Monday, April 21, 2014

Cinta Dinegeri Ginseng


Aku datang saat kuncup bunga sedang mekar. Ini adalah musim semi di korea. Pemandangan yang indah. Aku berdiri menghadap sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku. Kesempatan yang langka. Dan tak pernah terpikirkan kalau aku akan berdiri disini.
“Mau nyanyi lagu apa?”tanyamu.
Aku tersenyum.
“Boleh saya nyanyi lagu yang bukan lagu anda?”tanyaku. Kamu mengerutkan kening. Lembar profilku yang ada ditanganmu kau buka.
“Baiklah,”katamu.
Alunan suara piano mulai mengalun indah. Suara yang ku keluarkan sepertinya membuatmu terkejut. Entah karena aku bernyanyi bagus atau karena kau tak paham dengan bahasa yang aku gunakan. Aku terus bernyanyi. Tak ku hiraukan wajahmu dengan ekspresi yang tidak kumengerti. Akhirnya alunan musik itu berhenti setelah aku mengakhiri lirik lagu yang aku nyanyikan. Semua bertepuk tangan tak terkecuali kau. Aku hanya tersenyum dan berharap aku bisa lolos dalam audisi yang kau selenggarakan untuk penggemarmu. Aku tak bermaksud melupakan lagumu. Aku hanya ingin menyanyikan lagu yang sering ku nyanyikan ketika bersama teman-temanku ketika masih di negeri keduaku. Bukan berarti aku juga tak hafal lagumu. Aku hafal. Hanya saja sejak tadi aku hanya mendengar lagumu dari para peserta yang sebelumnya. Aku merasa, tidakkah kamu bosan.
“Boleh aku tahu lagu apa yang kau bawakan?”tanyanya
“Itu lagu dari penyanyi asal Indonesia,”jawabku.
Aku lalu menjelaskan artinya dalam bahasa korea. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa  kamu menyanyikan lagu ini? Tak takutkah kau kalau kamu tidak lolos dalam audisi ini? Hanya kamu yang menyanyikan lagu dalam bahasa lain,”tanyamu.
“Tidak. Saya melihat tidak ada larangan membawakan lagu dalam bahasa lain. Saya hanya ingin di nilai berdasarkan saya menyanyi. Bukan karena saya menyanyi dengan bahasa yang saya gunakan,”jawabku. Kamu tertegun sesaat. Lalu kamu tersenyum memandangku.
“Namamu Choi Nilam sari ajeng? Nama yang aneh untuk seorang berwarga negara korea,”
“Itu karena Ibu saya dari Indonesia. Ayah saya warga negara korea dengan marga Choi. Dan Nilam sari ajeng adalah nama yang diberikan oleh Ibu saya. Jadi nama saya penggabungan keduanya,”kataku menjelaskan. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu ngga menyanyikan laguku?”tanyamu.
“Saya hanya ingin menyanyikan lagu itu. Memangnya tidak boleh kalau saya bernyanyi lagu lain?”tanyaku balik. Kamu mengerutkan kening.
“Boleh”jawabmu datar.
Kamu mungkin heran. Dari sekian banyak peserta mungkin hanya aku yang berani bersuara jutek. Kamu lalu berdiskusi dengan kedua juri yang lain.
“Baiklah. Tunggu hasilnya nanti, ya,”katamu sambil tersenyum. Senyuman yang tadinya hanya bisa kulihat di televisi dan internet. Sekarang aku bisa melihatnya dalam jarak dekat.
Aku harus menunggu sampai minggu depan untuk melihat hasilnya.
Seminggu kemudian, aku datang ke tempat audisi untuk mengetahui siapa yang lolos audisi. Sudah banyak para peserta yang berkerumun. Disana juga sudah ada sebuah panggung yang tidak terlalu besar. Aku menanti pengumuman bersama dengan kecemasanku dan  peserta yang lain. Sebenarnya aku ngga begitu percaya diri. Banyak peserta yang lebih bagus daripada aku. Tapi, harus semangat. Kalau sudah rezeki pasti ngga akan kemana. Bayangkan saja, hadiah kalau menang adalah sebuah rumah dan rekaman denganmu. Kapan lagi aku punya rumah sendiri di korea. Dan rekaman! Mungkin itu impian terbesar para penggemar untuk rekaman bareng idola. Termasuk aku.
Terlihat sang idola, Lee Jae Ho tiba yag disambut teriakan dan sorakan. Dia hadir bersama beberapa orang dan hanya satu orang yang menemaninya naik ke atas panggung. Para peserta mulai menanti dengan harap-harap cemas. Ada sebuah layar monitor yang akan menampilkan nama peserta yang lolos. Sehingga meski nanti para peserta tidak bisa mendengar dengan jelas karena berisik tapi masih bisa melihat layar monitor didepan. Sang pembawa acara mulai aksinya. Tak berapa lama kemudian dia menyerahkan pegang kendali kepada Jae Ho. Jae Ho memulai dengan berbasa-basi sebentar. Lalu mulai terdengar alunan musik yang membuat seisi ruangan histeris. Jae Ho akan membawakan sebuah lagu dan meminta kami bernyanyi untuk mengurangi ketegangan. Setelah kau selesai menyanyikan sebuah lagu, terdengar kata “lagi” di teriakkan oleh penggemarmu. Kamu hanya tersenyum menanggapinya dan berkata “apa kalian sudah tak sabar untuk mendengar hasilnya?” dan di jawab “ya” oleh kami para peserta.
Layar monitor mulai menyala.

Thursday, March 06, 2014

Mimpi Sederhana

 Ku ubah channel TV yang menayangkan penangkapan salah seorang wakil rakyat yang menjadi tersangka korupsi. Ini sudah kesekian kalinya ada wakil rakyat yang terlibat skandal suap. Wajah negeri ini benar-benar muram oleh ulah mereka. Bagaimana mau maju bangsa ini jika duitnya hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Setelah gonta-ganti channel.  Aku tertarik pada sebuah acara yang menampilkan seputar rumah. Aku jadi tertarik ketika pembawa acara mengatakan kalau harganya terjangkau.
“Terjangkau apanya. Cicilan per bulan kok puluhan juta. Benar-benar tak masuk logika.”gumamku geleng-geleng kepala.
Baru beberapa saat menikmati acaranya. Tayangan televisi tiba-tiba menampilkan Breaking news. Isinya lagi-lagi penangkapan koruptor. Amarahku naik lagi. Apa tidak ada berita lain. Menjadi wakil rakyat seharusnya bisa jadi panutan. Ketika kampanye obral janji yang muluk-muluk. Sudah jadi wakil rakyat malah korupsi.
“Mau jadi apa negara ini kalau dipenuhi tikus-tikus berkedok penguasa!”seruku dongkol.  
Opo, to Pak. Ket mau nesu-nesu wae1?”tanya istriku yang sedang menumbuk bumbu dapur. Sebentar kemudian tercium bau harum yang membuat perutku tiba-tiba merasa lapar.
“Ini lo, bu. Pagi-pagi dah ada berita penangkapan koruptor. Koruptor kok jamaah. Ngga menteri. Ngga anggota DPR. Ngga gubernur. Semuanya korupsi. Buat apa rakyat disuruh bayar pajak kalau duitnya dinikmati oleh mereka!”seruku kesal.
Koyo ngono kok di pikir  to, pak-pak2. . Ya udah, biar aja. Koruptor sudah ada yang ngurus  ini,”jawabnya cuek.
Aku melengos. Kalau sudah begini, aku hanya bisa menunggu masakannya matang sambil melihat tayangan Televisi lagi. Istriku memang tak begitu memusingkan kalau ada berita penangkapan koruptor. Tapi kalau ada berita harga sembako naik. Giliran dia yang menncak-mencak. Ckckck...
Sehabis sarapan. Aku memanggul cangkul ke pundakku. Tak lupa caping yang tergantung di dinding, aku letakkan di atas kepalaku. Setelah pamit pada istriku, aku melangkah pelan menuju ladang yang berjarak 300 meter. Kedua anakku sudah lebih dulu mendahuluiku berangkat sekolah. Anakku paling kecil masih berusia tiga tahun. Dia sedang bermain boneka ketika ku tinggalkan. Mereka adalah tumpuan harapanku. Aku ingin mereka tetap bersekolah sampai tingkatan tertinggi. Tidak seperti aku yang hanya lulusan SD.
“Neng ngalas, Kang?3”tanya Sumin.      
“Iyo.”jawabku.
Dia lalu berjalan bersamaku. Dia membawa satu buah sabit dan karung. Rupanya dia akan mencari rumput untuk kambingnya yang hanya tersisa satu ekor. Satu ekor lagi terpaksa ia jual karena desakan kebutuhan. Padahal ia sangat mencintai kambing itu. Dia punya cita-cita menjadi peternak yang sukses. Namun sampai sekarang dia hanya bisa pasrah karena nasibnya juga belum berubah.
“Aku duluan, kang.”katanya ketika sampai di pertigaan. Dia ingin mencari rumput di dekat bendungan.
Aku meneruskan langkah menuju ladangku yang tinggal beberapa jengkal lagi. Tanah sisa menanam buncis kemarin sudah mulai kering karena kekurangan air. Perlahan aku turunkan cangkulku. Ku rapikan sisa tanaman buncis yang masih tersisa. Setelah bersih, aku mulai mencangkul untuk menggemburkan tanah itu. Matahari makin lama kian terik. Panasnya membuat peluhku mulai mengalir. Ketika matahari kian tinggi. Aku menghentikan pekerjaanku. Istriku datang membawakan rantang berisi nasi dan sayur serta tiga potong tempe goreng. Tak lupa ia juga membawa seceret teh manis. Anakku yang paling kecil ikut menemaninya. Ditangannya mengenggam sebotol air putih yang sekarang ia berikan kepadaku. Aku tersenyum menyambutnya. Dia kini bergelayutan di pundakku. Melihat keceriaan putri kecilku. Rasa lelah ini langsung terobati.

*** 
Langit kota Yogya begitu terik. Sudah beberapa bulan seperti itu. Namun kami patut bersyukur dilahirkan di kota sini. Desa kami berada di lereng gunung Merapi dimana air melimpah ruah. Kami tak perlu risau karena kekurangan air.
Wah, Jan. Korupsi di pol-polke,4 kata Kang Tarjo di sela-sela makan. Tangannya masih belepotan makanan. Gubuk di pinggir sawah milik Kang Tarjo cukup teduh untuk menahan kami dari panas matahari. Percakapan kami tak jauh-jauh dari kasus korupsi. Maklum, kasus itu menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Hampir sebagian orang membicarakannya. Semua orang yang mendengarnya mengeluh dan dongkol melihat sikap wakil rakyat yang tidak amanah.
“Iyo, kang. Nggawe emosi uwong wae.5kataku menimpali
 “Po wes ra ono wakil rakyat sik bener, opo?6”kata Kang Tarjo lagi
 “Yo, ono to kang Tarjo7. Makannya pemilu besok pilih wakil rakyat yang bener,”jawab Ruslan.
“Halah. Golput wae lah!4”seru Sumin.
“Hus! Ngawur kamu,”seru Kang Tarjo.
“Daripada ngga ada wakil rakyat yang bisa di percaya,”katanya protes.
Aku tidak merasa heran jika easa kepercayaan terhadap para calon wakil rakyat itu cenderung luntur. Bayangkan jika para pemilih tetap itu kebanyakan golput.  Dan yang memilih adalah golongan pendukung calon wakil raklyat saja. Mau seperti apa pemimpin kita.
“Aku pengennya ngga muluk-muluk, kang. Aku pengen kita semua ini hidup tentram dan anak kita bisa tetap sekolah. Dah itu saja cukup.”kata Kang Tarjo
“Kalau aku pengen punya ternak banyak. Coba ada bantuan dari pemerintah buat orang seperti aku ini,”kata Sumin.
“Kalau itu, sih. Aku yo pengen, Min. Aku pengennya harga sembako murah. Harga pupuk murah. Kapan ya bisa seperti itu.”kata Ruslan. Semua orang diam. Kami berada dalam kesunyian masing-masing.
“Kalau kamu apa, kang?”tanya Sumin memecah keheningan.
“Makan kenyang. Tidur pulas dan kebutuhan tercukupi.”kataku santai.
Mereka melongo.
 “Kalau itu sih semua orang juga mau.”kata Sumin.  Kami semua tertawa.
Yah. Itu saja. Impian yang sederhana. Apalagi yang diinginkan oleh rakyat kecil seperti kami. Bagi kami itu sudah cukup. Kami tak perlu harus ikut memusingkan masalah negara yang rumit dan berliku-liku. Memikirkan nasib bangsa yang seakan sudah di ujung tanduk. Aku harap sesuatu yang sederhana ini bisa diwujudkan oleh pemimpin yang akan memimpin negara ini dimasa mendatang.


catatan:
  1.   Apa sih, pak. Dari tadi marah-marah aja.
  2. Kayak gitu dipikirin, pak-pak.
  3.  Ke sawah (ladang dalam bahasa jawa biasanya penyebutannya “ngalas” juga), kang?
  4. Wah, dasar. Korupsi di besar-besarkan.
  5. Iya, Kang (Mas). Bikin emosi orang aja.
  6. Apa sudah ngga ada wakil rakyat yang benar?
  7. Ya, ada Kang Tarjo. 

I

Tuesday, January 21, 2014

YANG TERLUPA

Senja itu telah pergi. Langit sudah berselimut hitam. Tanpa bintang. Tanpa rembulan. Hanya hujan gerimis yang sesekali jatuh membasahi bumi. Aku masih duduk disini. Berkelana menjelajahi dunia yang seolah tanpa batas. Alam maya itu memang terkadang membuatku sulit untuk beranjak. Kalau sudah menjelajah rasanya mata ini tak mau berkedip walau sedetik. Ah! alangkah baiknya jika aku istirahat barang sejenak. Menikmati kesegaran teh hangat sebagai pelepas rasa dingin yang hampir menusuk tulang. 
Aku jadi teringat temanku. Teman yang sudah lama sekali tak ku temui. Terakhir aku bertemu dengannya adalah lima tahun lalu. Seluruh Contact personnya sudah tak bisa ku hubungi. Entahlah, dia bagai hilang ditelan bumi. Aku tak tahu seperti apa keadaannya sekarang. Aku harap ia bahagia. Dulu kami saling berbagi cerita. Bagiku ia pribadi yang komplit. Disatu sisi dia adalah temanku. Disisi yang lain dia bisa memposisikan dirinya sebagai kakak buatku. Dia banyak memberiku pelajaran akan arti hidup. Hidup itu tidak selamanya susah. Tidak selamanya bahagia. Keikhlasannya dalam menjalani hidup membuatku kagum. 
Dia pernah bilang padaku. 
"Tri, kisah hidupku ini kamu jadikan bahan tulisanmu saja," katanya suatu hari.
"Memangnya boleh, mba?"tanyaku
"Boleh aja. Aku malah senang."katanya
Dia ingin aku membuat tulisan tentang kisah hidupnya yang begitu menyentuh dimasa lalu. Waktu kejadian itu aku belum bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya ketika dia sudah bisa menapaki lembaran baru dalam hidupnya. Waktu itu aku begitu gembira. Tapi sayang. Aku tak jua menulisnya. Hingga tertunda begitu lama. Aku sendiri sudah lupa akan kisahnya secara utuh. Aku lupa tidak mencatatnya ulang di buku.  (Aku sudah membahasnya di tulisanku sebelumnya)
Mulai hari ini aku akan menulisnya. Walau hanya dimulai dari sepenggal kecil saja. Siapa tahu dalam perjalanannya aku bisa mengingatnya kembali. Yang pasti kebersamaan kita waktu itu masih aku ingat dengan jelas dan tak akan pernah aku lupakan. 

Apa kabar sobat
Hari ini aku goreskan penaku lagi
Sudah lama sekali
Waktu cepat sekali berlalu
Aku harap duniaku dan duniamu akan selalu bersinar
dan bahagia...

Salam rinduku untuk jagoan kecilmu
Semoga menjadi anak yang sholeh 
Aku akan selamu merindukanmu sahabatku...


Saturday, January 18, 2014

HANYA BAGAI EMBUN PAGI

Kehadiranmu mendatangkan kesejukan
Kala gersang...kala panas membakar.
Seakan segala dahaga itu hilang
Entahlah
Haruskah aku selalu merindukanmu
Aku hanya ingat kala kau datang
di waktu pagi saja.
Aku sampai lupa
kalau kau masih akan selalu ada
Aku juga tak ingin kau menghilang
Apa jadinya kalau kau hilang
Kegersangan itu pasti akan membunuhku.
Ah..
apakah aku begitu egois.


Ini puisi atau bukan ya? Ah, aku tak tahu. Yang jelas aku hanya ingin menulis apa yang terlintas di benakku saja. Karena toh aku akan selalu merindukan kehadiran embun pagi. Sebagai kesejukan di hari-hariku yang terkadang gersang. 
Satu, dua, tiga...
ayo kita menulis lagi!!!




Sunday, January 12, 2014

FATHIYA Bukan pilihan cinta

Buku ini adalah hadiah dari seorang teman. Sebenarnya dia memberiku dua pilihan buku. Mungkin karena aku lebih suka novel daripada bacaan non fiksi kali, ya. Makanya, aku memilih buku ini. Dari pertama aku melihat sampulnya, aku langsung tertarik. Aku harap isinya akan semenarik sampulnya. Ini adalah buku pertamaku disamping buku-buku sekolah. Buku inilah yang membuatku jadi kecanduan untuk membaca dan membeli buku. 
Buku ini berisi kumpulan cerpen. Pertama membacanya kita sudah dihadapkan pada kehidupan kelam seorang gadis kecil bernama Fathiya. Ia harus mengalami penyiksaan dari ayah tiri yang cemburu. Ibu kandung yang seharusnya memberinya kasih sayang justru ikut menyiksanya. Bukan hanya siksaan fisik tapi juga psikis. Dia harus kehilangan masa kanak-kanaknya dan hidupnya harus berakhir di tangan ayah tiri yang kejam. Dalam buku ini kita juga diajak menyelami ketulusan hati seorang Muhsin. Dia rela melakukan apa saja demi cinta. Meski mati sekalipun. 
Buku ini penuh dengan nuansa timur tengah yang begitu kental. Kisah kehidupan mulai dari yang manis, romantis, bahagia, mimpi, hingga keadaan yang tegang dan mencekam ada dalam buku ini.  Buku ini termasuk bacaan berat. Penulis sepertinya menyasar pada segmen orang dewasa saja. Ketika buku ini ada ditanganku, buku ini baru cetakan pertama tahun 2002 yang lalu. Bagi kalian yang penyuka sastra, buku ini bisa jadi bahan rujukan. 





Wednesday, January 08, 2014

Dari sebuah layar

Aku ingin berbagi pada saat masa-masa di tinggal suami di negeri orang. Sendirian. melewati hari tanpa canda tawanya. Aku belum terbiasa jauh darinya. Tapi, ada satu hal yang membuatku lega. Dia selalu mengabarkan keadaannya padaku. Melalui sebuah layar. Jarak itu seakan tak berarti. Aku seperti berada di depannya. Melihat senyumnya. Medengar bahwa cuaca disana begitu dingin. Meski belum hujan salju, dia harus memakai selimut berlipat-lipat. TETAP SEMANGAT!!!

Dari sebuah layar


malam yang semakin larut
detak jam dinding itu terdengar lebih jelas dari biasanya
aku tersenyum...
aku harap akan selalu seperti itu
aku bahagia...
aku harap akan selalu seperti itu juga


KEEP SMILE...


Wednesday, January 01, 2014

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

"Jika ingin menjadi penulis maka menulislah. Menulis apa saja. Apa yang terbayang di benakmu. Tuliskan saja". Agaknya kalimat itu yang membuatku mantap untuk fokus pada bidang ini. Meski untuk menjadi penulis profesional itu terbilang masih jauh sekali. Tapi...menulislah! Semangat!!!
Sebagai pembuka tulisanku aku ingin menampilkan cerpen yang aku buat. Sebenarnya ini bukan hasil karya pertamaku, berhubung yang pertama justru belum selesai juga. Alhasil aku tampilkan yang ini saja deh.
Oke, langsung di tengok saja...

Ini cerpen awalnya: ketika dunia tak sempurna

Setelah melalui beberapa masukan dari beberapa teman, akhirnya aku kembangkan cerita yang awalnya berjudul "ketika dunia tak sempurna" menjadi "SEKEPING HATI YANG TERSERAK". Sebenarnya aku ingin agar cerpen ini diberi masukan oleh sang ahli. Semoga bisa diterima baik oleh pembaca. 

SEKEPING HATI YANG TERSERAK

Orientasi mahasiswa baru memang mengasyikkan tapi juga melelahkan. Kita di tuntut untuk kreatif dan disiplin.  Asyiknya, kita bisa mengenal banyak orang. Mereka berasal  dari daerah yang berbeda. Dan aku termasuk orang yang beruntung mendapatkan teman kelompok yang kompak dan setia kawan. Waktu itu, aku harus mengurus administrasi mahasiswa baru yang belum tuntas karena hari itu adalah batas terakhirnya. Mereka bersedia menungguku sampai aku selesai mengurus administrasi. Mereka ingin agar kami sama-sama membuat tugas dari panitia orientasi untuk keesokan harinya. Kalau mereka mau, mereka bisa saja tak memperdulikanku. Toh tugas yang buat pagi hari itu bukan tugas kelompok. Aku sampai terharu. Orientasi mahasiswa baru juga suatu hal yang melelahkan. Kita diberi tugas  seabrek. Aku dan teman-teman harus berkejaran dengan waktu untuk membuatnya. Kalau tugas ngga selesai bisa berabe. Panitia bisa marah dan kita bisa di beri tugas tambahan.  Bayangkan saja. Tugas yang utamanya aja banyak, apalagi ada tugas tambahan. Tapi aku lega. Sekarang orientasi itu sudah berakhir. Serasa baru kemarin memulainya. Saat ini, aku dihadapkan pada kegiatan perkuliahan yang ternyata lebih padat. Rupanya orientasi waktu itu baru permulaan, ya.
“Dian!”seruku.
Gadis bermata indah itu menoleh. Bibirnya tersenyum melihatku. Dia memakai baju berwarna coklat tua dengan motif bunga serta memakai celana panjang berwarna hitam. Aku mengenalnya pertama kali ketika akan masuk ke kelas. Dia satu angkatan denganku. Dan kami juga mengambil jurusan yang sama. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi akrab. Kemana-mana kami selalu bersama. Bukan hanya saat di kampus saja. Di luar kampus juga. Saat pulang kuliah, kami beberapa kali menyempatkan diri naik bus jalur 12 menuju Malioboro. Melihat-lihat pernak-pernik lucu. Aneka macam baju dan sepatu unik yang tersedia di kanan dan kiri jalan di dekat Pasar Bring harjo itu begitu memanjakan mata. Belum lagi barang-barang yang di sajikan di etalase toko. Semuanya menyenangkan. Coba punya kantong tebal.  Seuntai gelang dan  gantungan kunci lucu nan unik dari ukiran kayu rasanya sudah lebih dari cukup untuk kami. Malioboro memang dijadikan tempat berbelanja sekaligus refreshing bagi warga Yogya sendiri maupun yang dari luar daerah. Kalau pintar menawar, kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah. Tak heran jika disana dijadikan destinasi wisata belanja.
“Dari mana saja? Aku cariin dari tadi.”tanyanya begitu aku sampai di depannya.
Aku tak tahu kalau ternyata dia menungguku di dekat ruang administrasi jurusan. Di sana memang ada bangku panjang serta kursi untuk duduk. Tempat itu  menjadi favorit sebagian teman satu jurusanku untuk berkumpul. Letaknya yang di pojok dan jauh dari kebisingan membuatnya nyaman untuk berbincang.
“Di lantai dua. Tadi ketemu teman dan ngobrol sebentar,”jawabku.
“Siapa?”tanyanya
“Itu. Teman satu kelompok waktu orientasi,”jawabku.
“Cowok, ya,”tanyanya menggoda.
“Cewek.”jawabku. Dian tak percaya dan terus menggodaku.
Kami lalu berjalan menuju kantin kampus. Hanya ada satu meja  yang  belum terisi. Kami lalu memesan dua porsi soto dan dua gelas es jeruk. Lumayan untuk mengisi perut yang keroncongan dan sedikit mengusir hawa panas yang sejak tadi menyerang. Aku begitu bahagia dan menikmati kegiatan perkuliahan meski itu melelahkan.

 ***
“Aku tak bisa, Ta,”kataku pada Gita. Dia mengajakku masuk ke sebuah Organisasi ekstra kampus. Gita juga satu angkatan dan satu jurusan yang sama denganku.
“Kenapa? Di sana kamu bisa dapat pengalaman baru. Banyak teman baru. Pokoknya asyik, deh.”kata Gita membujukku.
Aku masih bersikukuh. Aku tak tertarik masuk ke dalamnya. Aku tak tahu apa-apa tentang organisasi itu. Sebenarnya aku lebih tertarik masuk ke Organisasi yang satunya. Dua bulan lalu, aku pernah ikut pelatihan  Organisasi itu. Disana mengasyikkan. Pengurus disana sebagian sudah aku kenal. Salah satu dari pengurus itu bahkan menjadi pembimbingku saat Orientasi mahasiswa baru waktu itu. Jadinya, aku merasa akan lebih nyaman jika masuk ke dalamnya.

Start entri blog...

Assalamu'alaikum..

Saya masih belajar bagaimana menulis yang baik. Menuangkan rangkaian kata yang penuh makna itu sungguh sulit. Bagiku, belajar menulis yang baik bisa darimana saja. Sekarang sudah menjamur sekolah menulis baik offline maupun online. Forum seputar penulisan juga banyak. Tak ada kata terlambat untuk belajar. Di usia berapa pun, belajar adalah suatu hal yang wajib. Untuk menjadi orang yang baik dalam hal apa pun kita harus selalu belajar. Agar menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Bismillah...
Ayo kita mulai menulis...

Semangat!!!

Wassalamu'alaikum...