Wednesday, October 14, 2015

PESAN PALSU (PART 2)

Di sebuah kamar yang sempit dan remang-remang, sesorang lelaki terlihat lunglai di pojok ruangan. Ada luka memar di wajah lelaki itu. Tangannya terikat tali. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki masuk dengan senyum menyeringai.
“Apa kamu baik-baik saja?”kata lelaki yang baru masuk.
“Mau apa kau! Apa kamu seorang pengecut!”Bentak lelaki yang terikat  itu.
“Hahaha...”
Lelaki yang terikat menatap tajam pada lelaki yang baru masuk.
“Pengecut? Apa sekarang kamu sedang meluapkan kemarahan?””tanya lelaki yang baru masuk dengan senyum mengejek.
 “Sekarang ini kamu bukan apa-apa di hadapanku,”kata lelaki itu lagi.
Lelaki yang terikat menahan marah.
“Oh! Sampai lupa. Apa kamu tak mau mendengar kabar gadis itu?”
Lelaki yang terikat mendongak
“Hahaha....sudah pasti. Tenang.  Dia baik-baik saja. Setidaknya kalau kau tidak macam-macam dan mencoba kabur lagi dari hadapanku!”kata lelaki itu. Kali ini dengan nada tinggi.
“Kamu memang brengsek!”bentak lelaki terikat itu geram.
“Brengsek? Lebih brengsek mana? Kau atau aku!”Bentak lelaki itu
“Apa maksudmu?”tanya lelaki terikat itu tak mengerti.
“Kamu tentu tahu apa maksudku. Jangan memancing kemarahanku lagi! Dan tetap nyaman disini. Mengerti!”seru lelaki itu dengan pandangan sinis. Dia lalu keluar dari ruangan itu. Lelaki itu terlihat bicara dengan dua orang di luar ruangan.
“Jaga dia! Kalau macam-macam. Habisi saja!”
Dua orang yang diajak bicara mengangguk.
Lelaki itu kembali memandang ruangan yang dia masuki tadi. Dengan senyuman penuh kemenangan dia meninggalkan tempat itu.
Beberapa kilometer dari tempat itu. Tepatnya di sebuah kafe. Terlihat tiga orang anak muda sedang bercanda tawa. Mereka adalah Dio, Ani dan Intan. Dihadapan mereka ada tiga buah jus berbeda rasa yang sebagian sudah mereka minum.
“An, bagaimana dengan tulisanmu? Apa sudah jadi?”tanya Intan
“Sudah. Nanti tolong dibaca dulu ya. Takut ada yang salah,”kata Ani
“Salah bagaimana? Tentu saja tidak. Aku kan yang mengetik,”kata Dio protes.
Ani  jadi merasa bersalah. “Maaf. Maksudku bukan seperti itu,”katanya.
“Iya, aku tahu. Aku hanya bercanda.”kata Dio tersenyum.
Rutinitas Ani sekarang adalah menulis. Berbanding terbalik dengan aktivitas yang dulu sebagai model. Namun dengan melihat senyum mengembang di wajah Ani. Dia tampaknya sudah bahagia dengan keadaannya sekarang. Hanya satu yang mengganjal yaitu Ridho. Lelaki itu sampai sekarang tidak ada kabarnya.

***
“Kak, dimana aku? Kenapa semuanya gelap?”
Aku terdiam. Aku tak mampu bersuara. Suaraku tercekat di tenggorokan.
“Kakak! Kenapa Diam!”Suara paniknya bergetar di telingaku.
“E...”lagi-lagi aku tak mampu untuk bersuara.
“Oh! Tuhan. Bantu aku untuk lari...”
Akhirnya setelah beberapa waktu berada dalam situasi tak mengenakkan, aku bisa pergi meninggalkan dirimya yang sekarang tertidur pulas. Sebelumnya ia terus meronta melihat kondisi buruknya.
“Setelah apa yang telah kamu lakukan pada adikku. Lantas kamu bisa pergi begitu saja!”gumamku geram. Tanganku mengepal. Darahku sudah naik ke ubun-ubun. Aku sudah membulatkan tekadku.
Album foto itu sekarang ada di hadapanku. Ku tatap satu persatu wajah orang di dalam foto itu. Sampai pada lembar ke empat,  aku terpaku. Ku ambil  lembar foto itu. Aku meremas foto itu sekuat tenaga seolah ingin meremukkan badan orang yang ada dalamnya.
***
Seorang Lelaki sedang menyusuri jalan di sebuah gang. Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah mewah ber cat hijau. Beberapa pot bunga dan pohon menghiasi halaman depan rumah itu.  Dia bersembunyi ketika melihat seorang gadis keluar dari pintu rumah itu. Dia mengamati kepergian gadis itu. Ia memandang kepergian gadis itu dengan senyum menyeringai.
Dia kini berjalan disekitar kampus.
“Aduh! Hati-hati dong kalau jalan!”seru Dio kesal. Buku-buku ditangannya berhamburan di lantai.
“Maaf.”kata lelaki itu.
Dio memunguti buku-bukunya sambil di bantu lelaki itu.
“Sekali lagi maaf, ya.”jawabnya sambil berlalu.
Dio mengamati kepergian lelaki itu. Keningnya berkerut  mengingat sesuatu. Dia lalu menggelengkan kepalanya.
“Si kutu buku datang.” Gumam Intan senang melihat kedatangan Dio.
Dio manyun dipanggil seperti itu.
“An, nanti ada pemotretan lagi?”tanya Dio setelah dia duduk didepan Ani dan Intan.
“Iya.”
Dio mendesah. Itu berarti acara nonton mereka bertiga tertunda lagi.
“Apa tidak ada waktu libur. Tiap hari sibuk terus. Kapan kamu punya waktu buat kami. Kalau pun libur, pasti waktunya buat Ridho,”cerocos Intan.
“Maaf. Aku janji lain kali pasti aku ikut pergi bersama kalian.”
Mereka lalu berjalan masuk ke Perpustakaan. Setelah memilih beberapa buku, mereka lalu duduk di meja yang berdekatan.  
Secara tak sengaja Dio memandang sebuah meja yang tak jauh dari meja mereka. Lelaki yang ditabraknya tadi duduk disana.
“Apa dia juga kuliah disini?”gumam Dio yang membuat dua sahabatnya menoleh.
“Kamu ngomongin siapa?”tanya Intan.
Dio menunjuk lelaki berbaju biru. Intan dan Ani menoleh melihat lelaki itu. Lelaki yang dipandang ikut menoleh. Lelaki itu tersenyum sekilas dan melanjutkan acara membacanya.
“Memangnya kamu kenal?”tanya Ani
“Ngga yakin, sih. Tapi, rasa-rasanya aku pernah melihatnya. Aku lupa dimana,”kata Dio tak yakin.
 “Perasaanmu aja kali.”kata Intan.
“Mungkin.”kata Dio manggut-manggut.
Mereka lalu melanjutkan acara membaca. Tanpa mereka sadari lelaki yang mereka bicarakan tadi memandang tajam pada mereka. Lelaki itu lalu berlalu pergi dengan senyum menyeringai.
Dio secara tak sengaja melihat kepergian lelaki itu. Dia masih penasaran siapa sebenarnya lelaki itu.


Selanjutnya:


Thursday, October 08, 2015

PESAN PALSU


Aku merasakan tubuhku terguling. Aku bagai ditinju dan dibanting oleh tangan kuat.  Seketika pandangan mataku kabur. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Ani!”kata suara itu memanggil namaku.
Aku bergerak pelan
“Aku dimana?”tanyaku pelan dengan kesadaran yang hampir pulih.
“Kenapa semuanya gelap? Mataku!”
Perlahan aku raba mataku. Aku tak merasakan ada sesuatu yang menghalangi pandanganku.
“Mataku kenapa?”tanyaku menahan panik. Aku berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan diriku. Aku sekarang ingat dengan jelas kalau mobil yang ku tumpangi terguling.
 “Apa ini mati lampu?”tanyaku lagi.
“Nak?”
Itu suara Ibuku.
“Kenapa gelap? Hidupkan lampunya, Bu! Ani tak bisa melihat apa-apa,”pintaku.
Suara Ibu seakan menghilang dan tertahan.
“Ibu?”tanyaku
Sekarang aku mendengar suara isak yang tertahan. Aku panik dan sudah tak bisa mengendalikan diriku. Beberapa orang menahan tubuhku. Dokter kemudian datang. Aku tak tahu apa yang terjadi. Apakah aku sudah menjadi buta. Jika benar, sungguh ini serasa kiamat bagiku. Aku teringat karirku yang sudah pasti akan berakhir. Aku menyesal. Kenapa aku tidak mati saja saat mobilku terguling.
***
Aku terdiam di sebuah bangku taman di belakang rumahku. Aku memang terbiasa duduk disana. Ini serasa mimpi buruk. Terkadang rasanya ingin mati saja. Rasanya ini seperti  lelucon yang tak berhasil. Aku masih saja meratapi nasib yang membuatku tak bisa lagi melihat dunia.
“Udara disini enak, ya,”kata sebuah suara.
Aku menoleh ke sumber suara. Kepalaku kembali menghadap ke arah semula lagi. Hening.
Aku merasakan kalau ia duduk di sampingku.
“Masih ingat aku? Ini aku, Dina,”
Aku terkejut.
“Apa dia Dina, taman SMAku sekaligus mantan kekasih mas Ridho sewaktu masih SMA dulu? Untuk apa dia datang kemari. Apa dia ingin melihatku yang begitu menyedihkan,”
“Aku datang kemari karena mendengar kabar tentangmu. Sungguh! Aku terkejut. Tapi...,aku turut sedih melihat keadaanmu. Yang sabar ya,”katanya
Aku masih terdiam.
“O,ya. Bagaimana kabar mas Ridho sekarang?Aku dengar kalian akan menikah,”tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dengan keadaanmu saat ini apa kamu akan tetap menikah dengannya?”tanyanya lagi.
“Apa!”kataku terkejut. Hatiku bergemuruh.
“Iya. Maksudku, kamu kan tahu keadaanmu saat ini yang tak bisa melihat. Bagaimana kamu nanti akan melayani suamimu dalam kondisi yang buta begini. Yah, kalau aku di posisimu sih aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan orang lain,”katanya blak-blakan.
Dadaku sesak. Kata-kata Dina terasa sangat menyakitkan. Aku sadar, kondisiku saat ini sudah berbeda. Dina benar.  Aku tak mungkin bisa membahagiakan mas Ridho dalam kondisi cacat seperti ini. Sungguh! Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sedih.
“Eh! Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih,”katanya
 “Apa kamu masih mengharapkannya?”tanyaku menahan perasaan.
“Apa! Oh, bukan seperti itu. Maksudku adalah....,”
 “Ngapain kamu disini!”terdengar suara lantang di belakang kami. Aku tahu itu suara Dio.
“Ngapain apanya! Aku mengunjungi Ani yang sedang sakit. Emang kenapa? Ada yang salah?”kata Dina
“Mengunjungi! Mengunjungi apa? Yang ada kamu hanya akan merusak suasana,”seru Dio kesal.
“Merusak suasana! Memang aku ini pembuat onar! Ya, sudah! Aku pulang saja. Aku pulang, An. Lain waktu aku datang lagi.”kata Dina bangkit.
“Iya. ”kataku pelan.
Dina memandang Dio kesal. Sambil mengucapkan salam dia pun berlalu pergi.
 “Kau tidak apa-apa?”katanya cemas.
Aku menggeleng
“Jangan dengarkan apa yang dikatakannya. Mulutnya itu memang racun.“kata Dio
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Sejak kecelakaan yang membuat aku tak bisa melihat, aku jadi jarang berbicara.
“Malam ini indah ya...,”katanya.
Dia sekarang duduk di samping kananku. Aku hanya tersenyum tipis.
 “Tidak ada gunanya meratapi nasib. Ada banyak hari indah yang dapat kamu lalui. Kamu tahu, ada begitu banyak orang yang mengalami nasib yang sama sepertimu bahkan ada yang jauh lebih buruk. Kamu harus semangat! Kamu tidak sendiri. Ada banyak orang yang akan selalu mendukungmu. Mereka ingin melihatmu bangkit. Sama seperti aku yang tak ingin melihatmu terus terpuruk seperti ini,”katanya meyakinkanku.
Aku hanya mendesah mendengar omongannya. Manusia memang gampang berucap. Coba dia ada diposisiku. Apa dia juga akan bisa bicara seperti itu.
“Besok, kita pergi pagi-pagi. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu.”kata Dio akhirnya.
Aku tetap bergeming. Aku mendengar Dio mendesah.
“Apa kamu sudah menyerah, Dio. Aku mohon berhentilah! Untuk apa kamu terus berada di dekat orang yang cacat sepertiku. Itu tidak ada artinya.”gumamku sedih.
Aku menjalani hari-hari yang tak menyenangkan selama beberapa waktu. Mengurung diri di kamar. Duduk dalam diam di taman belakang rumah. Dan selebihnya ku habiskan dengan tidur. Sungguh hari yang buruk dalam hidupku.
Selang tiga bulan kemudian. Aku mulai bisa tersenyum. Rintihan tangis ibuku di akhir malam menyadarkan aku. Ibuku mungkin sudah lelah dan pasrah tentang keadaanku. Aku tak ingat, sudah sejak kapan aku tak pernah mengerjakan ibadah yang satu itu. Aku terlalu terlena. Apakah kebutaanku adalah teguran dari-Nya?

Maafkan aku ibu atas air mata yang sudah engkau keluarkan untukku. Aku janji aku akan bangkit. Tunggulah aku. Aku mohon jangan menyerah untukku.

Selanjutnya: