Tuesday, January 21, 2014

YANG TERLUPA

Senja itu telah pergi. Langit sudah berselimut hitam. Tanpa bintang. Tanpa rembulan. Hanya hujan gerimis yang sesekali jatuh membasahi bumi. Aku masih duduk disini. Berkelana menjelajahi dunia yang seolah tanpa batas. Alam maya itu memang terkadang membuatku sulit untuk beranjak. Kalau sudah menjelajah rasanya mata ini tak mau berkedip walau sedetik. Ah! alangkah baiknya jika aku istirahat barang sejenak. Menikmati kesegaran teh hangat sebagai pelepas rasa dingin yang hampir menusuk tulang. 
Aku jadi teringat temanku. Teman yang sudah lama sekali tak ku temui. Terakhir aku bertemu dengannya adalah lima tahun lalu. Seluruh Contact personnya sudah tak bisa ku hubungi. Entahlah, dia bagai hilang ditelan bumi. Aku tak tahu seperti apa keadaannya sekarang. Aku harap ia bahagia. Dulu kami saling berbagi cerita. Bagiku ia pribadi yang komplit. Disatu sisi dia adalah temanku. Disisi yang lain dia bisa memposisikan dirinya sebagai kakak buatku. Dia banyak memberiku pelajaran akan arti hidup. Hidup itu tidak selamanya susah. Tidak selamanya bahagia. Keikhlasannya dalam menjalani hidup membuatku kagum. 
Dia pernah bilang padaku. 
"Tri, kisah hidupku ini kamu jadikan bahan tulisanmu saja," katanya suatu hari.
"Memangnya boleh, mba?"tanyaku
"Boleh aja. Aku malah senang."katanya
Dia ingin aku membuat tulisan tentang kisah hidupnya yang begitu menyentuh dimasa lalu. Waktu kejadian itu aku belum bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya ketika dia sudah bisa menapaki lembaran baru dalam hidupnya. Waktu itu aku begitu gembira. Tapi sayang. Aku tak jua menulisnya. Hingga tertunda begitu lama. Aku sendiri sudah lupa akan kisahnya secara utuh. Aku lupa tidak mencatatnya ulang di buku.  (Aku sudah membahasnya di tulisanku sebelumnya)
Mulai hari ini aku akan menulisnya. Walau hanya dimulai dari sepenggal kecil saja. Siapa tahu dalam perjalanannya aku bisa mengingatnya kembali. Yang pasti kebersamaan kita waktu itu masih aku ingat dengan jelas dan tak akan pernah aku lupakan. 

Apa kabar sobat
Hari ini aku goreskan penaku lagi
Sudah lama sekali
Waktu cepat sekali berlalu
Aku harap duniaku dan duniamu akan selalu bersinar
dan bahagia...

Salam rinduku untuk jagoan kecilmu
Semoga menjadi anak yang sholeh 
Aku akan selamu merindukanmu sahabatku...


Saturday, January 18, 2014

HANYA BAGAI EMBUN PAGI

Kehadiranmu mendatangkan kesejukan
Kala gersang...kala panas membakar.
Seakan segala dahaga itu hilang
Entahlah
Haruskah aku selalu merindukanmu
Aku hanya ingat kala kau datang
di waktu pagi saja.
Aku sampai lupa
kalau kau masih akan selalu ada
Aku juga tak ingin kau menghilang
Apa jadinya kalau kau hilang
Kegersangan itu pasti akan membunuhku.
Ah..
apakah aku begitu egois.


Ini puisi atau bukan ya? Ah, aku tak tahu. Yang jelas aku hanya ingin menulis apa yang terlintas di benakku saja. Karena toh aku akan selalu merindukan kehadiran embun pagi. Sebagai kesejukan di hari-hariku yang terkadang gersang. 
Satu, dua, tiga...
ayo kita menulis lagi!!!




Sunday, January 12, 2014

FATHIYA Bukan pilihan cinta

Buku ini adalah hadiah dari seorang teman. Sebenarnya dia memberiku dua pilihan buku. Mungkin karena aku lebih suka novel daripada bacaan non fiksi kali, ya. Makanya, aku memilih buku ini. Dari pertama aku melihat sampulnya, aku langsung tertarik. Aku harap isinya akan semenarik sampulnya. Ini adalah buku pertamaku disamping buku-buku sekolah. Buku inilah yang membuatku jadi kecanduan untuk membaca dan membeli buku. 
Buku ini berisi kumpulan cerpen. Pertama membacanya kita sudah dihadapkan pada kehidupan kelam seorang gadis kecil bernama Fathiya. Ia harus mengalami penyiksaan dari ayah tiri yang cemburu. Ibu kandung yang seharusnya memberinya kasih sayang justru ikut menyiksanya. Bukan hanya siksaan fisik tapi juga psikis. Dia harus kehilangan masa kanak-kanaknya dan hidupnya harus berakhir di tangan ayah tiri yang kejam. Dalam buku ini kita juga diajak menyelami ketulusan hati seorang Muhsin. Dia rela melakukan apa saja demi cinta. Meski mati sekalipun. 
Buku ini penuh dengan nuansa timur tengah yang begitu kental. Kisah kehidupan mulai dari yang manis, romantis, bahagia, mimpi, hingga keadaan yang tegang dan mencekam ada dalam buku ini.  Buku ini termasuk bacaan berat. Penulis sepertinya menyasar pada segmen orang dewasa saja. Ketika buku ini ada ditanganku, buku ini baru cetakan pertama tahun 2002 yang lalu. Bagi kalian yang penyuka sastra, buku ini bisa jadi bahan rujukan. 





Wednesday, January 08, 2014

Dari sebuah layar

Aku ingin berbagi pada saat masa-masa di tinggal suami di negeri orang. Sendirian. melewati hari tanpa canda tawanya. Aku belum terbiasa jauh darinya. Tapi, ada satu hal yang membuatku lega. Dia selalu mengabarkan keadaannya padaku. Melalui sebuah layar. Jarak itu seakan tak berarti. Aku seperti berada di depannya. Melihat senyumnya. Medengar bahwa cuaca disana begitu dingin. Meski belum hujan salju, dia harus memakai selimut berlipat-lipat. TETAP SEMANGAT!!!

Dari sebuah layar


malam yang semakin larut
detak jam dinding itu terdengar lebih jelas dari biasanya
aku tersenyum...
aku harap akan selalu seperti itu
aku bahagia...
aku harap akan selalu seperti itu juga


KEEP SMILE...


Wednesday, January 01, 2014

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...

Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna

Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca. 

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

Orientasi mahasiswa baru memang mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin.  Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka berasal  dari daerah yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia kawan. Waktu itu, aku harus mengurus administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita diberi tugas  seabrek. Aku dan teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas tambahan.  Bayangkan saja. Tugas yang utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko. Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal.  Seuntai gelang dan  gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat berbelanja sekaligus refreshing bagi warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta kursi untuk duduk. Tempat itu  menjadi favorit sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus. Hanya ada satu meja  yang  belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.

 ***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut pelatihan  Organisasi itu. Disana mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya, aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.

Start entri blog...

Assalamu'alaikum..

Saya masih belajar bagaimana menulis yang baik. Menuangkan rangkaian kata yang penuh makna itu sungguh sulit. Bagiku, belajar menulis yang baik bisa darimana saja. Sekarang sudah menjamur sekolah menulis baik offline maupun online. Forum seputar penulisan juga banyak. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Di usia berapa pun, belajar adalah suatu hal yang wajib. Untuk menjadi orang yang baik dalam hal apa pun kita harus selalu belajar. Agar menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Bismillah...
Ayo kita mulai menulis...

Semangat!!!

Wassalamu'alaikum...