semakin terpuruk."katanya kesal.
Aku tak mampu lagi bersuara. Aku terpukul mendengar ucapannya. Apa dia sudah lelah dengan sikapku yang keras kepala. Aku jadi bad mood. Kalau ditanya “kenapa aku masih bertahan bersama mereka ?”
Mungkin, ada kenyamanan lain yang mungkin tak ku dapatkan di tempat lain. Aku selalu merindukan kebersamaanku bersama mereka diluar kegiatan keorganisasian. Melepaskan semuanya. Kembali menjadi biasa lagi tanpa harus berfikir tentang apa yang namanya wacana dan lainnya. Tak ada ketegangan di setiap  forum yang ku ikuti. Aku tak perlu memaksakan diri untuk bersuara di depan umum. Saat-saat seperti itu yang paling membuatku nyaman bersama mereka. Bercanda tawa bersama. Meski ada banyak hal pribadi yang membuatku tak bisa ku bagi dengan mereka. Dan hal itu hanya bisa ku ceritakan pada seorang seperti Lina. Aku harap, ketika aku pergi suatu hari nanti. Akan ada kenangan manis yang akan membekas dihatiku.  Bukan hanya kenangan buruk saja. 

***
 “Nanti ikut kan, Wi? Ada pertemuan jam delapan malam!”seru Gita.
“Rapat organisasi lagi.”gumamku dalam hati.
“InsyaAllah.”jawabku singkat.
“Oke. Nanti aku tunggu di sana, ya,”
Aku hanya tersenyum mengangguk. Aku mendesah. Sesungguhnya aku tak mau datang kesana. Bukan karena aku tak ingin bertemu dengan mereka. Itu lebih karena ada forum diskusi. Itu berarti aku harus memaksa diriku untuk ikut berbicara. Kan malu, kalau setiap diskusi tentang suatu hal aku selalu diam saja. Ini benar-benar menyiksaku.
Dengan perasaan berat aku melangkahkan kakiku menuju tempat itu. Sudah ada beberapa orang disana. Sungguh! Berada di sana membuat kepercayaan diriku runtuh. Bahkan aku sampai berkali-kali berkata pada diriku kalau aku tak pantas berada ditengah-tengah mereka. Aku merasa orang paling menyedihkan di dunia. Mengasihani diriku sendiri bahwa aku tak cukup mampu berjuang, agar aku bisa keluar dari sikap diamku.
Rapat di mulai. Mereka begitu leluasa mengemukakan pendapat tentang persoalan yang dihadapi dalam organisasi itu. Lagi-lagi aku hanya sebagai pendengar. Terhitung hanya sekali aku melontarkan pendapat. Itupun harus berjuang keras untuk menata suara dan hati agar bisa berbicara. Meski di benakku rasanya sudah tertata rapi.  Namun yang keluar dari mulutku justru tak sesuai harapan. Aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Aku benci diriku yang seperti ini.

***
Haruskah aku sesali apa yang terjadi. Selama hidupku aku tak akan pernah melupakan kejadian yang aku alami.  Kejadian yang begitu menyakitkan. Mungkin selama hidupku, kenangan itu akan selalu membekas dihatiku.
“Dari awal aku tidak suka ketika kamu melihat laporanku. Makanya aku ubah laporanku. Tapi ketika aku sudah merubah laporanku, kenapa  sekarang kamu juga mengikuti laporan yang aku buat! Apa kamu tidak punya pendirian! Apa kamu tidak punya inisiatif sendiri!”kata Sila menahan marah.
Aku bingung  bercampur kesal. Aku akui.  Di awal laporan, aku memang mencontoh laporannya.  Itu karena aku tak tahu bagaimana membuat proposal tugas akhir. Tapi justru itu yang membuat Dosen pembimbingku marah besar. Dosen pembimbingku lah yang menyarankanku, agar aku menjadi diri sendiri. Beliau juga memberiku beberapa alternatif pilihan tema Proposal. Dan aku memilih tema yang sekarang aku buat. Sungguh! Aku tidak tahu kalau Sila juga membuat tema yang sama. Ya, Rabb...kenapa tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Seharusnya aku membela diri dan berkata kalau aku tak salah. Aku tak mampu berdebat dengannya. Aku tak tahu caranya membela diri.
Teman-teman kostku tak ada satu pun yang membelaku. Mereka semua seolah kompak bersikap kalau aku yang salah. Bahkan Gita, teman akrabku di kost itu juga berpendapat sama. Aku benar-benar sedih dan terpojok. Sila memang pintar. Dia melobi sendiri ke Perusahaan itu dan menentukan tema proposal yang akan dia buat tentang perusahaan itu. Berbeda dengan aku dan Gita yang akan datang pada saat hari H. Kalau seperti ini akhirnya, aku menyesal mengijinkannya untuk ikut melakukan studi tugas akhir di tempat yang aku dan Gita telah setujui. Bukankah aku dan Gita duluan yang mendapat persetujuan dari Perusahaan itu. Hanya karena dia di tolak oleh perusahaan yang ia pilih, dia meminta ijin padaku dan Gita untuk ikut melakukan studi ke perusahaan yang sama. Sungguh! ini berat bagiku. Aku harus ubah tema tugas akhirku. Biarpun nanti aku harus siap di marahi lagi oleh Dosen pembimbingku. Aku benar-benar frustasi. Aku benar-benar bingung mau membuat tema seperti apa lagi. Tapi lagi-lagi, semua ini hanya bisa aku simpan sendiri.
Aku semakin tertekan  begitu mengetahui kalau dia mengasingkan diri ke kos temannya, agar fokus pada tugas akhirnya. Ya, Allah...apa dia melakukannya karena takut aku meniru hasil karyanya. Aku benar-benar sakit hati. Sungguh! Tak ada niatku untuk menirunya. Apa dia meremehkanku. Saat ini segalanya berjalan tak mengenakkan. Sila baru kembali ke rumah kos kami begitu tugas akhirnya selesai. Ada rasa canggung diantara kami. Saat tugas akhirku selesai, salah seorang dari anggota organisasiku justru berkata kalau laporan yang aku buat itu terlalu biasa dan tak ada manfaatnya. Aku rasanya ingin menangis. Tapi tak apa. Toh, Dosen pembimbingku sudah menyetujuinya. Aku hanya ingin lulus dan keluar dari ini semua.  
Dalam keadaan kembali “normal” lagi, aku harus dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya sepele.  Namun itu sungguh mempengaruhiku. Berawal dari tulisan seorang anggota organisasi yang lain. Namanya Hilman.  Dia menulis di buku tamu yang seolah di tujukan padaku. Entah kenapa itu menjadi gosip yang hangat di kosku. Dan bodohnya aku, kenapa aku mengomentari tulisannya. Hal itulah yang semakin memunculkan kesalahpahaman.  Aku jadi menyesal kenapa waktu itu aku mengomentari tulisan Hilman. Gosip itu semakin menyebar. Suasana tak mengenakkan pun terjadi. Aku menjadi lebih tak nyaman lagi berada disana. Dalam banyak kesempatan kumpul bersama teman-teman kosku, mereka bergantian  menggodaku. Aku bingung harus bagaimana.  Ini sungguh kisah percintaan yang salah sasaran.
Suatu ketika Hilman kecelakaan. Pada suatu malam aku menelphon Lina karena ada hal penting yang harus ku sampaikan.  Aku tak bisa menunda sampai besok. Setelah selesai aku berjalan keluar dari wartel. Tapi ketika mencapai pintu, aku teringat Hilman yang kecelakaan. Aku pikir, kenapa ngga sekalian saja aku menelphon untuk menanyakan kabarnya. Aku lalu menelphonnya tapi Hpnya tidak aktif. Aku lalu bergegas keluar karena memang sudah terlalu malam. Setelah keluar dan kembali ke kos, teman kosku tiba-tiba mengagetkanku dan menduga aku meneiphon Hilman. Aku takut dia menduga yang bukan-bukan. Ya, aku bilang saja kalau aku tidak menelphonnya. Ya, ampun...dalam keadaan seperti ini aku ingin sekali melempar mereka semua jauh-jauh. Aku benar-benar kesal.
Pada suatu hari aku ikut menjenguk Hilman kerumahnya. Aku hanya ingin tahu kondisinya. Apa ini ya, yang membuat mereka semakin percaya kalau aku menyukai Hilman.  
 “Sudah lega kan, mba,”kata Mia
“Rupanya ia masih salah paham padaku. Mungkin di kiranya aku benar-benar menyukainya,”gumamku dalam hati.
“Dia itu begitu idealis. Kan kamu dengar sendiri apa yang ia ucapkan. Mana mungkin aku dengannya.”jawabku agar ia tak membahasnya lagi. Bukannya berhenti dia malah menawarkan aku opsi pria lain. Benar-benar ni anak. Aku bilang aja kalau itu juga tak mungkin. Sejujurnya aku memang mengagumi Hilman. Karena dia memiliki  kharisma sebagai seorang pemimpin. Tapi untuk ke arah lebih dari itu, rasanya tidak. Buktinya, ketika Mia dan Hilman membicarakan wanita lain di depanku aku anteng-anteng aja, tuh. Tak ada rasa cemburu sedikitpun. Saat kami mau pulang, sikap Hilman jadi aneh. Apa karena sejak tadi dia melihatku cemberut saja. Ah! Masa bodoh.
Pada kesempatan berbeda. Hilman menjadi pembicara pada acara bedah buku di depan Balairung UGM. Kami satu kos yang memang berada di organisasi yang sama, datang ke tempat itu. Suasana teduh dan hamparan rumput menyambut kami.
“Assalamu’alaikum,”seru kami ketika sampai.
“Wa’alaikum salam. Selamat datang, Dewi,”seru Hilman menyambut kami. Teman-teman kos ku protes kenapa hanya aku yang disambut. Aku melengos. Mulai lagi. Apa mereka tak sadar kalau aku jalan di depan. Tak salah dong kalau Hilman menyambutku duluan.
Salah satu teman kosku menggoda kami. Hilman yang menyanggah kemudian melihat ekspresiku. Kenapa Sikap Hilman menjadi aneh. Apa ia mengira aku benar-benar menyukainya. Aku tahu dia tidak menyukaiku. Ekspresinya itu seperti dia menaruh curiga padaku. Seandainya saja ia tahu kalau di hatiku sudah terisi pria lain. Pria itu begitu aku kagumi. Namanya Rudi. Aku pertama bertemu dengannya ketika berada di perpustakaan pusat. Lina yang mengenalkannya padaku. Aku benar-benar tak berani mengungkapkannya pada mereka.
Ketika pulang dari acara bedah buku, aku masih bad mood. Aku cemberut sepanjang jalan. Aku hampir tak menghiraukan mereka yang ngobrol meskipun aku berjalan bersama mereka. Hanya sesekali aku menanggapi obrolan mereka. Itu pun kalau di tanya saja.  

***
 “Aku ingin tanya padamu. Kamu sebenarnya suka ngga sama Hilman?”tanya mba Rita mengintrogasiku.
“Tidak.”jawabku.
“Benarkah?”katanya tak percaya. Dia terus memaksaku. Aku bingung. Aku seperti dipaksa untuk bilang “ya”. Percuma saja aku bilang "tidak" toh dia tak akan percaya. Karena jawaban yang ia inginkan adalah “ya”. Aku seolah tak di beri pilihan. Oh! Tuhan. Tunjukkan padaku bagaimana aku menjelaskannya.
“Iya.”
Itu jawaban konyol yang spontan keluar dari mulutku. 
Aku hanya ingin dia mengakhiri interogasinya. Kalau aku terus berkata “tidak”, dia pasti tak akan berhenti menanyaiku. Dia janji untuk tidak membocorkannya pada yang lain. Aku mempercayainya. Aku mentertawai diriku sendiri. Ada sedikit rasa sesal dalam diriku kenapa aku harus berbohong. Aku hanya berharap, hal ini selesai dan tidak menjadi panjang lagi. Tapi aku salah, semuanya justru menjadi kacau. Semua orang tahu. Aku jadi kesal pada mba Rita. Dia tak bisa pegang janji. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa simpan kedongkolanku dalam hati. Apa aku harus membuat pengakuan bahwa aku menyukai pria lain. Tapi tak bisa.  Sejujurnya aku juga belum tahu apakah Rudi juga menyukaiku atau tidak. Aku takut kalau aku bicara, segalanya malah menjadi kacau seperti sekarang.
Suasana tak mengenakkan menular di base camp organisasi putra. Sungguh! aku seperti kotoran di hadapan mereka. Mereka kompak menunjukkan sikap tak sukanya padaku. Mereka seolah merendahkanku. Mengangap remeh aku.  Haruskah aku mengalami perlakuan seperti ini. Meski mereka tidak secara terang-terangkan menunjukkannya. Tapi aku juga memiliki perasaan. Sikap yang ditunjukkan  mereka padaku sangat jelas. Aku benar-benar bisa gila. Aku di buat seperti di titik terendah.
Aku menyesal telah mengenal kalian semua.
Itu kalimat frustasi yang aku tulis di buku tamu mereka. Aku benar-benar ingin menumpahkan kekesalanku. Hanya karena hal sekecil ini kalian menjauhiku. Dimana ucapan berwacana yang kalian tunjukkan setiap kali berdiskusi. Apa itu hanya ucapan di mulut saja. Aku butuh dukungan, bukan “pengusiran”.
Aku tak menyalahkan Hilman karena dia tak tahu apa-apa. Walau setiap kali bertemu, aku harus mengelus dada dengan sikap yang ia tunjukkan padaku.


***
“Ini Dewi, kan.”seru Hilman di ujung telphon.
Dia lalu memutus sambungan telphonnya sebelum aku menjawabnya. Apa karena kemarin aku miscall dia makanya dia menelphonku. Lagian yang aku miscall ngga hanya nomor dia. Kenapa dia harus kesal.
“Apa aku membuat kesalahan lagi?”gumamku.
“Kamu pikir hanya kamu aja yang aku miscall!”gumamku kesal.
Aku teringat akan Lina yang memukulku habis-habisan saking gemasnya karena ku kerjain. Aku miscall Hpnya beberapa kali. Setelah di angkat, Hpku langsung aku matikan. Karena diantara kami memang  tak memiliki perasaan apa-apa. Makanya aku iseng miscal dia dan semua temanku yang tak mengetahui nomor telphonku. Aku tak tahu jika kejahilanku justru makin membuat Hilman semakin menjauh. Semuanya ku ketahui ketika malam sebelum wisuda. Waktu itu ada acara perhargaan bagi para calon wisudawan. Para undangan yang hadir diantaranya adalah para mahasiswa yang akan di wisuda, para wali mahasiswa, dosen, dekan dan perwakilan dari badan eksekutif mahasiswa. Hilman yang merupakan bagian dari BEM datang. Ketika tiba saat jabat tangan dengan mahasiswa yang di wisuda, sikap antipati yang ia tunjukkan padaku begitu membuatku sedih. Rupanya ia masih mengira aku benar-benar menyukainya. Haruskah hubungan silaturahmi yang terjalin dengan baik ini harus terkotori oleh masalah seperti ini. Besok adalah hari dimana aku di Wisuda. Haruskah aku mengalami hal tak mengenakkan ini. Ini benar-benar wisuda kelabu.
Itu semua tidaklah cukup. Semuanya masih berlanjut ketika aku bekerja di rental komputer. Suatu hari ia datang bersama Mas Ali yang merupakan senior di Organisasi itu. Kebetulan waktu itu aku bekerja bersama Gita.
“Sedang nulis apa?”tanya Mas Ali padaku. Aku tak ingin ia melihat tulisanku. Makanya  aku cepat-cepat menutupinya dengan tanganku.
Mereka lalu bicara dengan Gita. Sementara aku asyik menulis sendiri. Percuma aku nimbrung. Toh! Aku tak bisa bicara lepas dengan mereka. Makanya aku memilih untuk meneruskan tulisanku. Karena saking asyiknya menulis, aku tak mendengar kalau mereka pamit pergi. Aku baru sadar ketika mereka sudah sampai depan Rental. Aku jadi menyesal. Aku lihat Mas Ali tersenyum aneh padaku.
“Maksudnya apa, sih?”gumamku dalam hati. Aku tersadar.
“Oh! Apa dia berfikir saat ini aku sedang cemburu?”
 Apa karena aku tadi diam saja.  Makanya dia jadi salah paham padaku. Aku diam karena ngga tahu harus bicara apa. Aku jadi serba salah.
“Kamu manyun saja sih, Wi,”tanya Gita menggodaku
“Apa! Bukannya setiap kali ngetik aku seperti ini,ya.”jawabku.
Apa dia juga berpikir kalau aku cemburu karena dia berbincang dengan Hilman. Agr! sampai kapan masalah ini akan selesai. Apa aku harus menikah secepatnya biar semuanya kembali normal. Benar-benar, deh. Aku jadi ingat Rudi. Sampai saat ini aku belum tahu perasaannya padaku. Aku juga malu bicara tentang hal ini kepada Lina. Sikap Rudi itu samar-samar. Antara suka atau tidak. Apa aku yang mungkin terlalu ke”ge-er”an? Kalau benar, kenapa dia selalu menitipkan salam padaku melalui Lina. Kata Lina, dia sering menanyakan aku. Lina bahkan meminta pendapatku soal Rudi. Apa dia ingin tahu isi hatiku. Ah! Kenapa hatiku sekarang jadi berbunga-bunga. 

***
Langit seolah mendukungku. Awan kelabu di atas sana sama persis dengan suasana hatiku saat ini. Entah kenapa, masalah yang ku hadapi seakan berjalan beriringan. Siang itu aku seperti ingin terjun dari gedung tertinggi. Aku bagai di sambar petir di siang bolong. Aku mendengar kabar dari Lina, kalau dia akan menikah dengan Rudi. Pria yang selama ini ada di hatiku. Lina bahkan tak sekalipun menceritakan soal hubungannya dengan Rudi. Aku benar-benar tak tahu apa-apa. Dunia serasa runtuh di depanku. Hatiku hancur. Luka ini hanya bisa ku simpan sendirian tanpa bisa aku bagi lagi dengan siapa pun. Aku merasa benar-benar sendirian. Kemana aku harus lari. Haruskah aku membenci Lina. Tapi Lina tak salah apa-apa. Aku yang salah kenapa menyimpan perasaan ini sendirian tanpa bercerita kepadanya. Jika aku menceritakannya, mungkinkah ceritanya akan lain.  Saat ini aku hanya bisa menertawai diriku. Ternyata, kehidupan ini kurasakan begitu getir. Aku hanya bisa pasrah. Aku tak punya keberanian bahkan untuk berteriak sekalipun. Aku benar-benar tak bisa bersuara. Semua yang ingin ku lakukan hanya bisa ku wujudkan dalam angan-angan. Haruskah aku mati saja. 

***
Dua tahun lamanya, aku menjalani hariku yang biasa. Segalanya berjalan dengan apa adanya. Hingga dalam masa pencarian diriku, aku menemukannya. Hidup itu tak selamanya getir. Ada kalanya kita bisa bahagia. Setidaknya itu yang kupelajari dari perjalanan hidupku. Aku menemukan kebahagiaan itu pada seseorang dengan kesabaran luar biasa. Langkah kakinya  begitu khas hingga tak sedikit yang meledeknya. Tapi, sifat tulus dan penyabarnya itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Si penyabar itu sanggup menggantikan tempat Rudi di hatiku. Namanya Rusli. Kami dipertemukan dalam satu perusahaan yang sama. Satu tahun yang lalu, kami mengikat janji pernikahan. Dia adalah pribadi yang apa adanya. Dia lah penyemangat hidupku. Saat ini, kami sedang membangun istana mimpi . Aku tahu, bayang-bayang masa lalu itu tak akan terhapus begitu saja dari ingatanku. Tapi aku tak ingin selamanya terpuruk.  Suamiku yang mendorongku untuk selalu bangkit. Kini, sudah saatnya aku melangkah. Aku tahu, percuma menyesali apa yang telah terjadi. Aku harus fokus pada hal yang ingin ku raih. Meski itu sulit, tapi aku harus bisa melakukannya. Aku sekarang tak lagi sendiri. Ada dia yang akan berbagi suka dan duka denganku. Hari-hariku akan diisi oleh warna pelangi yang akan membuat hidup kami lebih kuat dan berwarna.
Aku harus bisa melawan musuh terbesarku yaitu diriku sendiri. Aku tak akan pernah menyesal berada bersama mereka. Bersama mereka aku bisa belajar banyak hal. Meski itu hanya berupa celah kecil. Itu cukup sebagai bekalku untuk berlari menjauhi dunia gelap yang selama ini mengungkungku. Aku akan terus berlari mengejar mimpiku. Sesuatu yang sebenarnya sudah ku temukan, hanya saja aku tak menyadarinya.
 “Aku ingin menjadi seorang penulis dan menerbitkan buku
Itulah mimpi yang ingin kuraih. Aku menemukan sesuatu yang berharga pada diriku yang layak untuk ku perjuangkan. Sila yang pernah berselisih paham denganku lah yang sebenarnya melihat bakatku dalam menulis. Di organisasi ekstra kampus itu  memang ada wadah untuk mengembangkan tulisan. Waktu itu aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk melihat orang lain. Hingga tak bisa melihat diriku. Sekarang, aku tak akan memaksakan diri lagi menjadi seperti yang lain. Aku memang tak bisa seperti mereka yang bisa bicara lepas di depan umum. Aku ingin berbicara di depan umum dengan caraku. Melalui tulisan-tulisanku aku menyuarakan isi hatiku. Bukan hanya untuk satu orang tapi kepada dunia. Bukankah setiap manusia punya cara tersendiri untuk membuat dirinya berharga.

Aku menemukannya
Terserak diantara keping-keping hatiku
Mentari itu masih menungguku.
Dalam gelap dalam terang...
Aku ingin terus berlari
Senyum itu, aku ingin memilikinya
Tiada hari yang panjang
Semuanya berjalan di dalam-Nya
Hingga senja itu tiba...
Segalanya akan menjadi indah



Aku menyelesaikannya...
Bandung, 06 januari 2014














No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.