Thursday, March 06, 2014

Mimpi Sederhana

 Ku ubah channel TV yang menayangkan penangkapan salah seorang wakil rakyat yang menjadi tersangka korupsi. Ini sudah kesekian kalinya ada wakil rakyat yang terlibat skandal suap. Wajah negeri ini benar-benar muram oleh ulah mereka. Bagaimana mau maju bangsa ini jika duitnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Setelah gonta-ganti channel.  Aku tertarik pada sebuah acara yang menampilkan seputar rumah. Aku jadi tertarik ketika pembawa acara mengatakan kalau harganya terjangkau.
“Terjangkau apanya. Cicilan per bulan kok puluhan juta. Benar-benar tak masuk logika.”gumamku geleng-geleng kepala.
Baru beberapa saat menikmati acaranya. Tayangan televisi tiba-tiba menampilkan Breaking news. Isinya lagi-lagi penangkapan koruptor. Amarahku naik lagi. Apa tidak ada berita lain. Menjadi wakil rakyat seharusnya bisa jadi panutan. Ketika kampanye obral janji yang muluk-muluk. Sudah jadi wakil rakyat malah korupsi.
“Mau jadi apa negara ini kalau dipenuhi tikus-tikus berkedok penguasa!”seruku dongkol.  
Opo, to Pak. Ket mau nesu-nesu wae1?”tanya istriku yang sedang menumbuk bumbu dapur. Sebentar kemudian tercium bau harum yang membuat perutku tiba-tiba merasa lapar.
“Ini lo, bu. Pagi-pagi dah ada berita penangkapan koruptor. Koruptor kok jamaah. Ngga menteri. Ngga anggota DPR. Ngga gubernur. Semuanya korupsi. Buat apa rakyat disuruh bayar pajak kalau duitnya dinikmati oleh mereka!”seruku kesal.
Koyo ngono kok di pikir  to, pak-pak2. . Ya udah, biar aja. Koruptor sudah ada yang ngurus  ini,”jawabnya cuek.
Aku melengos. Kalau sudah begini, aku hanya bisa menunggu masakannya matang sambil melihat tayangan Televisi lagi. Istriku memang tak begitu memusingkan kalau ada berita penangkapan koruptor. Tapi kalau ada berita harga sembako naik. Giliran dia yang menncak-mencak. Ckckck...
Sehabis sarapan. Aku memanggul cangkul ke pundakku. Tak lupa caping yang tergantung di dinding, aku letakkan di atas kepalaku. Setelah pamit pada istriku, aku melangkah pelan menuju ladang yang berjarak 300 meter. Kedua anakku sudah lebih dulu mendahuluiku berangkat sekolah. Anakku paling kecil masih berusia tiga tahun. Dia sedang bermain boneka ketika ku tinggalkan. Mereka adalah tumpuan harapanku. Aku ingin mereka tetap bersekolah sampai tingkatan tertinggi. Tidak seperti aku yang hanya lulusan SD.
“Neng ngalas, Kang?3”tanya Sumin.      
“Iyo.”jawabku.
Dia lalu berjalan bersamaku. Dia membawa satu buah sabit dan karung. Rupanya dia akan mencari rumput untuk kambingnya yang hanya tersisa satu ekor. Satu ekor lagi terpaksa ia jual karena desakan kebutuhan. Padahal ia sangat mencintai kambing itu. Dia punya cita-cita menjadi peternak yang sukses. Namun sampai sekarang dia hanya bisa pasrah karena nasibnya juga belum berubah.
“Aku duluan, kang.”katanya ketika sampai di pertigaan. Dia ingin mencari rumput di dekat bendungan.
Aku meneruskan langkah menuju ladangku yang tinggal beberapa jengkal lagi. Tanah sisa menanam buncis kemarin sudah mulai kering karena kekurangan air. Perlahan aku turunkan cangkulku. Ku rapikan sisa tanaman buncis yang masih tersisa. Setelah bersih, aku mulai mencangkul untuk menggemburkan tanah itu. Matahari makin lama kian terik. Panasnya membuat peluhku mulai mengalir. Ketika matahari kian tinggi. Aku menghentikan pekerjaanku. Istriku datang membawakan rantang berisi nasi dan sayur serta tiga potong tempe goreng. Tak lupa ia juga membawa seceret teh manis. Anakku yang paling kecil ikut menemaninya. Ditangannya mengenggam sebotol air putih yang sekarang ia berikan kepadaku. Aku tersenyum menyambutnya. Dia kini bergelayutan di pundakku. Melihat keceriaan putri kecilku. Rasa lelah ini langsung terobati.

*** 
Langit kota Yogya begitu terik. Sudah beberapa bulan seperti itu. Namun kami patut bersyukur dilahirkan di kota sini. Desa kami berada di lereng gunung Merapi dimana air melimpah ruah. Kami tak perlu risau karena kekurangan air.
Wah, Jan. Korupsi di pol-polke,4 kata Kang Tarjo di sela-sela makan. Tangannya masih belepotan makanan. Gubuk di pinggir sawah milik Kang Tarjo cukup teduh untuk menahan kami dari panas matahari. Percakapan kami tak jauh-jauh dari kasus korupsi. Maklum, kasus itu menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Hampir sebagian orang membicarakannya. Semua orang yang mendengarnya mengeluh dan dongkol melihat sikap wakil rakyat yang tidak amanah.
“Iyo, kang. Nggawe emosi uwong wae.5kataku menimpali
 “Po wes ra ono wakil rakyat sik bener, opo?6”kata Kang Tarjo lagi
 “Yo, ono to kang Tarjo7. Makannya pemilu besok pilih wakil rakyat yang bener,”jawab Ruslan.
“Halah. Golput wae lah!4”seru Sumin.
“Hus! Ngawur kamu,”seru Kang Tarjo.
“Daripada ngga ada wakil rakyat yang bisa di percaya,”katanya protes.
Aku tidak merasa heran jika easa kepercayaan terhadap para calon wakil rakyat itu cenderung luntur. Bayangkan jika para pemilih tetap itu kebanyakan golput.  Dan yang memilih adalah golongan pendukung calon wakil raklyat saja. Mau seperti apa pemimpin kita.
“Aku pengennya ngga muluk-muluk, kang. Aku pengen kita semua ini hidup tentram dan anak kita bisa tetap sekolah. Dah itu saja cukup.”kata Kang Tarjo
“Kalau aku pengen punya ternak banyak. Coba ada bantuan dari pemerintah buat orang seperti aku ini,”kata Sumin.
“Kalau itu, sih. Aku yo pengen, Min. Aku pengennya harga sembako murah. Harga pupuk murah. Kapan ya bisa seperti itu.”kata Ruslan. Semua orang diam. Kami berada dalam kesunyian masing-masing.
“Kalau kamu apa, kang?”tanya Sumin memecah keheningan.
“Makan kenyang. Tidur pulas dan kebutuhan tercukupi.”kataku santai.
Mereka melongo.
 “Kalau itu sih semua orang juga mau.”kata Sumin.  Kami semua tertawa.
Yah. Itu saja. Impian yang sederhana. Apalagi yang diinginkan oleh rakyat kecil seperti kami. Bagi kami itu sudah cukup. Kami tak perlu harus ikut memusingkan masalah negara yang rumit dan berliku-liku. Memikirkan nasib bangsa yang seakan sudah di ujung tanduk. Aku harap sesuatu yang sederhana ini bisa diwujudkan oleh pemimpin yang akan memimpin negara ini dimasa mendatang.


catatan:
  1.   Apa sih, pak. Dari tadi marah-marah aja.
  2. Kayak gitu dipikirin, pak-pak.
  3.  Ke sawah (ladang dalam bahasa jawa biasanya penyebutannya “ngalas” juga), kang?
  4. Wah, dasar. Korupsi di besar-besarkan.
  5. Iya, Kang (Mas). Bikin emosi orang aja.
  6. Apa sudah ngga ada wakil rakyat yang benar?
  7. Ya, ada Kang Tarjo. 

I