Entah kenapa setiap sore selalu hujan lebat. Yang membuatku heran ini bukankah waktunya musim penghujan. Musim penghujan harusnya sudah lewat. Atau mungkin sudah terjadi pergeseran musim. Entahlah. Aku tak paham dengan dunia geologi ataupun klimatologi. Yang aku tahu, harusnya sudah musim kemarau.
Aku berjalan di trotoar yang licin sehabis hujan sejam yang lalu. Mengesalkan memang harus siap sedia payung dikala musim harusnya sudah berganti. Tapi lumayanlah. Udara menjadi tidak begitu panas. Kutengok langit diatas sana. Langit nampak keabu-abuan. Bahkan diujung sana sudah hitam pekat. Alamat hujan lebat lagi. Ku segerakan langkahku menuju rumahku yang berjarak 300 meter jauhnya dari tempatku berdiri.
Aku memilih tidak naik angkot ataupun okek, selain ngirit ongkos. Juga jarak yang ku tempuh nanggung.
"Bajunya, mba. Murah meriah. Lihat-lihat dulu, boleh."kata pedagang di pinggir trotoar yang harusnya buat pejalan kaki.
Aku menggeleng.
"Sepatu, mba...bagus-bagus. Cocok buat mba...mari, lihat-lihat dulu."kata pedagang yang satunya lagi ketika alu lewat didepannya.
Aku mendengus. "Tidak, Bang."
Aku mempercepat langkahku. Rintik hujan mulai berjatuhan. Aku membuka payungku. Lalu buru-buru melangkah.
"Payung, payung...payungnya, mba."kata pedagang yang menghalau langkahku.
"Ya, ampun. Ngga lihat apa aku sudah pakai payung."gumamku dalam hati
"Enggak, Bang."kataku
Aku semakin mempercepat langkahku.
Aku tak sadar kalau ada dua orang yang mengikutiku. Mereka memepet langkahku. Aku heran dengan apa yang mereka lakukan.Beberapa saat kemudian mereka berjalan cepat dan langsung naik Bus yang kebetulan lewat di sampingku. Aku hanya menggeleng melihat kelakuan mereka.
Aku melangkah lagi. Sialnya trotoar yang ku lewati tidak rata. Penuh lekukan dan bahkan berlubang disana-sini. Kakiku yang memakai Hak agak tinggi kesleo. Aku merasakan sakit dikakiku. Hujan turun dengan derasnya.
"Tasnya sobek ya, mba. Itu isinya pada mau keluar."Tegur seorang Ibu berbaju batik.
Aku menengok tasku dan kaget melihat tasku sudah menganga dibagian bawah. Aku heran, perasaan tadi baik-baik saja. Aku lalu meneliti isi tasku. Astaga, dompetku tidak ada. Kucari disetiap jalan yang aku lewati. Tapi dompet itu tidak kelihatan. Aku kesal bukan main.
"Makanya hati-hati, mba."kata pedagang payung itu senyam-senyum.
"Memang apa yang hilang, mba?"tanyanya masih senyam-senyum.
Aku tak menggubrisnya. Aku lalu berjalan cepat dengan hati tak karuan. Aku benar-benar marah bercampur kesal. Pengen aku melepar pedagang itu yang tidak ada rasa empatinya sama sekali.
Aku baru sadar kalau kecopetan. Aku jadi ingat dua orang yang memepetku tadi.
Ku umpat dua orang yang mengambil dompetku biar celaka. Lalu aku mengelus dada akan perkataanku.
"Astaughfirullah. Apa yang telah ku katakan."gumamku.
Aku jadi menyesali tindakanku. Karena kebiasaanku yang tidak sabaran. Hingga aku memutuskan pulang sendirian padahal suamiku akan menjemputku. Akhirnya, beginilah jadinya. Selain berdosa karena tidak menuruti permintaan suamiku. Aku juga celaka.
Bandung, 16.34.
21 Maret 2015