"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...
Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna
Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca.
SEKEPING HATI YANG TERSERAK
Orientasi mahasiswa baru memang
mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin. Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka
berasal dari daerah yang berbeda. Dan aku
termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia
kawan. Waktu itu, aku harus mengurus
administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas
terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus
administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia
orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja
tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku
sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita
diberi tugas seabrek. Aku dan
teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga
selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas
tambahan. Bayangkan saja. Tugas yang
utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang
orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku
dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya
orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya
tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta
memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan
masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan
yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami
selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat
pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju
Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik
yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu
memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko.
Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal. Seuntai gelang dan gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu
rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat
berbelanja sekaligus refreshing bagi
warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita
bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi
wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya
begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku
di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta
kursi untuk duduk. Tempat itu menjadi favorit
sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh
dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan
ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu
orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan
terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus.
Hanya ada satu meja yang belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi
soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan
sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan
menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.
***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia
mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan
satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat
pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik
masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku
lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut
pelatihan Organisasi itu. Disana
mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus
itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya,
aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.
SEKEPING HATI YANG TERSERAK
Orientasi mahasiswa baru memang
mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin. Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka
berasal dari daerah yang berbeda. Dan aku
termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia
kawan. Waktu itu, aku harus mengurus
administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas
terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus
administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia
orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja
tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku
sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita
diberi tugas seabrek. Aku dan
teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga
selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas
tambahan. Bayangkan saja. Tugas yang
utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang
orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku
dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya
orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya
tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta
memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan
masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan
yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami
selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat
pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju
Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik
yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu
memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko.
Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal. Seuntai gelang dan gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu
rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat
berbelanja sekaligus refreshing bagi
warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita
bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi
wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya
begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku
di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta
kursi untuk duduk. Tempat itu menjadi favorit
sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh
dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan
ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu
orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan
terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus.
Hanya ada satu meja yang belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi
soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan
sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan
menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.
***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia
mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan
satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat
pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik
masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku
lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut
pelatihan Organisasi itu. Disana
mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus
itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya,
aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.