Ku ubah channel TV yang menayangkan
penangkapan salah seorang wakil rakyat yang menjadi tersangka korupsi. Ini
sudah kesekian kalinya ada wakil rakyat yang terlibat skandal suap. Wajah
negeri ini benar-benar muram oleh ulah mereka. Bagaimana mau maju bangsa ini
jika duitnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Setelah gonta-ganti
channel. Aku tertarik pada sebuah acara
yang menampilkan seputar rumah. Aku jadi tertarik ketika pembawa acara mengatakan
kalau harganya terjangkau.
“Terjangkau apanya. Cicilan per bulan
kok puluhan juta. Benar-benar tak masuk logika.”gumamku geleng-geleng kepala.
Baru beberapa saat menikmati acaranya.
Tayangan televisi tiba-tiba menampilkan Breaking
news. Isinya lagi-lagi penangkapan koruptor. Amarahku naik lagi. Apa tidak
ada berita lain. Menjadi wakil rakyat seharusnya bisa jadi panutan. Ketika
kampanye obral janji yang muluk-muluk. Sudah jadi wakil rakyat malah korupsi.
“Mau jadi apa negara ini kalau dipenuhi
tikus-tikus berkedok penguasa!”seruku dongkol.
“Opo,
to Pak. Ket mau nesu-nesu wae1?”tanya istriku yang sedang
menumbuk bumbu dapur. Sebentar kemudian tercium bau harum yang membuat perutku
tiba-tiba merasa lapar.
“Ini lo, bu. Pagi-pagi dah ada berita
penangkapan koruptor. Koruptor kok jamaah. Ngga menteri. Ngga anggota DPR. Ngga
gubernur. Semuanya korupsi. Buat apa rakyat disuruh bayar pajak kalau duitnya
dinikmati oleh mereka!”seruku kesal.
“Koyo
ngono kok di pikir to, pak-pak2.
. Ya udah, biar aja. Koruptor sudah ada yang ngurus ini,”jawabnya cuek.
Aku melengos. Kalau sudah begini, aku
hanya bisa menunggu masakannya matang sambil melihat tayangan Televisi lagi. Istriku
memang tak begitu memusingkan kalau ada berita penangkapan koruptor. Tapi kalau
ada berita harga sembako naik. Giliran dia yang menncak-mencak. Ckckck...
Sehabis sarapan. Aku memanggul cangkul
ke pundakku. Tak lupa caping yang tergantung di dinding, aku letakkan di atas
kepalaku. Setelah pamit pada istriku, aku melangkah pelan menuju ladang yang
berjarak 300 meter. Kedua anakku sudah lebih dulu mendahuluiku berangkat
sekolah. Anakku paling kecil masih berusia tiga tahun. Dia sedang bermain
boneka ketika ku tinggalkan. Mereka adalah tumpuan harapanku. Aku ingin mereka
tetap bersekolah sampai tingkatan tertinggi. Tidak seperti aku yang hanya
lulusan SD.
“Neng ngalas, Kang?3”tanya
Sumin.
“Iyo.”jawabku.
Dia lalu berjalan bersamaku. Dia membawa
satu buah sabit dan karung. Rupanya dia akan mencari rumput untuk kambingnya
yang hanya tersisa satu ekor. Satu ekor lagi terpaksa ia jual karena desakan
kebutuhan. Padahal ia sangat mencintai kambing itu. Dia punya cita-cita menjadi
peternak yang sukses. Namun sampai sekarang dia hanya bisa pasrah karena
nasibnya juga belum berubah.
“Aku duluan, kang.”katanya ketika sampai
di pertigaan. Dia ingin mencari rumput di dekat bendungan.
Aku meneruskan langkah menuju ladangku
yang tinggal beberapa jengkal lagi. Tanah sisa menanam buncis kemarin sudah
mulai kering karena kekurangan air. Perlahan aku turunkan cangkulku. Ku rapikan
sisa tanaman buncis yang masih tersisa. Setelah bersih, aku mulai mencangkul
untuk menggemburkan tanah itu. Matahari makin lama kian terik. Panasnya membuat
peluhku mulai mengalir. Ketika matahari kian tinggi. Aku menghentikan
pekerjaanku. Istriku datang membawakan rantang berisi nasi dan sayur serta tiga
potong tempe goreng. Tak lupa ia juga membawa seceret teh manis. Anakku yang
paling kecil ikut menemaninya. Ditangannya mengenggam sebotol air putih yang
sekarang ia berikan kepadaku. Aku tersenyum menyambutnya. Dia kini bergelayutan
di pundakku. Melihat keceriaan putri kecilku. Rasa lelah ini langsung terobati.
***
Langit kota Yogya begitu terik. Sudah
beberapa bulan seperti itu. Namun kami patut bersyukur dilahirkan di kota sini.
Desa kami berada di lereng gunung Merapi dimana air melimpah ruah. Kami tak
perlu risau karena kekurangan air.
“Wah,
Jan. Korupsi di pol-polke,4” kata Kang Tarjo di sela-sela makan.
Tangannya masih belepotan makanan. Gubuk di pinggir sawah milik Kang Tarjo
cukup teduh untuk menahan kami dari panas matahari. Percakapan kami tak
jauh-jauh dari kasus korupsi. Maklum, kasus itu menjadi perbincangan hangat di
masyarakat. Hampir sebagian orang membicarakannya. Semua orang yang
mendengarnya mengeluh dan dongkol melihat sikap wakil rakyat yang tidak amanah.
“Iyo,
kang. Nggawe emosi uwong wae.5”kataku menimpali
“Po wes ra ono wakil rakyat sik bener, opo?6”kata
Kang Tarjo lagi
“Yo, ono to kang Tarjo7.
Makannya pemilu besok pilih wakil rakyat yang bener,”jawab Ruslan.
“Halah. Golput wae lah!4”seru
Sumin.
“Hus! Ngawur kamu,”seru Kang Tarjo.
“Daripada ngga ada wakil rakyat yang
bisa di percaya,”katanya protes.
Aku tidak merasa heran jika easa
kepercayaan terhadap para calon wakil rakyat itu cenderung luntur. Bayangkan
jika para pemilih tetap itu kebanyakan golput.
Dan yang memilih adalah golongan pendukung calon wakil raklyat saja. Mau
seperti apa pemimpin kita.
“Aku pengennya ngga muluk-muluk, kang.
Aku pengen kita semua ini hidup tentram dan anak kita bisa tetap sekolah. Dah
itu saja cukup.”kata Kang Tarjo
“Kalau aku pengen punya ternak banyak.
Coba ada bantuan dari pemerintah buat orang seperti aku ini,”kata Sumin.
“Kalau itu, sih. Aku yo pengen, Min. Aku
pengennya harga sembako murah. Harga pupuk murah. Kapan ya bisa seperti itu.”kata
Ruslan. Semua orang diam. Kami berada dalam kesunyian masing-masing.
“Kalau kamu apa, kang?”tanya Sumin
memecah keheningan.
“Makan kenyang. Tidur pulas dan
kebutuhan tercukupi.”kataku santai.
Mereka melongo.
“Kalau
itu sih semua orang juga mau.”kata Sumin. Kami semua tertawa.
Yah. Itu saja. Impian yang sederhana. Apalagi
yang diinginkan oleh rakyat kecil seperti kami. Bagi kami itu sudah cukup. Kami
tak perlu harus ikut memusingkan masalah negara yang rumit dan berliku-liku.
Memikirkan nasib bangsa yang seakan sudah di ujung tanduk. Aku harap sesuatu
yang sederhana ini bisa diwujudkan oleh pemimpin yang akan memimpin negara ini
dimasa mendatang.
catatan:
- Apa sih, pak. Dari tadi marah-marah aja.
- Kayak gitu dipikirin, pak-pak.
- Ke sawah (ladang dalam bahasa jawa biasanya penyebutannya “ngalas” juga), kang?
- Wah, dasar. Korupsi di besar-besarkan.
- Iya, Kang (Mas). Bikin emosi orang aja.
- Apa sudah ngga ada wakil rakyat yang benar?
- Ya, ada Kang Tarjo.