Tuesday, November 10, 2015

PESAN PALSU (PART 3)

Lelaki itu memandang ke sebuah meja di sudut kafe. Lelaki yang sama yang di lihat Dio beberapa bulan yang lalu. Dia memandang Dio dan dua sahabatnya dari sudut kafe dengan penuh kekesalan. Dia adalah Andi.
Dia meninggalkan kafe itu menuju kamarnya yang dibiarkan tak beraturan. Dia memandang beberapa buah foto yang ia tempelkan di dinding. Beberapa dari foto itu sudah kusut dan berlubang. Ia ambil sebuah foto di tangannya. Ia remas foto itu dengan penuh amarah.
“Lihat saja. Kamu akan mengalami yang lebih buruk lagi. Sekarang nikmati saja kebahagiaan sesaatmu.”katanya menyeringai.
Di kamar yang lain yaitu dikamar Ani. Ani sedang menikmati alunan lagu religi dari handphonenya. Ia lalu melangkah sambil meraba-raba. Matanya yang buta membuatnya tak bisa selincah dahulu. Langkahnya terhenti di dekat sebuah kursi. Ia raba kursi itu. Ia pun perlahan duduk di atasnya.
Ia raba deretan buku di depannya. Ia ambil bingkai foto yang di dalamnya memperlihatkan foto Ridho. Ia raba foto itu. Ia mengingat sesuatu. Bayangan Ridho kembali menghiasi pikirannya. Ia masih merindukannya. Tanpa terasa air matanya menetes. Hanya satu yang ia inginkan. Ia hanya ingin tahu keberadaannya. Ia tak mengharapkan lebih dari itu.
***
Lelaki yang sedang terikat itu bergerak pelan. Ia menyipitkan mata dalam cahaya remang-remang. Ia memandang sekeliling ruangan. Ia lalu menggerakkan tubuhnya pelan menuju sudut ruangan yang lain. Hujaman botol miras dari salah satu penjaga di luar yang marah tadi pagi masih menyisakan sebuah bongkahan kecil. Dengan perasaan senang ia ambil sepotong kaca itu. Ia berharap potongan botol kaca itu bisa membuka ikatan tangannya. Ia lalu bergerak pelan menuju tempatnya semula setelah mengambil potongan kaca itu. Ia menata nafasnya. Ia mengamati pintu di depannya. Dengan mata terpejam dan badan diam, tangannya mulai menggoreskan sepotong kaca itu pada tali yang membelit tangannya. Ketiadaan dua orang yang setiap saat selalu menjaganya siang dan malam membuatnya bisa bernafas lega. Ia menghentikan menggores tali di tangannya ketika mendengar suara dari luar sana. Ia lalu sekuat tenaga  menggoreskan potongan kaca itu cepat-cepat. Sampai pada satu titik, ia benar-benar gembira bukan kepalang. Ini seperti sebuah keajaiban. Ikatannya benar-benar lepas. Ia lalu berpura-pura tertidur dengan tangan seperti masih terikat ke belakang.
“Lelaki tak berguna itu,”ejek pria yang berbadan gemuk.
“Sudahlah. Abaikan saja dia. Lebih baik kita nikmati saja apa yang kita bawa malam ini, hahaha...”lelaki yang kurus mengangkat bungkusan di tangannya yang ternyata berisi minuman keras.
Mereka tertawa di depan sebuah meja panjang. Lelaki yang di dalam ruangan bernafas lega. Dua lelaki di luar itu tak tahu kalau ikatan tangannya sudah terlepas.
Setelah tak mendengar suara mereka. Lelaki dalam ruangan itu berjalan mengendap-endap. Ia melihat dua orang yang menjaganya tertidur pulas. Dengan hati-hati ia melangkah pelan meninggalkan tempat itu. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat salah seorang dari mereka menggerakkan tubuhnya seolah bangun. Dengan tenaga yang masih tersisa, dia berlari meninggalkan tempat itu. Ia tak memperdulikan arah jalan. Yang jelas, ia ingin sejauh mungkin meninggalkan tempat mengerikan itu.

Hari berganti. Seorang bocah terkejut mendapati sesosok tubuh tergeletak tak berdaya di pekarangan rumahnya. Ia lalu berteriak memanggil ibunya. Sang ibu langsung berlari keluar menuju sesosok tubuh itu. Ia tampak ketakutan.  Ia berteriak memanggil suaminya. Lelaki  itu lalu menghampiri sesosok tubuh itu. Ia ingin memastikannya lelaki itu hidup atau mati.
“Dia masih hidup, Bu,”serunya.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan padanya?”tanya ibu itu panik.
Sesosok tubuh itu bergerak. Dengan suara lemah ia berkata minta tolong.
“Ya, sudah. Kita bawa masuk saja, Bu, “
“Tapi kalau dia orang jahat bagaimana?”seru ibu itu cemas.
Bapak  itu tampak berfikir. “Sudahlah. Yang penting kita tolong saja dulu.”
Lelaki itu lalu di bawa masuk. 
“Adek ini siapa? Kok bisa sampai babak belur begini?”tanya bapak itu ketika lelaki yang pingsan itu benar-benar tersadar.
Lelaki itu lalu menceritakan siapa dirinya dan dimana tempat tinggalnya.
“Ya, sudah. Sekarang adek istirahat saja dulu. Sambil memulihkan kesehatan,”
“Iya, pak. Terima kasih banyak. Saya mohon kalau nanti ada orang mencari saya. Tolong jangan beri tahu kalau saya ada disini.”Pinta lelaki itu.
Lelaki itu menidurkan tubuhnya dengan pelan. Yang ada di benaknya saat ini hanya kelurganya dan Ani. Dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa mereka.
Sementara itu di sebuah rumah tempat lelaki itu disekap, dua orang yang bertugas menjaga lelaki itu kalang kabut. Mereka panik mendapati rungan yang mereka jaga kosong. Lelaki yang mempekerjakan mereka memandang kesal kearah mereka. 
“Kami akan cari sampai dapat, bos,”kata salah seorang dari mereka ketakutan.
Lelaki itu tersenyum sinis. 
“Tidak usah. Biarkan saja. Aku sudah ada rencana lain.”geram lelaki itu.

***
Semilir angin siang itu memberi sedikit kesegaran di tengah cuaca panas yang menyengat. Ku letakkan gaun yang tadi dibelikan ibuku. Kami baru saja belanja di sebuah toko baju yang baru dibuka dan mereka memberi kami diskon promo. Mereka juga menawarkan kepada kami untuk menjadi member mereka. Dan sebagai member, mereka akan memberikan diskon khusus. Ibuku yang termakan rayuan pemilik toko langsung setuju untuk jadi member mereka. Huh! Mereka pintar sekali merayu pelanggan.
“Nak, ada tamu,”
“Siapa, Bu?”
“Aku!”terdengar suara riang seorang perempuan. Aku mengernyitkan kening.
“Kamu sudah lupa, ya. Ini aku, Dina.”
Aku terpaku sejenak lalu tersenyum mempersilahkan dia masuk.
“Apa kabar? Wah, banting setir jadi penulis nih sekarang?”katanya
Aku tersenyum.“Mau gimana lagi. Saat ini hanya itu yang bisa aku lakukan,”
“Din, aku tinggal dulu. Aku mau ke toilet dulu,”kataku buru-buru. Aku memang sudah kebelet pengen ke belakang.
“Oke.”jawabnya.
Handphoneku berbunyi ketika aku di toilet. Aku tak tahu kalau Dina iseng mengambil handphoneku. Dari nomor tidak dikenal. Setelah mengetahui bunyi SMS itu, dia lalu mengembalikan posisinya di home dan meletakkan handphoneku di tempat semula.
Aku lalu masuk kamar. Entah kenapa tiba-tiba Dina minta pamit. Aku jadi heran. Tapi aku tak bertanya lebih lanjut padanya.
Handphoneku yang sudah dilengkapi aplikasi khusus untuk orang yang tak bisa melihat, sangat memudahkanku untuk menggunakannya. Aku bisa menghubungi teman-temanku tanpa harus minta bantuan orang lain lagi.
Aku lalu menghubungi intan dan Dio.
Sore harinya, kami bertemu untuk menghabiskan hari di sebuah kafe langganan kami. Kami berdiskusi tentang tulisan yang aku buat. Mereka juga membicarakan tentang pekerjaan mereka yang melelahkan.
“Laporanku numpuk. Bos marah-marah. Minta semuanya cepat selesai. Memangnya aku ini robot super canggih apa. Laporan seabrek begitu,”gerutu Intan.
“Lagian kamu sih. Sudah tahu bosmu sukanya marah-marah. Kamu malah menunda-nunda pekerjaan. Ya, beginilah jadinya. Makanya jangan suka menunda-nunda pekerjaan. Nanti kamu yang stres sendiri,”kataku.
“Iya, sih.”
“Dia mah sudah kebiasaan begitu. Ngga heran kalau bosnya marah terus,”celetuk Dio.
“Bukan seperti itu juga...hanya saja...”
“Malas!”seru aku dan Dio bersamaan.
Intan hanya nyengir mendengarnya.
“O,ya. Tadi siang Dina datang ke rumah,”kataku.
“Dina. Ngapain lagi dia?”tanya Intan
“Ngga ngapa-ngapain. Dia cuma sebentar banget maen ke rumah. Aku bahkan belum sempat ngobrol. Waktu itukan aku kebelet pipis. Setelah aku kembali dari toilet, eh dia pamit pulang. Aku agak heran dengan sikapnya,”
“Oh! Mungkin dia ada kepentingan mendadak kali,”kata Dio.
“An...,pinjam handphonemu dong! Pulsaku habis nih, “pinta Intan dengan menggerutu memandang Hp-nya.
“Ambil sendiri  di tasku!”
“Oke.”
Intan mengambil handphoneku di tas. Dia membukanya. Setelah mengirim pesan. Dia penasaran dengan nomor tak dikenal yang tertera di Hpku.
“Ini siapa, An?”katanya.
Intan akan berteriak tapi cepat-cepat ia membekap mulutnya sendiri.
“Dio...”katanya lirih kepada Dio sambil memperlihatkan isi pesan di Hp Ani.
Dio menyaut Hp di tangan Intan. Dia baca pesan di nomor tak dikenal itu. Dio terkejut.
“Gimana?”tanya intan sambil berbisik agar aku tak mendengar.
“Ada apa, sih. Kok bisik-bisik?”tanyaku curiga.
Dio ragu-ragu untuk bersuara. Tapi belum sempat ia buka suara. Seorang pria yang mereka kenal berjalan mendekati mereka. Dio dan Intan terkejut.
“Ani!”seru lelaki itu. Aku terpaku. Bukan karena apa-apa. Tapi, karena aku tahu betul suara itu.  

bersambung
Pesan palsu (part 4)

Link:


Wednesday, October 14, 2015

PESAN PALSU (PART 2)

Di sebuah kamar yang sempit dan remang-remang, sesorang lelaki terlihat lunglai di pojok ruangan. Ada luka memar di wajah lelaki itu. Tangannya terikat tali. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki masuk dengan senyum menyeringai.
“Apa kamu baik-baik saja?”kata lelaki yang baru masuk.
“Mau apa kau! Apa kamu seorang pengecut!”Bentak lelaki yang terikat  itu.
“Hahaha...”
Lelaki yang terikat menatap tajam pada lelaki yang baru masuk.
“Pengecut? Apa sekarang kamu sedang meluapkan kemarahan?””tanya lelaki yang baru masuk dengan senyum mengejek.
 “Sekarang ini kamu bukan apa-apa di hadapanku,”kata lelaki itu lagi.
Lelaki yang terikat menahan marah.
“Oh! Sampai lupa. Apa kamu tak mau mendengar kabar gadis itu?”
Lelaki yang terikat mendongak
“Hahaha....sudah pasti. Tenang.  Dia baik-baik saja. Setidaknya kalau kau tidak macam-macam dan mencoba kabur lagi dari hadapanku!”kata lelaki itu. Kali ini dengan nada tinggi.
“Kamu memang brengsek!”bentak lelaki terikat itu geram.
“Brengsek? Lebih brengsek mana? Kau atau aku!”Bentak lelaki itu
“Apa maksudmu?”tanya lelaki terikat itu tak mengerti.
“Kamu tentu tahu apa maksudku. Jangan memancing kemarahanku lagi! Dan tetap nyaman disini. Mengerti!”seru lelaki itu dengan pandangan sinis. Dia lalu keluar dari ruangan itu. Lelaki itu terlihat bicara dengan dua orang di luar ruangan.
“Jaga dia! Kalau macam-macam. Habisi saja!”
Dua orang yang diajak bicara mengangguk.
Lelaki itu kembali memandang ruangan yang dia masuki tadi. Dengan senyuman penuh kemenangan dia meninggalkan tempat itu.
Beberapa kilometer dari tempat itu. Tepatnya di sebuah kafe. Terlihat tiga orang anak muda sedang bercanda tawa. Mereka adalah Dio, Ani dan Intan. Dihadapan mereka ada tiga buah jus berbeda rasa yang sebagian sudah mereka minum.
“An, bagaimana dengan tulisanmu? Apa sudah jadi?”tanya Intan
“Sudah. Nanti tolong dibaca dulu ya. Takut ada yang salah,”kata Ani
“Salah bagaimana? Tentu saja tidak. Aku kan yang mengetik,”kata Dio protes.
Ani  jadi merasa bersalah. “Maaf. Maksudku bukan seperti itu,”katanya.
“Iya, aku tahu. Aku hanya bercanda.”kata Dio tersenyum.
Rutinitas Ani sekarang adalah menulis. Berbanding terbalik dengan aktivitas yang dulu sebagai model. Namun dengan melihat senyum mengembang di wajah Ani. Dia tampaknya sudah bahagia dengan keadaannya sekarang. Hanya satu yang mengganjal yaitu Ridho. Lelaki itu sampai sekarang tidak ada kabarnya.

***
“Kak, dimana aku? Kenapa semuanya gelap?”
Aku terdiam. Aku tak mampu bersuara. Suaraku tercekat di tenggorokan.
“Kakak! Kenapa Diam!”Suara paniknya bergetar di telingaku.
“E...”lagi-lagi aku tak mampu untuk bersuara.
“Oh! Tuhan. Bantu aku untuk lari...”
Akhirnya setelah beberapa waktu berada dalam situasi tak mengenakkan, aku bisa pergi meninggalkan dirimya yang sekarang tertidur pulas. Sebelumnya ia terus meronta melihat kondisi buruknya.
“Setelah apa yang telah kamu lakukan pada adikku. Lantas kamu bisa pergi begitu saja!”gumamku geram. Tanganku mengepal. Darahku sudah naik ke ubun-ubun. Aku sudah membulatkan tekadku.
Album foto itu sekarang ada di hadapanku. Ku tatap satu persatu wajah orang di dalam foto itu. Sampai pada lembar ke empat,  aku terpaku. Ku ambil  lembar foto itu. Aku meremas foto itu sekuat tenaga seolah ingin meremukkan badan orang yang ada dalamnya.
***
Seorang Lelaki sedang menyusuri jalan di sebuah gang. Langkahnya terhenti di depan sebuah rumah mewah ber cat hijau. Beberapa pot bunga dan pohon menghiasi halaman depan rumah itu.  Dia bersembunyi ketika melihat seorang gadis keluar dari pintu rumah itu. Dia mengamati kepergian gadis itu. Ia memandang kepergian gadis itu dengan senyum menyeringai.
Dia kini berjalan disekitar kampus.
“Aduh! Hati-hati dong kalau jalan!”seru Dio kesal. Buku-buku ditangannya berhamburan di lantai.
“Maaf.”kata lelaki itu.
Dio memunguti buku-bukunya sambil di bantu lelaki itu.
“Sekali lagi maaf, ya.”jawabnya sambil berlalu.
Dio mengamati kepergian lelaki itu. Keningnya berkerut  mengingat sesuatu. Dia lalu menggelengkan kepalanya.
“Si kutu buku datang.” Gumam Intan senang melihat kedatangan Dio.
Dio manyun dipanggil seperti itu.
“An, nanti ada pemotretan lagi?”tanya Dio setelah dia duduk didepan Ani dan Intan.
“Iya.”
Dio mendesah. Itu berarti acara nonton mereka bertiga tertunda lagi.
“Apa tidak ada waktu libur. Tiap hari sibuk terus. Kapan kamu punya waktu buat kami. Kalau pun libur, pasti waktunya buat Ridho,”cerocos Intan.
“Maaf. Aku janji lain kali pasti aku ikut pergi bersama kalian.”
Mereka lalu berjalan masuk ke Perpustakaan. Setelah memilih beberapa buku, mereka lalu duduk di meja yang berdekatan.  
Secara tak sengaja Dio memandang sebuah meja yang tak jauh dari meja mereka. Lelaki yang ditabraknya tadi duduk disana.
“Apa dia juga kuliah disini?”gumam Dio yang membuat dua sahabatnya menoleh.
“Kamu ngomongin siapa?”tanya Intan.
Dio menunjuk lelaki berbaju biru. Intan dan Ani menoleh melihat lelaki itu. Lelaki yang dipandang ikut menoleh. Lelaki itu tersenyum sekilas dan melanjutkan acara membacanya.
“Memangnya kamu kenal?”tanya Ani
“Ngga yakin, sih. Tapi, rasa-rasanya aku pernah melihatnya. Aku lupa dimana,”kata Dio tak yakin.
 “Perasaanmu aja kali.”kata Intan.
“Mungkin.”kata Dio manggut-manggut.
Mereka lalu melanjutkan acara membaca. Tanpa mereka sadari lelaki yang mereka bicarakan tadi memandang tajam pada mereka. Lelaki itu lalu berlalu pergi dengan senyum menyeringai.
Dio secara tak sengaja melihat kepergian lelaki itu. Dia masih penasaran siapa sebenarnya lelaki itu.


Selanjutnya:


Thursday, October 08, 2015

PESAN PALSU


Aku merasakan tubuhku terguling. Aku bagai ditinju dan dibanting oleh tangan kuat.  Seketika pandangan mataku kabur. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Ani!”kata suara itu memanggil namaku.
Aku bergerak pelan
“Aku dimana?”tanyaku pelan dengan kesadaran yang hampir pulih.
“Kenapa semuanya gelap? Mataku!”
Perlahan aku raba mataku. Aku tak merasakan ada sesuatu yang menghalangi pandanganku.
“Mataku kenapa?”tanyaku menahan panik. Aku berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan diriku. Aku sekarang ingat dengan jelas kalau mobil yang ku tumpangi terguling.
 “Apa ini mati lampu?”tanyaku lagi.
“Nak?”
Itu suara Ibuku.
“Kenapa gelap? Hidupkan lampunya, Bu! Ani tak bisa melihat apa-apa,”pintaku.
Suara Ibu seakan menghilang dan tertahan.
“Ibu?”tanyaku
Sekarang aku mendengar suara isak yang tertahan. Aku panik dan sudah tak bisa mengendalikan diriku. Beberapa orang menahan tubuhku. Dokter kemudian datang. Aku tak tahu apa yang terjadi. Apakah aku sudah menjadi buta. Jika benar, sungguh ini serasa kiamat bagiku. Aku teringat karirku yang sudah pasti akan berakhir. Aku menyesal. Kenapa aku tidak mati saja saat mobilku terguling.
***
Aku terdiam di sebuah bangku taman di belakang rumahku. Aku memang terbiasa duduk disana. Ini serasa mimpi buruk. Terkadang rasanya ingin mati saja. Rasanya ini seperti  lelucon yang tak berhasil. Aku masih saja meratapi nasib yang membuatku tak bisa lagi melihat dunia.
“Udara disini enak, ya,”kata sebuah suara.
Aku menoleh ke sumber suara. Kepalaku kembali menghadap ke arah semula lagi. Hening.
Aku merasakan kalau ia duduk di sampingku.
“Masih ingat aku? Ini aku, Dina,”
Aku terkejut.
“Apa dia Dina, taman SMAku sekaligus mantan kekasih mas Ridho sewaktu masih SMA dulu? Untuk apa dia datang kemari. Apa dia ingin melihatku yang begitu menyedihkan,”
“Aku datang kemari karena mendengar kabar tentangmu. Sungguh! Aku terkejut. Tapi...,aku turut sedih melihat keadaanmu. Yang sabar ya,”katanya
Aku masih terdiam.
“O,ya. Bagaimana kabar mas Ridho sekarang?Aku dengar kalian akan menikah,”tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dengan keadaanmu saat ini apa kamu akan tetap menikah dengannya?”tanyanya lagi.
“Apa!”kataku terkejut. Hatiku bergemuruh.
“Iya. Maksudku, kamu kan tahu keadaanmu saat ini yang tak bisa melihat. Bagaimana kamu nanti akan melayani suamimu dalam kondisi yang buta begini. Yah, kalau aku di posisimu sih aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan orang lain,”katanya blak-blakan.
Dadaku sesak. Kata-kata Dina terasa sangat menyakitkan. Aku sadar, kondisiku saat ini sudah berbeda. Dina benar.  Aku tak mungkin bisa membahagiakan mas Ridho dalam kondisi cacat seperti ini. Sungguh! Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sedih.
“Eh! Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih,”katanya
 “Apa kamu masih mengharapkannya?”tanyaku menahan perasaan.
“Apa! Oh, bukan seperti itu. Maksudku adalah....,”
 “Ngapain kamu disini!”terdengar suara lantang di belakang kami. Aku tahu itu suara Dio.
“Ngapain apanya! Aku mengunjungi Ani yang sedang sakit. Emang kenapa? Ada yang salah?”kata Dina
“Mengunjungi! Mengunjungi apa? Yang ada kamu hanya akan merusak suasana,”seru Dio kesal.
“Merusak suasana! Memang aku ini pembuat onar! Ya, sudah! Aku pulang saja. Aku pulang, An. Lain waktu aku datang lagi.”kata Dina bangkit.
“Iya. ”kataku pelan.
Dina memandang Dio kesal. Sambil mengucapkan salam dia pun berlalu pergi.
 “Kau tidak apa-apa?”katanya cemas.
Aku menggeleng
“Jangan dengarkan apa yang dikatakannya. Mulutnya itu memang racun.“kata Dio
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Sejak kecelakaan yang membuat aku tak bisa melihat, aku jadi jarang berbicara.
“Malam ini indah ya...,”katanya.
Dia sekarang duduk di samping kananku. Aku hanya tersenyum tipis.
 “Tidak ada gunanya meratapi nasib. Ada banyak hari indah yang dapat kamu lalui. Kamu tahu, ada begitu banyak orang yang mengalami nasib yang sama sepertimu bahkan ada yang jauh lebih buruk. Kamu harus semangat! Kamu tidak sendiri. Ada banyak orang yang akan selalu mendukungmu. Mereka ingin melihatmu bangkit. Sama seperti aku yang tak ingin melihatmu terus terpuruk seperti ini,”katanya meyakinkanku.
Aku hanya mendesah mendengar omongannya. Manusia memang gampang berucap. Coba dia ada diposisiku. Apa dia juga akan bisa bicara seperti itu.
“Besok, kita pergi pagi-pagi. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu.”kata Dio akhirnya.
Aku tetap bergeming. Aku mendengar Dio mendesah.
“Apa kamu sudah menyerah, Dio. Aku mohon berhentilah! Untuk apa kamu terus berada di dekat orang yang cacat sepertiku. Itu tidak ada artinya.”gumamku sedih.
Aku menjalani hari-hari yang tak menyenangkan selama beberapa waktu. Mengurung diri di kamar. Duduk dalam diam di taman belakang rumah. Dan selebihnya ku habiskan dengan tidur. Sungguh hari yang buruk dalam hidupku.
Selang tiga bulan kemudian. Aku mulai bisa tersenyum. Rintihan tangis ibuku di akhir malam menyadarkan aku. Ibuku mungkin sudah lelah dan pasrah tentang keadaanku. Aku tak ingat, sudah sejak kapan aku tak pernah mengerjakan ibadah yang satu itu. Aku terlalu terlena. Apakah kebutaanku adalah teguran dari-Nya?

Maafkan aku ibu atas air mata yang sudah engkau keluarkan untukku. Aku janji aku akan bangkit. Tunggulah aku. Aku mohon jangan menyerah untukku.

Selanjutnya:

Saturday, March 21, 2015

Kisah di Trotoar

Entah kenapa setiap sore selalu hujan lebat. Yang membuatku heran ini bukankah waktunya musim penghujan. Musim penghujan harusnya sudah lewat. Atau mungkin sudah terjadi pergeseran musim. Entahlah. Aku tak paham dengan dunia geologi ataupun klimatologi. Yang aku tahu, harusnya sudah musim kemarau. 
Aku berjalan di trotoar yang licin sehabis hujan sejam yang lalu. Mengesalkan memang harus siap sedia payung dikala musim harusnya sudah berganti. Tapi lumayanlah. Udara menjadi tidak begitu panas. Kutengok langit diatas sana. Langit nampak keabu-abuan. Bahkan diujung sana sudah hitam pekat. Alamat hujan lebat lagi. Ku segerakan langkahku menuju rumahku yang berjarak 300 meter jauhnya dari tempatku berdiri.
Aku memilih tidak naik angkot ataupun okek, selain ngirit ongkos. Juga jarak yang ku tempuh nanggung. 
"Bajunya, mba. Murah meriah. Lihat-lihat dulu, boleh."kata pedagang di pinggir trotoar yang harusnya buat pejalan kaki.
Aku menggeleng. 
"Sepatu, mba...bagus-bagus. Cocok buat mba...mari, lihat-lihat dulu."kata pedagang yang satunya lagi ketika alu lewat didepannya.
Aku mendengus. "Tidak, Bang."
Aku mempercepat langkahku. Rintik hujan mulai berjatuhan. Aku membuka payungku. Lalu buru-buru melangkah. 
"Payung, payung...payungnya, mba."kata pedagang yang menghalau langkahku.
"Ya, ampun. Ngga lihat apa aku sudah pakai payung."gumamku dalam hati
"Enggak, Bang."kataku 
Aku semakin mempercepat langkahku.
Aku tak sadar kalau ada dua orang yang mengikutiku. Mereka memepet langkahku. Aku heran dengan apa yang mereka lakukan.Beberapa saat kemudian mereka berjalan cepat dan langsung naik Bus yang kebetulan lewat di sampingku. Aku hanya menggeleng melihat kelakuan mereka.
Aku melangkah lagi. Sialnya trotoar yang ku lewati tidak rata. Penuh lekukan dan bahkan berlubang disana-sini. Kakiku yang memakai Hak agak tinggi kesleo. Aku merasakan sakit dikakiku. Hujan turun dengan derasnya. 
"Tasnya sobek ya, mba. Itu isinya pada mau keluar."Tegur seorang Ibu berbaju batik.
Aku menengok tasku dan kaget melihat tasku sudah menganga dibagian bawah. Aku heran, perasaan tadi baik-baik saja. Aku lalu meneliti isi tasku. Astaga, dompetku tidak ada.  Kucari disetiap jalan yang aku lewati. Tapi dompet itu tidak kelihatan. Aku kesal bukan main.
"Makanya hati-hati, mba."kata pedagang payung itu senyam-senyum. 
"Memang apa yang hilang, mba?"tanyanya masih senyam-senyum. 
Aku tak menggubrisnya. Aku lalu berjalan cepat dengan hati tak karuan. Aku benar-benar marah bercampur kesal. Pengen aku melepar pedagang itu yang tidak ada rasa empatinya sama sekali. 
Aku baru sadar kalau kecopetan. Aku jadi ingat dua orang yang memepetku tadi. 
Ku umpat dua orang yang mengambil dompetku biar celaka. Lalu aku mengelus dada akan perkataanku.
"Astaughfirullah. Apa yang telah ku katakan."gumamku. 
Aku jadi menyesali tindakanku. Karena kebiasaanku yang tidak sabaran. Hingga aku memutuskan pulang sendirian padahal suamiku akan menjemputku. Akhirnya, beginilah jadinya. Selain berdosa karena tidak menuruti permintaan suamiku. Aku juga celaka. 


Bandung, 16.34.
21 Maret 2015










Sunday, January 18, 2015

Dia yang mengalihkan duniaku...

Selamat pagi semua...
Masih semangat buat menjalani hari? Semoga ya..

Aku mau bercerita kalau sudah dalam beberapa bulan ini aku kesengsem dengan sosok yang ramah, baik, dan sedikit pemalu. Entahlah padahal dia bukan artis. Bukan juga seorang politikus atau penulis ternama. Hanya kebetulan, aku melihatnya dia mengikuti sebuah acara di televisi. Bagiku dia lebih bersinar daripada semua wanita cantik disekitarnya. Padahal kalau dipikir2, yang lebih cantik itu banyak. Mungkin ada inner beauty dalam dirinya yang membedakan ia dengan wanita lain. Semoga sifat itu tidak luntur termakan gemerlapnya dunia entertainment kalau nanti ia memilih masuk kesana. Amiin

Aku seperti terhipnotis untuk selalu mengikuti kemana ia melangkah. Bahkan aku membuat blog khusus tentang dia. Apa aku sudah gila. Ini diluar kewajaranku. Aku dulu anti banget dengan dunia seperti ini. Mungkin sosok itu mengalihkan duniaku. semoga kehidupanku tidak ikut teralihkan. Anggap saja ini intermezo agar hidupku tak terlalu hambar. 

Ketika dunia tak sempurna
Hanya bisa berkata, kalau aku tak apa-apa
Bukan karena aku tak bisa
Aku hanya mencoba
menjadi aku yang tak biasa
Apakah itu buruk?
Setidaknya aku masih menjadi aku
Bukan kau..
bukan dia.
atau bukan mereka
Tapi diriku sendiri..
Aku masih berdiri disini
Mengejar mimpi
Ku harap...
itu akan terwujud dalam hitungan hari
Aku ku siapkan senyum teridah
untuk menyambutnya..

Bandung, 19 jan 2015. Jam 09.59