Thursday, October 08, 2015

PESAN PALSU


Aku merasakan tubuhku terguling. Aku bagai ditinju dan dibanting oleh tangan kuat.  Seketika pandangan mataku kabur. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara. Namun tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Ani!”kata suara itu memanggil namaku.
Aku bergerak pelan
“Aku dimana?”tanyaku pelan dengan kesadaran yang hampir pulih.
“Kenapa semuanya gelap? Mataku!”
Perlahan aku raba mataku. Aku tak merasakan ada sesuatu yang menghalangi pandanganku.
“Mataku kenapa?”tanyaku menahan panik. Aku berusaha untuk tidak berburuk sangka dengan diriku. Aku sekarang ingat dengan jelas kalau mobil yang ku tumpangi terguling.
 “Apa ini mati lampu?”tanyaku lagi.
“Nak?”
Itu suara Ibuku.
“Kenapa gelap? Hidupkan lampunya, Bu! Ani tak bisa melihat apa-apa,”pintaku.
Suara Ibu seakan menghilang dan tertahan.
“Ibu?”tanyaku
Sekarang aku mendengar suara isak yang tertahan. Aku panik dan sudah tak bisa mengendalikan diriku. Beberapa orang menahan tubuhku. Dokter kemudian datang. Aku tak tahu apa yang terjadi. Apakah aku sudah menjadi buta. Jika benar, sungguh ini serasa kiamat bagiku. Aku teringat karirku yang sudah pasti akan berakhir. Aku menyesal. Kenapa aku tidak mati saja saat mobilku terguling.
***
Aku terdiam di sebuah bangku taman di belakang rumahku. Aku memang terbiasa duduk disana. Ini serasa mimpi buruk. Terkadang rasanya ingin mati saja. Rasanya ini seperti  lelucon yang tak berhasil. Aku masih saja meratapi nasib yang membuatku tak bisa lagi melihat dunia.
“Udara disini enak, ya,”kata sebuah suara.
Aku menoleh ke sumber suara. Kepalaku kembali menghadap ke arah semula lagi. Hening.
Aku merasakan kalau ia duduk di sampingku.
“Masih ingat aku? Ini aku, Dina,”
Aku terkejut.
“Apa dia Dina, taman SMAku sekaligus mantan kekasih mas Ridho sewaktu masih SMA dulu? Untuk apa dia datang kemari. Apa dia ingin melihatku yang begitu menyedihkan,”
“Aku datang kemari karena mendengar kabar tentangmu. Sungguh! Aku terkejut. Tapi...,aku turut sedih melihat keadaanmu. Yang sabar ya,”katanya
Aku masih terdiam.
“O,ya. Bagaimana kabar mas Ridho sekarang?Aku dengar kalian akan menikah,”tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dengan keadaanmu saat ini apa kamu akan tetap menikah dengannya?”tanyanya lagi.
“Apa!”kataku terkejut. Hatiku bergemuruh.
“Iya. Maksudku, kamu kan tahu keadaanmu saat ini yang tak bisa melihat. Bagaimana kamu nanti akan melayani suamimu dalam kondisi yang buta begini. Yah, kalau aku di posisimu sih aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan orang lain,”katanya blak-blakan.
Dadaku sesak. Kata-kata Dina terasa sangat menyakitkan. Aku sadar, kondisiku saat ini sudah berbeda. Dina benar.  Aku tak mungkin bisa membahagiakan mas Ridho dalam kondisi cacat seperti ini. Sungguh! Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sedih.
“Eh! Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih,”katanya
 “Apa kamu masih mengharapkannya?”tanyaku menahan perasaan.
“Apa! Oh, bukan seperti itu. Maksudku adalah....,”
 “Ngapain kamu disini!”terdengar suara lantang di belakang kami. Aku tahu itu suara Dio.
“Ngapain apanya! Aku mengunjungi Ani yang sedang sakit. Emang kenapa? Ada yang salah?”kata Dina
“Mengunjungi! Mengunjungi apa? Yang ada kamu hanya akan merusak suasana,”seru Dio kesal.
“Merusak suasana! Memang aku ini pembuat onar! Ya, sudah! Aku pulang saja. Aku pulang, An. Lain waktu aku datang lagi.”kata Dina bangkit.
“Iya. ”kataku pelan.
Dina memandang Dio kesal. Sambil mengucapkan salam dia pun berlalu pergi.
 “Kau tidak apa-apa?”katanya cemas.
Aku menggeleng
“Jangan dengarkan apa yang dikatakannya. Mulutnya itu memang racun.“kata Dio
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Sejak kecelakaan yang membuat aku tak bisa melihat, aku jadi jarang berbicara.
“Malam ini indah ya...,”katanya.
Dia sekarang duduk di samping kananku. Aku hanya tersenyum tipis.
 “Tidak ada gunanya meratapi nasib. Ada banyak hari indah yang dapat kamu lalui. Kamu tahu, ada begitu banyak orang yang mengalami nasib yang sama sepertimu bahkan ada yang jauh lebih buruk. Kamu harus semangat! Kamu tidak sendiri. Ada banyak orang yang akan selalu mendukungmu. Mereka ingin melihatmu bangkit. Sama seperti aku yang tak ingin melihatmu terus terpuruk seperti ini,”katanya meyakinkanku.
Aku hanya mendesah mendengar omongannya. Manusia memang gampang berucap. Coba dia ada diposisiku. Apa dia juga akan bisa bicara seperti itu.
“Besok, kita pergi pagi-pagi. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu.”kata Dio akhirnya.
Aku tetap bergeming. Aku mendengar Dio mendesah.
“Apa kamu sudah menyerah, Dio. Aku mohon berhentilah! Untuk apa kamu terus berada di dekat orang yang cacat sepertiku. Itu tidak ada artinya.”gumamku sedih.
Aku menjalani hari-hari yang tak menyenangkan selama beberapa waktu. Mengurung diri di kamar. Duduk dalam diam di taman belakang rumah. Dan selebihnya ku habiskan dengan tidur. Sungguh hari yang buruk dalam hidupku.
Selang tiga bulan kemudian. Aku mulai bisa tersenyum. Rintihan tangis ibuku di akhir malam menyadarkan aku. Ibuku mungkin sudah lelah dan pasrah tentang keadaanku. Aku tak ingat, sudah sejak kapan aku tak pernah mengerjakan ibadah yang satu itu. Aku terlalu terlena. Apakah kebutaanku adalah teguran dari-Nya?

Maafkan aku ibu atas air mata yang sudah engkau keluarkan untukku. Aku janji aku akan bangkit. Tunggulah aku. Aku mohon jangan menyerah untukku.

Selanjutnya: