Aku datang saat kuncup bunga
sedang mekar. Ini adalah musim semi di korea. Pemandangan yang indah. Aku
berdiri menghadap sesuatu hal yang tak pernah terbayangkan dalam hidupku.
Kesempatan yang langka. Dan tak pernah terpikirkan kalau aku akan berdiri disini.
“Mau nyanyi lagu apa?”tanyamu.
Aku tersenyum.
“Boleh saya nyanyi lagu yang
bukan lagu anda?”tanyaku. Kamu mengerutkan kening. Lembar profilku yang ada
ditanganmu kau buka.
“Baiklah,”katamu.
Alunan suara piano mulai mengalun
indah. Suara yang ku keluarkan sepertinya membuatmu terkejut. Entah karena aku
bernyanyi bagus atau karena kau tak paham dengan bahasa yang aku gunakan. Aku
terus bernyanyi. Tak ku hiraukan wajahmu dengan ekspresi yang tidak kumengerti.
Akhirnya alunan musik itu berhenti setelah aku mengakhiri lirik lagu yang aku
nyanyikan. Semua bertepuk tangan tak terkecuali kau. Aku hanya tersenyum dan
berharap aku bisa lolos dalam audisi yang kau selenggarakan untuk penggemarmu.
Aku tak bermaksud melupakan lagumu. Aku hanya ingin menyanyikan lagu yang
sering ku nyanyikan ketika bersama teman-temanku ketika masih di negeri keduaku.
Bukan berarti aku juga tak hafal lagumu. Aku hafal. Hanya saja sejak tadi aku
hanya mendengar lagumu dari para peserta yang sebelumnya. Aku merasa, tidakkah
kamu bosan.
“Boleh aku tahu lagu apa yang kau
bawakan?”tanyanya
“Itu lagu dari penyanyi asal Indonesia,”jawabku.
Aku lalu menjelaskan artinya
dalam bahasa korea. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu menyanyikan lagu ini? Tak takutkah kau
kalau kamu tidak lolos dalam audisi ini? Hanya kamu yang menyanyikan lagu dalam
bahasa lain,”tanyamu.
“Tidak. Saya melihat tidak ada
larangan membawakan lagu dalam bahasa lain. Saya hanya ingin di nilai
berdasarkan saya menyanyi. Bukan karena saya menyanyi dengan bahasa yang saya
gunakan,”jawabku. Kamu tertegun sesaat. Lalu kamu tersenyum memandangku.
“Namamu Choi Nilam sari ajeng?
Nama yang aneh untuk seorang berwarga negara korea,”
“Itu karena Ibu saya dari
Indonesia. Ayah saya warga negara korea dengan marga Choi. Dan Nilam sari ajeng
adalah nama yang diberikan oleh Ibu saya. Jadi nama saya penggabungan
keduanya,”kataku menjelaskan. Kamu manggut-manggut.
“Kenapa kamu ngga menyanyikan
laguku?”tanyamu.
“Saya hanya ingin menyanyikan
lagu itu. Memangnya tidak boleh kalau saya bernyanyi lagu lain?”tanyaku balik.
Kamu mengerutkan kening.
“Boleh”jawabmu datar.
Kamu mungkin heran. Dari sekian
banyak peserta mungkin hanya aku yang berani bersuara jutek. Kamu lalu
berdiskusi dengan kedua juri yang lain.
“Baiklah. Tunggu hasilnya nanti,
ya,”katamu sambil tersenyum. Senyuman yang tadinya hanya bisa kulihat di
televisi dan internet. Sekarang aku bisa melihatnya dalam jarak dekat.
Aku harus menunggu sampai minggu
depan untuk melihat hasilnya.
Seminggu kemudian, aku datang ke
tempat audisi untuk mengetahui siapa yang lolos audisi. Sudah banyak para
peserta yang berkerumun. Disana juga sudah ada sebuah panggung yang tidak
terlalu besar. Aku menanti pengumuman bersama dengan kecemasanku dan peserta yang lain. Sebenarnya aku ngga begitu
percaya diri. Banyak peserta yang lebih bagus daripada aku. Tapi, harus
semangat. Kalau sudah rezeki pasti ngga akan kemana. Bayangkan saja, hadiah
kalau menang adalah sebuah rumah dan rekaman denganmu. Kapan lagi aku punya
rumah sendiri di korea. Dan rekaman! Mungkin itu impian terbesar para penggemar
untuk rekaman bareng idola. Termasuk aku.
Terlihat sang idola, Lee Jae Ho
tiba yag disambut teriakan dan sorakan. Dia hadir bersama beberapa orang dan
hanya satu orang yang menemaninya naik ke atas panggung. Para peserta mulai
menanti dengan harap-harap cemas. Ada sebuah layar monitor yang akan
menampilkan nama peserta yang lolos. Sehingga meski nanti para peserta tidak
bisa mendengar dengan jelas karena berisik tapi masih bisa melihat layar
monitor didepan. Sang pembawa acara mulai aksinya. Tak berapa lama kemudian dia
menyerahkan pegang kendali kepada Jae Ho. Jae Ho memulai dengan berbasa-basi
sebentar. Lalu mulai terdengar alunan musik yang membuat seisi ruangan histeris.
Jae Ho akan membawakan sebuah lagu dan meminta kami bernyanyi untuk mengurangi
ketegangan. Setelah kau selesai menyanyikan sebuah lagu, terdengar kata “lagi”
di teriakkan oleh penggemarmu. Kamu hanya tersenyum menanggapinya dan berkata “apa
kalian sudah tak sabar untuk mendengar hasilnya?” dan di jawab “ya” oleh kami
para peserta.
Layar monitor mulai menyala.
(1).jpg)

