Monday, April 21, 2014

Cinta Dinegeri Ginseng


Aku datang saat kuncup bunga sedang mekar. Ini adalah musim semi di korea. Pemandangan yang indah. Aku berdiri menghadap sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku. Kesempatan yang langka. Dan tak pernah terpikirkan kalau aku akan berdiri disini.
“Mau nyanyi lagu apa?”tanyamu.
Aku tersenyum.
“Boleh saya nyanyi lagu yang bukan lagu anda?”tanyaku. Kamu mengerutkan kening. Lembar profilku yang ada ditanganmu kau buka.
“Baiklah,”katamu.
Alunan suara piano mulai mengalun indah. Suara yang ku keluarkan sepertinya membuatmu terkejut. Entah karena aku bernyanyi bagus atau karena kau tak paham dengan bahasa yang aku gunakan. Aku terus bernyanyi. Tak ku hiraukan wajahmu dengan ekspresi yang tidak kumengerti. Akhirnya alunan musik itu berhenti setelah aku mengakhiri lirik lagu yang aku nyanyikan. Semua bertepuk tangan tak terkecuali kau. Aku hanya tersenyum dan berharap aku bisa lolos dalam audisi yang kau selenggarakan untuk penggemarmu. Aku tak bermaksud melupakan lagumu. Aku hanya ingin menyanyikan lagu yang sering ku nyanyikan ketika bersama teman-temanku ketika masih di negeri keduaku. Bukan berarti aku juga tak hafal lagumu. Aku hafal. Hanya saja sejak tadi aku hanya mendengar lagumu dari para peserta yang sebelumnya. Aku merasa, tidakkah kamu bosan.
“Boleh aku tahu lagu apa yang kau bawakan?”tanyanya
“Itu lagu dari penyanyi asal Indonesia,”jawabku.
Aku lalu menjelaskan artinya dalam bahasa korea. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa  kamu menyanyikan lagu ini? Tak takutkah kau kalau kamu tidak lolos dalam audisi ini? Hanya kamu yang menyanyikan lagu dalam bahasa lain,”tanyamu.
“Tidak. Saya melihat tidak ada larangan membawakan lagu dalam bahasa lain. Saya hanya ingin di nilai berdasarkan saya menyanyi. Bukan karena saya menyanyi dengan bahasa yang saya gunakan,”jawabku. Kamu tertegun sesaat. Lalu kamu tersenyum memandangku.
“Namamu Choi Nilam sari ajeng? Nama yang aneh untuk seorang berwarga negara korea,”
“Itu karena Ibu saya dari Indonesia. Ayah saya warga negara korea dengan marga Choi. Dan Nilam sari ajeng adalah nama yang diberikan oleh Ibu saya. Jadi nama saya penggabungan keduanya,”kataku menjelaskan. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu ngga menyanyikan laguku?”tanyamu.
“Saya hanya ingin menyanyikan lagu itu. Memangnya tidak boleh kalau saya bernyanyi lagu lain?”tanyaku balik. Kamu mengerutkan kening.
“Boleh”jawabmu datar.
Kamu mungkin heran. Dari sekian banyak peserta mungkin hanya aku yang berani bersuara jutek. Kamu lalu berdiskusi dengan kedua juri yang lain.
“Baiklah. Tunggu hasilnya nanti, ya,”katamu sambil tersenyum. Senyuman yang tadinya hanya bisa kulihat di televisi dan internet. Sekarang aku bisa melihatnya dalam jarak dekat.
Aku harus menunggu sampai minggu depan untuk melihat hasilnya.
Seminggu kemudian, aku datang ke tempat audisi untuk mengetahui siapa yang lolos audisi. Sudah banyak para peserta yang berkerumun. Disana juga sudah ada sebuah panggung yang tidak terlalu besar. Aku menanti pengumuman bersama dengan kecemasanku dan  peserta yang lain. Sebenarnya aku ngga begitu percaya diri. Banyak peserta yang lebih bagus daripada aku. Tapi, harus semangat. Kalau sudah rezeki pasti ngga akan kemana. Bayangkan saja, hadiah kalau menang adalah sebuah rumah dan rekaman denganmu. Kapan lagi aku punya rumah sendiri di korea. Dan rekaman! Mungkin itu impian terbesar para penggemar untuk rekaman bareng idola. Termasuk aku.
Terlihat sang idola, Lee Jae Ho tiba yag disambut teriakan dan sorakan. Dia hadir bersama beberapa orang dan hanya satu orang yang menemaninya naik ke atas panggung. Para peserta mulai menanti dengan harap-harap cemas. Ada sebuah layar monitor yang akan menampilkan nama peserta yang lolos. Sehingga meski nanti para peserta tidak bisa mendengar dengan jelas karena berisik tapi masih bisa melihat layar monitor didepan. Sang pembawa acara mulai aksinya. Tak berapa lama kemudian dia menyerahkan pegang kendali kepada Jae Ho. Jae Ho memulai dengan berbasa-basi sebentar. Lalu mulai terdengar alunan musik yang membuat seisi ruangan histeris. Jae Ho akan membawakan sebuah lagu dan meminta kami bernyanyi untuk mengurangi ketegangan. Setelah kau selesai menyanyikan sebuah lagu, terdengar kata “lagi” di teriakkan oleh penggemarmu. Kamu hanya tersenyum menanggapinya dan berkata “apa kalian sudah tak sabar untuk mendengar hasilnya?” dan di jawab “ya” oleh kami para peserta.
Layar monitor mulai menyala.