Aku datang saat kuncup bunga
sedang mekar. Ini adalah musim semi di korea. Pemandangan yang indah. Aku
berdiri menghadap sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku.
Kesempatan yang langka. Dan tak pernah terpikirkan kalau aku akan berdiri disini.
“Mau nyanyi lagu apa?”tanyamu.
Aku tersenyum.
“Boleh saya nyanyi lagu yang
bukan lagu anda?”tanyaku. Kamu mengerutkan kening. Lembar profilku yang ada
ditanganmu kau buka.
“Baiklah,”katamu.
Alunan suara piano mulai mengalun
indah. Suara yang ku keluarkan sepertinya membuatmu terkejut. Entah karena aku
bernyanyi bagus atau karena kau tak paham dengan bahasa yang aku gunakan. Aku
terus bernyanyi. Tak ku hiraukan wajahmu dengan ekspresi yang tidak kumengerti.
Akhirnya alunan musik itu berhenti setelah aku mengakhiri lirik lagu yang aku
nyanyikan. Semua bertepuk tangan tak terkecuali kau. Aku hanya tersenyum dan
berharap aku bisa lolos dalam audisi yang kau selenggarakan untuk penggemarmu.
Aku tak bermaksud melupakan lagumu. Aku hanya ingin menyanyikan lagu yang
sering ku nyanyikan ketika bersama teman-temanku ketika masih di negeri keduaku.
Bukan berarti aku juga tak hafal lagumu. Aku hafal. Hanya saja sejak tadi aku
hanya mendengar lagumu dari para peserta yang sebelumnya. Aku merasa, tidakkah
kamu bosan.
“Boleh aku tahu lagu apa yang kau
bawakan?”tanyanya
“Itu lagu dari penyanyi asal Indonesia,”jawabku.
Aku lalu menjelaskan artinya
dalam bahasa korea. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu menyanyikan lagu ini? Tak takutkah kau
kalau kamu tidak lolos dalam audisi ini? Hanya kamu yang menyanyikan lagu dalam
bahasa lain,”tanyamu.
“Tidak. Saya melihat tidak ada
larangan membawakan lagu dalam bahasa lain. Saya hanya ingin di nilai
berdasarkan saya menyanyi. Bukan karena saya menyanyi dengan bahasa yang saya
gunakan,”jawabku. Kamu tertegun sesaat. Lalu kamu tersenyum memandangku.
“Namamu Choi Nilam sari ajeng?
Nama yang aneh untuk seorang berwarga negara korea,”
“Itu karena Ibu saya dari
Indonesia. Ayah saya warga negara korea dengan marga Choi. Dan Nilam sari ajeng
adalah nama yang diberikan oleh Ibu saya. Jadi nama saya penggabungan
keduanya,”kataku menjelaskan. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu ngga menyanyikan
laguku?”tanyamu.
“Saya hanya ingin menyanyikan
lagu itu. Memangnya tidak boleh kalau saya bernyanyi lagu lain?”tanyaku balik.
Kamu mengerutkan kening.
“Boleh”jawabmu datar.
Kamu mungkin heran. Dari sekian
banyak peserta mungkin hanya aku yang berani bersuara jutek. Kamu lalu
berdiskusi dengan kedua juri yang lain.
“Baiklah. Tunggu hasilnya nanti,
ya,”katamu sambil tersenyum. Senyuman yang tadinya hanya bisa kulihat di
televisi dan internet. Sekarang aku bisa melihatnya dalam jarak dekat.
Aku harus menunggu sampai minggu
depan untuk melihat hasilnya.
Seminggu kemudian, aku datang ke
tempat audisi untuk mengetahui siapa yang lolos audisi. Sudah banyak para
peserta yang berkerumun. Disana juga sudah ada sebuah panggung yang tidak
terlalu besar. Aku menanti pengumuman bersama dengan kecemasanku dan peserta yang lain. Sebenarnya aku ngga begitu
percaya diri. Banyak peserta yang lebih bagus daripada aku. Tapi, harus
semangat. Kalau sudah rezeki pasti ngga akan kemana. Bayangkan saja, hadiah
kalau menang adalah sebuah rumah dan rekaman denganmu. Kapan lagi aku punya
rumah sendiri di korea. Dan rekaman! Mungkin itu impian terbesar para penggemar
untuk rekaman bareng idola. Termasuk aku.
Terlihat sang idola, Lee Jae Ho
tiba yag disambut teriakan dan sorakan. Dia hadir bersama beberapa orang dan
hanya satu orang yang menemaninya naik ke atas panggung. Para peserta mulai
menanti dengan harap-harap cemas. Ada sebuah layar monitor yang akan
menampilkan nama peserta yang lolos. Sehingga meski nanti para peserta tidak
bisa mendengar dengan jelas karena berisik tapi masih bisa melihat layar
monitor didepan. Sang pembawa acara mulai aksinya. Tak berapa lama kemudian dia
menyerahkan pegang kendali kepada Jae Ho. Jae Ho memulai dengan berbasa-basi
sebentar. Lalu mulai terdengar alunan musik yang membuat seisi ruangan histeris.
Jae Ho akan membawakan sebuah lagu dan meminta kami bernyanyi untuk mengurangi
ketegangan. Setelah kau selesai menyanyikan sebuah lagu, terdengar kata “lagi”
di teriakkan oleh penggemarmu. Kamu hanya tersenyum menanggapinya dan berkata “apa
kalian sudah tak sabar untuk mendengar hasilnya?” dan di jawab “ya” oleh kami
para peserta.
“Aku akan mulai membacakan
hasilnya. Kalian siap?”serumu.
“Siap!”jawab kami bersamaan.
“Kami disini tak akan
berlama-lama. Tapi sebelum mulai. Aku ingin memberi informasi kalau akan ada
tiga peserta yang lolos.”
Peserta bingung dan saling
pandang, termasuk aku. Bukankah hanya satu orang yang lolos. Kenapa ini ada
tiga. Terdengar suara kegembiraan dari para peserta di ruangan.
“Oke. Yang pertama. Siapa
ya?”katamu yang membuat kami semua deg-degan.
“Kim Jae ran! Selamat kamu
peserta pertama yang lolos. Silahkan maju ke depan!”serumu.
Aku sendiri mungkin akan bingung.
Nama korea kan banyak yang sama. Ada berapa nama Kim Jae ran yang mengikuti
audisi ini. Para peserta saling berpandangan. Ketika foto wajah peserta tampak
dilayar. Tiba-tiba seorang gadis berteriak histeris. Dia lalu cepat-cepat maju
kedepan hingga hampir terpeleset. Semua orang yang melihatnya terkejut dan tertawa.
Dia lalu menegakkan tubuhnya sambil berjalan dengan penuh percaya diri.
Sepertinya dia tak terpengaruh apapun.
“Naomi Hasimoto!”teriak jae Ho.
Aku terkejut. Itu kan nama Jepang.
“Ini yang terakhir. Aku deg-degan juga bacanya.
Kira-kira siapa, ya?”kata Jae Ho membuat seisi ruangan berada dalam kecemasan
yang sangat.
“Choi,”katanya menghentikan
ucapannya. Aku sudah benar-benar mulas.
Jae Ho tersenyum melihat kertas
ditangannya.
“Nama ini, emmm...Choi Nilam sari
ajeng. Silahkan kedepan!”Teriakmu. Aku syok. Aku seperti tak mempercayai
telingaku. Apakah itu namaku yang disebut. Aku langsung cubit pipiku. Rasanya sakit.
Berarti aku tak sedang bermimpi. Tapi tunggu! Apa ada yang namanya sama
denganku. Foto wajahku tak nampak dilayar.
“Choi Nilam Sari Ajeng!”Katamu
mengulangi panggilan namaku. Lalu terlihat foto wajahku dilayar. Aku lalu berdiri
dan maju kedepan. Badanku jadi gemetaran. Semua pasang mata mengarah padaku
ketika aku berjalan ke depan.
“Selamat, ya,”kata sebuah suara.
Aku tersenyum mengangguk. Tapi,
diantara mereka ada juga yang berbicara kalau itu tidak masuk akal. Mungkin
karena bagi mereka penampilanku aneh. Aku menggunakan rok panjang dari bahan
batik. Padanannya adalah kaos lengan pendek berwarna biru tua dengan hiasan
kancing berwarna hitam di lengan dan dadaku. Warna kaosku senada dengan warna salah
satu motif rok yang ku gunakan. Menurutku itu sudah matching. Batik kan sudah mendunia. Banyak orang top yang sudah
menggunakannya. Dan itu keren banget. Jika melihat kedua peserta yang lolos, penampilan
mereka itu memang sudah seperti artis-artis yang kulihat didrama-drama korea.
Mereka juga memakai make-up. Tidak sepertiku yang kubiarkan tanpa polesan
make-up sedikitpun. Bedakpun tidak, apalagi lipstik. Tapi, masa bodoh ah. Aku
berjalan tanpa menghiraukan kasak kusuk disekitarku. Aku sekarang berdiri
dijajaran para peserta yang lolos. Kamu menyalami kami satu-satu.
“Selamat, ya!”
Badanku gemetaran menerima uluran
tangannya. Aku hanya bisa menunduk tak berani memandangnya.
Jae Ho lalu menghadap para
peserta yang tidak lolos dan mengucapkan permohonan maaf kepada mereka karena
tidak bisa memilih mereka. Sebagai penutup, ia menyanyikan lagu yang baru
dirilis sebulan yang lalu. Kami semua ikut bernyanyi bersamamu. Tentu saja aku
sudah hafal lagu itu.
***
“Dari siapa?”tanya Ibuku.
“Managernya Jae Ho,”kataku pada
ibuku begitu aku selesai mematikan Handphone.
Managernya memintaku datang ke
studio musik milik Jae Ho. Aku sudah tak sabar ingin melihat seperti apa studio
musiknya. Itu kesempatan yang langka.
Esok harinya aku langsung tancap
gas ke studio milik Jae Ho. Sesampai di
sana aku disambut oleh manager Jae Ho dan juga beberapa orang yang aku tak tahu
siapa mereka. Aku diminta masuk karena yang lain sudah menunggu. Aku mengamati
setiap bagian studio itu. Benar-benar keren.
“Selamat datang,”kata Jae Ho yang
melihatku masuk ruangan. Aku takjub melihat begitu banyak alat musik disana.
Dan ada alat-alat untuk rekaman. Aku ngga tahu namanya itu apa. Jae Ran dan Naomi sudah ada didalam. Aku duduk
di samping Naomi.
“Oke. Karena sudah disini semua.
Kita mulai saja. Hari ini kita akan take
vocal. Sebenarnya aku hanya ingin memilih satu orang dan bukan tiga orang.
Kalian punya suara yang bagus dan unik. Aku masih bingung menentukan yang mana.
Makanya kalian aku pilih. Selama beberapa kali kesempatan, aku baru bisa tentukan siapa yang akan rekaman denganku.
Kalian mengerti maksudku? Ada yang ingin ditanyakan?”
Kami bertiga menggeleng. Jae Ho
lalu manggut-manggut. Sungguh! Tentunya bukan aku saja yang panas dingin berada
dalam jarak dekat denganmu. Ku lihat Jae ran dan Naomi malah tak berkedip dan
terus memandang wajah tampanmu.
“O, ya. Choi! Emmm..., namamu!
Aku manggil kamu dengan sebutan apa? Orang-orang biasa memanggilmu dengan nama
panggilan apa?Choi? Nilam? Atau siapa? Namamu panjang dan terasa aneh
ditelingaku,”kata Jae Ho panjang lebar. Aku jadi kesal. Anehnya dimana. Nama
bagus-bagus dibilang aneh. Itu penghinaan atau pujian. Kenapa hanya aku.
Bukankah Naomi Hasimoto itu juga bukan nama korea.
“Kok diam?”tanyamu lagi. Jae Ran
dan Naomi juga memandangku. Aku jadi kikuk dipandang begitu.
“Terserah anda saja,”kataku
akhirnya.
“Baiklah. Emm, lam-lam aja ya,” Katamu.
Aku kesal bukan main. Panggil nama seenaknya.
“Apa! Kenapa Lam-lam?”tanyaku
protes.
“Kenapa? Bukankah kamu bilang
terserah aku mau memanggilmu apa,”katamu cuek. Aku benar-benar kesal. Apa aslinya
dia itu menyebalkan.
“Jadi? Mau dipanggil apa?”tanyamu.
Aku cemberut dan memandang kearah lain. Kamu tersenyum dan menggeleng pelan lalu beralih ke
sebuah meja di dekat piano.
Kekesalanku sempat terbawa saat take vocal dimulai. Dibandingkan dengan
yang lain, aku yang harus mengulang lebih banyak daripada yang lain. Aku tak
menghiraukan Jae Ho dan lainnya yang
beberapa kali mendesah dan menahan kesal. Lagian ini kan baru pertama kali.
Berbeda kalau sudah ratusan kali. Penyanyi yang sudah berpengalaman saja kadang
masih suka mengulang dan melakukan kesalahan kok.
“Baiklah. Cukup sampai disini
dulu. Nanti jadwal selanjutnya akan menyusul. Managerku yang akan menghubungi
kalian lagi,”kata Jae Ho mengakhiri ucapannya.
Jae Ran dan Naomi rupanya masih
ingin berada di studio ini. Mereka minta foto bareng Jae Ho. Aku yang masih bad mood memilih segera keluar dari
studio. Rupanya Jae Ho juga cepat-cepat pergi setelah berfoto bareng mereka.
Dari yang aku dengar, dia ada pemotretan majalah. Aku berjalan ke halte
menunggu bus yang lewat. Sebuah van warna putih lewat dan membunyikan klakson.
Terlihat Jae Ho melambai ke arahku dari dalam mobil. Aku jadi heran.
Tumben-tumbenan dia mau berbuat begitu dengan penggemarnya. Kenapa ngga
nebengin sekalian. Ngarep.
Musim semi kedua...
Kalau di korea musim semi. Tidak
bagi Indonesia yang beriklim tropis. Hari ini hujan sudah seperti menghujam
bumi. Kondisi iklim sekarang sudah sedemikian tak terkontrol. Jika siklus
perubahan iklim itu dahulunya teratur, tapi tidak untuk sekarang. Tak bisa
diprediksi dengan pasti kapan akan musim hujan atau kemarau. Terkadang seperti
tahun ini, di daerahku Yogyakarta. Musim hujan terasa sangat lama. Kadang
beberapa hari hujan, kadang beberapa hari cuaca panas. Begitu seterusnya.
Aku kembali ke negeri ini karena
rindu dengan nenekku. Aku hanya sendirian saja. Mungkin aku akan disini dalam
waktu yang lama. Di earphoneku sekarang mengalun indah sebuah lagu dari pasangan
Jae Ho dan Jae ran. Duet yang pas untuk sebuah lagu balad. Yah, aku memang gagal
untuk bisa rekaman dengannya.
Ku buka Laptop kesayanganku. Aku
iseng membuka pesan di emailku yang sudah beberapa waktu tidak kubuka. Ada
beberapa pesan masuk. Aku terkejut mendapati sebuah nama tertera di inbox. Jae
Ho. Aku lihat tanggal pengirimannya. Oh! Baru sehari yang lalu. Kalau dalam
bahasa Indonesia terjemahannya seperti ini.
“Apa kabar? Beberapa hari yang lalu aku
datang ke rumahmu. Tapi, kamu malah tidak ada disana. Apakah tidak memberi
kabar adalah suatu hal yang suka kamu lakukan?”
Aku tersenyum membaca pesan itu. Beberapa
hari setelah audisi itu, Jae Ho memang beberapa kali datang ke rumahku di
korea. Kami menjalin pertemanan yang baik. Tapi, itu hanya bertahan dalam
hitungan hari. Setelahnya seperti tak ada kabar. Beberapa hari sebelum aku ke
Indonesia, aku dikejutkan dengan ajakannya untuk makan malam bersama. Aku
terima ajakan makan malam itu karena ada Jae Ran juga disana. Naomi berhalangan
datang karena ada urusan penting di negerinya. Kudengar dia sekarang sedang
terlibat dalam sebuah drama disana.
Aku bingung mau balas emailnya
seperti apa. Aku urungkan membalas pesannya. Ku klik tulisan sign out. Aku lalu berselancar membuka
akun facebookku. Ada tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat status
teman-temanku. Banyak diantara mereka yang curhat masalah yang menimpa mereka
di akun ini. Bukankah seharusnya kita tak mengumbar urusan pribadi ke publik
meski itu sekedar melampiaskan luapan emosi atau kesedihan dengan sesama teman.
Tapi kan teman di facebook banyak yang tidak kita kenal. Aku melihat-lihat
status yang lain. Aku terpaku melihat artikel tentang Jae Ho disana. Aku memang
menyukai fanpage Jae Ho makanya kabar tentangnya yang diupdate dari Officialnya
selalu nongol di laman beranda. Aku jadi ingat emailnya. Apakah tidak sebaiknya
aku membalas emailnya. Aku lalu menggelengkan kepala. Aku keluar dari akun
facebookku. Aku tak mengerti kenapa pikiranku jadi tak menentu. Bayangan Jae Ho
sekarang memenuhi pikiranku. Aku berfikir, mungkin karena sejak tadi aku
mendengarkan lagunya. Aku lalu mematikan musik di MP3ku. Ku rebahkan tubuhku
sebentar di tempat tidur seolah lelah setelah seharian bekerja. Bayangan
wajahnya benar-benar menari di pikiranku. Aku bisa gila kalau begini. Aku lalu
memutuskan keluar kamar mencari udara segar.
“Mau kemana, nduk?”tanya nenek yang
melihatku memakai jaket ketika keluar dari kamar.
“Nek, Nilam mau keluar sebentar.
Nenek mau nitip apa?”tanyaku.
“Tidak. Ini sudah malam.
Hati-hati dijalan!”pesannya.
Aku mengangguk.
“Nilam pergi dulu ya, nek. Assalamu’alaikum,
nek.”kataku memberi salam.
“Wa’alaikum salam. Ngati-ati ya, nduk.”jawab nenek.
Aku tersenyum dan mengangguk.
Dirumah ini hanya ada nenek dan
aku. Kakek sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sungguh sebuah kesepian yang
sangat mengingat semua anaknya tidak berada disisinya. Mereka tersebar di
beberapa kota di negeri ini. Ada yang di Surabaya, Jakarta, dan Kalimantan. Putri bungsunya justru berada di negeri yang
jauh yaitu korea. Dia adalah ibuku. Beruntung masih ada keluarga adiknya yang
setiap saat mengunjungi nenek meski rumahnya berjarak satu jam perjalanan dari
rumahnya. Aku ingin sekali tinggal selamanya menemani nenek disini. Tapi
keinginan itu hanya bisa ku wujudkan kala aku menikah dengan orang Indonesia.
Aku kembali ke rumah nenek sejam
setelahnya. Martabak manis yang ku beli diseberang jalan tadi masih hangat
ketika tiba di rumah nenek. Aku selalu membawa kunci serep. Nenek biasanya
sudah tertidur. Beliau selalu tidur jam setengah sembilan malam. Dan bangun
pada saat orang masih terlelap yaitu jam dua pagi. Dia selalu sholat tahajud.
Aku kagum dengan pribadinya yang religius. Aku pernah diajak sholat tahajud.
Namun dalam seminggu aku hanya bisa dua kali melakukan sholat tahajud. Rasa
malas dan hawa dingin disini membuatku enggan mengikuti ajakannya. Padahal di
korea sana, cuaca dinginnya berlebih-lebih daripada di Indonesia. Tapi aku
selalu mengikuti ajakan ibuku yang setiap saat sholat tahajud juga. Jauh dari
orang tua malah menjadi malas.
Ku buka emailku lagi. Jae Ho
mengirimi aku dua pesan lagi.
“Hai! Kok ngga dibalas? Apa
disana tidak ada akses Internet?”
Aku mendesis membaca pesannya.
Memangnya hanya korea saja yang punya akses internet. Ku buka pesan yang kedua.
“Ku tunggu tetap saja tidak ada
balasan. Apa aku harus kesana untuk memastikan apakah kau masih hidup atau
tidak?”
Aku terkejut membaca pesannya.
“Ini orang ngeselin banget. Dia
bilang aku masih hidup atau tidak? Keterlaluan.”kataku.
Tiba-tiba muncul ide di kepalaku.
Aku tersenyum geli menulisnya.
“Aku masih hidup. Enak saja.
Disini akses internet super cepat tahu.”
Aku menulisnya dalam bahasa
Indonesia. Aku tertawa geli membayangkan reaksinya.
Beberapa saat kemudian ada email
balasan. Aku tak menyangka dia akan membalasnya secepat ini.
“Heh! Bahasa apa yang kau
gunakan? Pakai bahasa yang bisa ku mengerti dong,”tulis Jae Ho. Aku
tertawa geli. Tapi aku tetap membalasnya menggunakan bahasa Indonesia.
“Hahaha. Makanya jangan
sembarangan ngatain orang. Kabarmu sehat?”tulisku cekikikan. Aku
membayangkan reaksi Jae Ho pasti kesal sekali.
“Hei! Ni-ni. Kamu mau mati ya!”tulismu.
Senyumku hilang melihat tulisan
“Ni-ni” disana. Nama apa itu. Kalau dalam bahasa Indonesia kan itu artinya
nenek-nenek. Aku membalasnya menggunakan bahasa Indonesia lagi dan mematikan emailku. Aku kesal setengah mati.
***
Aku tak mau membayangkan sesuatu
hal yang tak mungkin dapat ku raih. Meski dia bilang kalau menyukaiku. Tapi
jarak diantara kami sangatlah jauh. Dia adalah bintang yang bersinar terang
dilangit dan aku adalah orang yang hanya bisa melihatnya. Ditambah lagi
perbedaan prinsip diantara kami yang tak bisa di satukan.
“Nilam! Benarkah kamu menyukai Jae Ho?”tanya Jae Ran suatu hari.
Sejak rekaman pertama itu.
Hubungan Jae Ran dan Jae Ho memang dekat. Jae Ran menaruh harapan besar
padanya. Tapi tidak bagi Jae Ho. Dia hanya menganggap Jae Ran sebagai partner
dan sebagai sesama teman saja. Jae Ho
yang mengatakannya padaku. Tapi aku tak mau terpengaruh biarpun itu
kenyataannya. Aku tak mau terjebak kedalam perasaan cinta yang akan membuatku
terluka lebih dalam.
Aku bingung mau jawab apa. Kalau
boleh jujur , aku memang menyukainya. Tapi
Jae Ran lebih cocok untuk Jae Ho. Mereka tidak terhalang oleh perbedaan
prinsip. Mereka serasi untuk disandingkan. Ganteng dan cantik. Aku mengira
hubungan mereka akan berlanjut ke hal serius ketika mereka terlibat dalam
rekaman dan drama. Jae ran memang telah menjadi artis sekarang. Rekaman
pertamanya dengan Jae Ho beberapa waktu yang lalu memuluskan jalannya menaiki
tangga popularitas.
Aku memandang Jae Ran yang mulai
berkaca-kaca.
“Aku kira dia menyukaiku.
Pandangan matanya ketika menatapku penuh arti. Tapi aku salah. Itu hanya
pandangan seorang teman tidak lebih. Dalam banyak kesempatan bersamanya, dia
malah membicarakanmu,”kata Jae Ran
Aku hanya diam saja mendengarnya.
Hatiku bergemuruh.
“Nilam! Kamu benar menyukai
dia?”tanyamu lagi.
Aku memandangnya.
“Kamu tahu kan. Aku dan dia tak
mungkin bersatu. Kami berbeda prinsip. Sulit untuk menyatukan dua hati dalam
perbedaan yang begitu mencolok. Lagian aku ini siapa. Aku tidak sepertimu.
Orang pasti akan lebih suka dia bersamamu daripada aku. Kalian cocok satu sama
lain,”kataku mengalihkan pandanganku.
“Aku bisa melihat kalau kau juga
menyukainya,”kata Jae Ran. Aku menoleh.
“Benarkan?”tanyanya memastikan.
“Itu tidak penting.”jawabku.
Jae ran mendesah.
“Baiklah. Setidaknya aku tahu
hatimu. Aku pergi.”kata Jae Ran
Aku masih terpaku ditempat.
Hatiku benar-benar sakit. Aku harus melupakannya. Aku bangkit menjauh dari
taman itu. Jalan didepanku seolah berubah menjadi kerikil tajam yang siap
mencabikku.
***
“Tak bisakah kita mencobanya? Aku
akan belajar,”kata Jae Ho meminta.
Aku menggeleng.
“Itu suatu hal yang sia-sia.
Jangan mengambil resiko terlalu besar. Apa kamu tidak takut kalau karirmu akan
hancur jika bersamaku. Tidak. Jangan lakukan itu,”jawabku.
Aku melihatmu sedih.
“Maafkan aku Jae Ho. Lebih baik
seperti ini saja. Kita hanya sebagai seorang teman.”kataku.
Kamu sepertinya tak kuat menahan
tangismu. Tapi airmatamu kau tahan agar tidak keluar. Bukan kau saja Jae Ho.
Hatiku juga sakit. Tapi ini lebih baik. Kita memang berada dijalan yang
berbeda.
Aku pergi meninggalkanmu yang
masih terpaku. Kamu tidak mengejarku dan hanya memandangku yang semakin menjauh.
Sampai dikamarku, tangisku pecah.
“Kenapa aku mesti menyukainya?
Harusnya tak ku biarkan dia masuk kedalam hatiku,”gumamku sedih.
Selang beberapa menit aku membuka
almariku. Kuputuskan untuk kembali lagi ke Indonesia. Setelah sebelumnya aku
memutuskan untuk kembali ke negara ini. Mungkin disana aku bisa menenangkan
diri dan bisa melupakannya.
Ayahku tak bisa mencegah
kepergianku lagi. Aku menceritakan apa yang terjadi padanya. Ayahku
membiarkanku pergi. Tapi kali ini dia juga ikut beserta dengan ibuku.
“Kita akan hidup tenang
disana,”kata Ayah yang membuatku berkaca-kaca. Aku memeluk ayah. Ibu menangis
terharu melihat kami.
“Nenek pasti senang melihat kita,
Ibu.”kataku. Ibu mengangguk dan membelai rambutku. Terlihat jelas kesedihan
dari raut wajahnya. Ibu mana yang tidak sedih jika anaknya terluka. Kami berpelukan
bersama. Aku sekarang tidur dipangkuannya. Rasanya beban ini sedikit berkurang.
Taksi yang membawa kami tiba
dihalaman rumah nenek yang asri. Nenek menyambut kedatangan kami dengan suka
cita. Terlihat sekali dia sangat merindukan anaknya. Dia peluk putri bungsunya
dengan erat dan menangis terharu. Terakhir ibu mengunjungi nenek adalah dua
tahun yang lalu.
Saat malam tiba, kami berkumpul
di ruang tamu. Nenek begitu terharu dan gembira karena kami memutuskan untuk
menetap di Indonesia.
“Bagaimana dengan pekerjaan
suamimu, nduk?”tanya nenek pada Ibu.
“Dia akan mengurus usahanya lagi
di Bandung,”kata Ibu menjelaskan.
Ibu manggut-manggut.
“Ibu! Bagaimana kalau ibu ikut
tinggal di Bandung saja,”kata Ayah dengan logat yang terasa aneh di dengar.
Maklum, logat bahasa Indonesia ayah masih belum jelas.
Nenek agak bingung mendengarnya.
“Maksudnya, bagaimana kalau ibu
ikut kami saja ke Bandung,”kata Ibu yang membuat nenek mengerti.
“Lah, piye to. Nanti yang ngurus
rumah siapa. Ibu dah betah disini. Biar saja ibu disini. Nanti kalau kangen kan
ibu tinggal dolan kesana,”kata nenek.
Aku mendesah. Nenek memang
orangnya susah kalau disuruh pindah dari rumahnya. Jangankan Ibu, kakak tertua
ibu saja tidak diturutinya. Pakde bahkan sudah sering membujuk untuk ikut tinggal
bersamanya tapi nenek tetap ngotot ingin tetap tinggal di Yogya. Semua anaknya
tak bisa berbuat apa-apa.
***
Musim semi ketiga
Aku takjub. Rumah di depanku begitu megah nan luas.
Sayang tak terawat. Rumah ini masih kokoh berdiri. Hanya beberapa bagian saja
yang perlu dicat ulang. Pemilik baru rumah ini meminta kami mendesain ulang
desain interiornya. Dan untuk bagian luar tinggal di cat ulang saja.
Pohon-pohon dan hamparan bunga tampak tidak terawat. Banyak bunga terlihat
kering dan mati. Halaman luasnya ditumbuhi rumput yang sudah selayaknya ilalang
meski hanya di beberapa sisi. Syukurlah sebagian besar halaman sudah di lapisi
marmer. Namun sayang, lantainya berlumut. Kalau di Indonesia rumah seperti ini
pasti sudah ada rumor hantunya. Aku memang sudah bekerja di sebuah perusahaan
properti di negeri ini sejak enam bulan yang lalu. Waktu itu aku tak tahu
kenapa aku memutuskan datang lagi ke negeri ini. Padahal hatiku juga masih
sama. Tapi ku pikir, waktu itu mungkin Jae Ho sudah melupakanku. Setelah hari
itu, dia tak menghubungiku lagi. Kini situasinya sudah berbeda.
Terdengar bunyi sms masuk. Jae Ho yang mengirimi aku
sms.
”Kamu pulang jam berapa?”
“Mungkin malam. Ada rumah yang minta didesain ulang
interiornya,”Jawabku.
Dia tak mengirimi aku sms lagi.
Kesan angker langsung terasa begitu kami memasuki
rumah. Bulu kuduku jadi merinding.
Ruangan tampak sedikit gelap meskipun pada siang hari. Mungkin karena kaca
jendela sudah di selimuti debu tebal. Ji
hoon , rekan kerjaku lalu menyalakan lampu. Beberapa pecahan kaca ku lihat
berserakan di lantai rumah. Barang-barangnya berserakan dimana-mana.
“Rumah ini kayak bekas perampokan,”gumamku.
“Mungkin saja,”sahut Young, rekan kerjaku yang lain. Setelah
melihat-lihat dan memotret ruangan, kami langsung pulang ke kantor. Malamnya
aku langsung pulang dan tidak menuruti ajakan teman-temanku untuk makan bersama.
“Aku lelah banget. Ingin istirahat,”kataku.
Sesampai di lobi apartemen, aku langsung melangkah
menuju lift. Aku hampir tak menghiraukan
jae Ho yang menunggu cemas di lobi apartemen.
“Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?”tanyamu cemas.
Aku hanya memandangnya.
“Baiklah kita masuk dulu.”katamu menuntunku.
Sesampai di ruangan apartemen kami, aku langsung
terduduk lemas. Jae Ho mengambilkanku air. Aku meminumnya dengan tangan
gemetaran. Jae Ho khawatir melihatku.
“Katakan padaku? Biar aku bisa membantumu,”pintamu.
Aku cemberut sembari merebahkan kepalaku di
pundaknya. Dia mengusap pelan rambutku lalu mendekapku erat.
“Tak kusangka perjalanan kesana melelahkan
juga,”kataku. Jae Ho tersenyum. Ku angkat wajahku. Beberapa hari ini aku memang
tak melihatnya. Dia sibuk di luar negeri. Jae Ho memang lebih banyak kerja di
balik layar sebagai sutradara dan produser. Hanya sesekali dia membintangi sebuah film
atau drama. Tapi kalau menyanyi dia masih aktif meski tak seperti dulu.
Jae Ho tersenyum,”Ada apa?”
Aku menggeleng dan tersenyum. Kamu juga tersenyum.
“Aku
merindukanmu.”katamu
Aku tersenyum mendengarnya. Dia tertegun memandangku.
“Ada apa?”tanyaku heran.
“Aku akan pergi selama sebulan ke Jepang,”katamu.
“Aku pasti merindukanmu,”katamu lagi.
Aku tersenyum mendengarnya.
“Dasar cengeng. Hanya sebulan ini,”kataku yang
disambut ekspresi tidak sukanya.
“Kamu bilang cuma sebulan. Kamu tahu ngga, aku tidak
bertemu denganmu tiga hari saja rasanya sudah bertahun-tahun. Dan ini, “hanya”
sebulan katamu!”katamu tak percaya.
“Baiklah. Baik. Aku pasti merindukanmu. Puas!”
“Kamu bicara begitu tidak ikhlas banget,”
“Iya, Oppa sayang. Aku pasti merindukanmu,”kataku
tersenyum manis.
“Ikutlah bersamaku ke Jepang! Kita bulan madu
disana,”Pintamu.
Dia benar.
Semenjak menikah, kami memang belum pernah bulan madu ke Negeri yang
sudah kami rencanakan sebelum menikah.
Aku teringat perisiwa beberapa waktu silam...
Jae Ho mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan
membukanya. “Maukah kamu menikah denganku?”pintamu. Aku terkejut bukan main.
Hatiku berdegup kencang. Aku bingung. Aku takut sekaligus senang.
“Tapi kita beda...”
“Aku akan mengikuti ajaranmu,”katamu yang membuatku
tak percaya.
“Tapi, bagaimana kalau kamu dimusuhi banyak orang.
Bagaimana kalau karirmu redup karena menikah denganku?”tanyaku masih dalam
kebingungan.
“Aku sudah mempersiapkannya jauh hari,”katamu.
“Apa?”tanyaku.
Kamu tak menjawab pertanyaanku.
“Hey! Gimana
ini?”tanyamu menunjuk cincin di tangannya.
Aku bingung. Aku lalu memandangnya serius.
“Kau serius?”
Jae Ho mengangguk. “Aku serius,”
“Keluargamu bagaimana?”tanyaku
“Mereka yang justru memintaku cepat-cepat melamarmu,”
Aku menunduk.
“Tapi, kamu harus datang ke keluargaku. Bukan hanya
memberiku cincin seperti ini,”
“Baiklah. Lusa
kita pulang ke Indonesia,”katamu
“Benarkah?”
Kamu mengangguk.
“Tapi bagaimana pekerjaanku?”tanyaku. Jae Ho
mendesah.
“Kalau mereka ngga memberimu ijin. Kau keluar saja.
Kan ada aku yang selanjutnya akan membiayai hidupmu?”kata Jae Ho.
“Baiklah,”
Jae Ho tersenyum.
“Jadi?”tanyamu lagi. Aku mengangguk. Jae Ho akan
memelukku tapi aku mundur beberapa langkah.
“Kenapa?”tanyamu.
“Belum boleh,”kataku yang membuatmu mendesah.
“O,ya. Bukannya
kau akan ke Jepang?”
“Nanti setelah kita menikah,”
Aku melongo tak percaya. Jae Ho tersenyum manis.
"Kita bulan madu disana?" tanyaku.
Kamu mengangguk
"Kita bulan madu disana?" tanyaku.
Kamu mengangguk
“Aku mencintaimu, Nilam,”gumam Jae Ho dalam hati.
Aku tak pernah menyangka. Pernikahan kami membuat
gempar seluruh publik korea. Hampir seluruh media cetak dan elektronik memuat
berita pernikahan kami. Apalagi berita kalau Jae Ho telah menjadi mualaf.
Selama hampir dua minggu lamanya segala bentuk berita baik miring maupun fakta
tersebar ke media. Hujatan dan dukungan mengalir silih berganti. Ibuku menangis
melihatku.
“Kamu pasti sudah siap menghadapi ini, kan,
nak?”tanyanya.
“Aku sudah siap, Ibu. Jangan khawatir. Doakan saja
yang terbaik untukku, Bu,”pintaku.
“Itu sudah pasti, nak,”
“Jangan pernah berhenti berdo’a. Dan beri dukungan
yang terbaik untuk suamimu,”
Aku mengangguk.
Aku masuk ke kamar dimana suamiku sedang duduk
membaca sebuah file.
“Maafkan aku, Oppa.”
“Kenapa kamu minta maaf. Kamu tidak salah,”katanya.
Jae Ho lalu menarikku ke dalam pelukannya.
Rupanya dia sedang melihat file pembatalan proyeknya.
“Kamu ngga menyesal, kan?”tanyaku. Air mataku mulai
mengalir.
Jae Ho memelukku erat. “Tidak.”
“Kamu kan pernah bilang. Rezeki itu bisa datang
darimana saja. Aku tak takut seandainya karirku di Industri hiburan meredup.
Buat apa karirku cemerlang kalau orang yang ku cintai pergi dariku,”katanya.
Aku tersentuh mendengarnya. Jae Ho mengusap air mataku dan membelai rambutku.
“Terimakasih, kamu sudah mau menjadi
istriku,”gumamnya. Aku tersenyum mendengarnya.
“Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi
suamiku,”jawabku.
Jae Ho tersenyum bahagia dan menciumku. Kami tersenyum menatap masa depan yang mungkin
tak kan mudah kami lalui.
(1).jpg)
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.