Wednesday, January 01, 2014

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...

Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna

Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca. 

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

Orientasi mahasiswa baru memang mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin.  Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka berasal  dari daerah yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia kawan. Waktu itu, aku harus mengurus administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita diberi tugas  seabrek. Aku dan teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas tambahan.  Bayangkan saja. Tugas yang utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko. Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal.  Seuntai gelang dan  gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat berbelanja sekaligus refreshing bagi warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta kursi untuk duduk. Tempat itu  menjadi favorit sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus. Hanya ada satu meja  yang  belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.

 ***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut pelatihan  Organisasi itu. Disana mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya, aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.

Start entri blog...

Assalamu'alaikum..

Saya masih belajar bagaimana menulis yang baik. Menuangkan rangkaian kata yang penuh makna itu sungguh sulit. Bagiku, belajar menulis yang baik bisa darimana saja. Sekarang sudah menjamur sekolah menulis baik offline maupun online. Forum seputar penulisan juga banyak. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Di usia berapa pun, belajar adalah suatu hal yang wajib. Untuk menjadi orang yang baik dalam hal apa pun kita harus selalu belajar. Agar menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Bismillah...
Ayo kita mulai menulis...

Semangat!!!

Wassalamu'alaikum...